Gus Ipul-Puti tunjukkan program kerakyatan di depan masyarakat

Pemilihan gubernur (Pilgub) Jawa Timur masih belum dirasakan pagelarannya oleh masyarakat. Pasangan calon (Paslon) Gubernur nomor urut dua, Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno memilih untuk terjun ke daerah-daerah memperkenalkan program kemasyarakat.

“Kami belum tahu kalau akan ada pemilihan gubernur. Kami tahu saat Gus Ipul (Saifullah Yusuf) datang ke rumah sakit Gresik,” kata Abdullah, warga Gresik. Kamis (22/2).

Abdullah menyatakan, proses pemilihan kali ini benar-benar berbeda, karena masyarakat tidak mengetahuinya. Dulu, saat kampanye masyarakat sudah mengetahui calon-calon yang maju untuk bersaing dalam pilgub. “Jujur saya tidak tahu kalau ada pilgub, saya tahu setelah bertemu dengan Gus Ipul,” ujarnya.

Ia menilai, sosialisasi yang dilakukan baik dari KPU Provinsi atau KPU daerah masih belum ada. Jadi, misalnya nanti jumlah pemilih minim maka masyarakat tidak bisa disalahkan. Seharusnya, masyarakat berikan pengertian kalau pilgub merupakan milik bersama dan menentukan kebijakan. “Saya juga belum tahu kalau KPU sosialisasi,” terang Abdullah.

Gus Ipul sapaan Saifullah Yusuf menyadari apa yang dirasakan masyarakat. Untuk itu, Wakil Gubernur Jatim ini terus berupaya untuk mensosialisasikan proses pemilihan gubernur dengan turun ke daerah-daerah. “Iya pelan-pelan, sambil jalan. Kan masih ada waktu empat bulan kedepan,” katanya.

Mantan Ketua Umum GP Ansor ini menyatakan, setiap turun ke daerah selalu menemukan masalah-masalah baru. Masalah tersebut akan diakomodir, kemudian dicarikan solusi supaya bisa ada kemajuan. Masalah-masalah tersebut, lanjut dia akan dijadikan program sebagai bentuk aspirasi yang diperoleh dari masyarakat secara langsung.

Saat ini program yang diperkenalkan Gus Ipul-Puti adalah Dik Dilan (Pendidikan Digratiskan Berkelanjutan), Satria Madura (Satu Triliun untuk Madura), Desa Cemara (Desa Cerdas Maju Sejahtera), Tebar Jala (Pusat Ekonomi Baru Jalur Selatan), dan Madin Plus Berkelanjutan. Kemudian ‘PKH (Program Keluarga Harapan) Super’, ‘Mas Metal (Masyarakat Melek Digital)’, dan ‘Seribu Dewi (Seribu Desa Wisata)’.

PKH Super diciptakan untuk melengkapi Program Keluarga Harapan (PKH) yang dikembangkan Presiden Jokowi. Kata super dibubuhkan demi memberi tambahan-tambahan layanan. Yakni, pemberian modal usaha untuk perempuan miskin melalui Jalin matra Plus, pemenuhan gizi untuk masyarakat miskin, dan Kartu Jatim Sehat bagi keluarga yang belum terlindungi jaminan kesehatan nasional.

Mas Metal merupakan komitmen Gus Ipul-Mbak Puti untuk melahirkan inovasi-inovasi digital di berbagai bidang. Antara lain pertanian, kelautan, pendidikan, dakwah, kesehatan, perdagangan, dan industri. Caranya dengan memperluas jaringan internet di Jawa Timur, memperluas literasi digital di masyarakat, hingga meningkatkan partisipasi publik untuk pengawasan tata kelola pemerintahan bersih dan transparan berbasis digital.

Seribu Dewi diluncurkan untuk memperkuat pariwisata dan mencorong terciptanya ratusan ribu lapangan pekerjaan baru. Pasangan Gus Ipul-Mbak Puti berkomitmen untuk menciptakan 1.000 desa wisata baru berbasis budaya, alam, reliji, agro, dan maritim. Juga memfasilitasi kelompok sadar wisata (pokdarwis) dengan pelatihan manajerial, digital marketing, dan akses modal usaha.

Sumber : www.merdeka.com

Penduduk Suriah ‘Mempersiapkan Diri untuk Mati’ sementara Bom Rezim Bashar terus Menghujani Ghouta Timur

Para penduduk Ghouta Timur menggambarkan sebuah “keadaan teror” di mana penduduk Suriah terus terbunuh di kantong wilayah kelompok pembebasan tersebut.

Jumlah korban tewas terbaru muncul di saat pemerintah Suriah meningkatkan operasi militernya untuk merebut kontrol wilayah yang terletak pinggiran Damaskus itu.

Sekitar 106 penduduk sipil, termasuk anak-anak, terbunuh oleh serangan udara dan mortar pemerintah Suriah pada Selasa, berdasarkan laporan badan pemantau Syrian Observatory for Human Rights (Observatorium Suriah untuk Kepala Hak Asasi Manusia /SOHR).

“Kami sedang menjadi target berbagai macam senjata. Tembakan meriam telah menarget penduduk sipil dan rumah sakit. Tidak ada tempat untuk bersembunyi,” Omran al-Doumani, seorang fotografer dari Ghouta Timur mengatakan pada Middle East Eye.

“Ghouta saat ini berada di dalam keadaan teror karena pemboman meriam yang mengerikan. Kami tidak mungkin tahu kapan ini akan berakhir.”

Para relawan medis dari Syrian Civil Defence Force (Pertahanan Sipil Suriah/SCD), juga dikenal sebagai White Helmets, mengatakan pada MEE bahwa pemerintah Suriah terus melancarkan serangan udara dan tembakan meriam pada wilayah kelompok pembebasan itu selama “30 jam tanpa henti.”

Para petugas darurat kewalahan karena bekerja tanpa henti, dan mengatakan bom-bom gentong terus berjatuhan, para penduduk mengatakan merupakan yang pertama kalinya mereka melihat senjata semacam itu digunakan di wilayah tersebut.

Penduduk Sipil menjadi target

Laporan-laporan sebelumnya oleh SCD mengindikasikan bahwa serangan udara pemerintah Suriah telah menarget wilayah pemukiman, seperti kota Arbin di Ghouta Timur.

Sirag Mahmoud, seorang awak media dari SCD di Ghouta Timur mengatakan pada Middle East Eye bahwa “tidak ada lagi tempat yang aman di Ghouta Timur.”

“Dalam 24 jam terakhir, lebih dari 100 telah terbunuh dan ratusan lainnya luka-luka,” Mahmoud mengatakan pada MEE, sementara pemboman semakin intensif di wilayahnya. “Setiap dari orang-orang ini merupakan penduduk sipil. Orang yang tidak bersalah. Apa yang mereka lakukan sehingga pantas akan hal ini?”

Penduduk lain yang berbicara pada MEE mengatakan bahwa pemerintah Rezim Suriah memiliki berbagai macam persenjataan dalam mengebom wilayah tersebut.

“Kami berada di bawah berbagai macam serangan. Serangan udara. Mortar. Mereka bahkan telah mulai menggunakan Bom Gentong di Ghouta Timur,” kata Eyad Srewel.

“Kami mencoba bertahan hidup dengan bersembunyi di bawah tanah. Tetapi bom gentong membuat kami semua sangat khawatir.”

Bom Gentong  (barrel bomb), merupakan sebuah senjata mentah yang biasa terbuat dari tabung minyak, diisi dengan bahan bakar dan pencahan peluru dan dijatuhkan melalui helikopter, telah digunakan di sepanjang negara tersebut selama beberapa tahun, dan terkenal digunakan pada pertempuran Aleppo Timur pada akhir 2016.

Dia menambahkan: “Saya tidak tahu apa yang akan terjadi padaku dalam beberapa menit, beberapa jam atau beberapa hari ke depan. Orang-orang telah menerima nasib mereka dan secara mental mempersiapkan diri untuk mati. Kami terperangkap.  Tidak ada lagi yang bisa dilakukan.”

Bom-bom menghujani wilayah pinggiran itu selama tiga hari berturut-turut dan sementara pemerintah Suriah terus melakukan pengepungan yang merampas makanan dan suplai medis para penduduk.

Laporan-laporan pada Minggu mengklaim bahwa pasukan Bashar al-Assad mengumpulkan para tentara di luar daerah kelompok pembebasan dalam upaya untuk mengambil alih daerah pinggiran Damaskus itu.

Korban sipil pada Selasa menyusul kematian lebih dari 100 penduduk sipil pada Senin, dengan ratusan lebih terluka, dalam satu hari yang menyaksikan empat rumah sakit darurat, termasuk sebuah klinik bersalin, menjadi target pasukan pemerintah, menurut laporan kelompok bantuan.

Sekitar 400.000 orang masih berada di bawah pengepungan di Ghouta Timur, termasuk ratusan orang yang sangat membutuhkan perawatan medis di luar wilayah itu.

PBB kehabisan kata-kata

Persatuan Bangsa-Bangsa telah meminta sebulan penuh genjatan senjata di seluruh Suriah agar dapat bisa menyalurkan bantuan dan evakuasi medis, tetapi tidak berhasil.

Badan pemberdayaan anak PBB, UNICEF, merilis sebuah “pernyataan” kosong pada Selasa untuk menyampaikan kemarahannya terkait korban massal dari anak-anak Suriah di Ghouta Timur dan wilayah-wilayah dekat Damaskus.

“Tidak ada kata yang pantas terkait anak-anak yang terbunuh, ibu-ibu mereka, ayah-ayah mereka dan orang yang mereka cintai,” pernyataan dari direktur regional UNICEF Geert Cappalaera memulai.

Diikuti dengan 10 garis kosong dengan tanda kutip menunjukkan kata-kata yang hilang, dan catatan penjelasan.

“UNICEF mengeluarkan pernyataan kosong ini. Kami tidak lagi mempunyai kata-kata untuk menjelaskan penderitaan anak-anak dan kemarahan kami,” katanya.

“Apakah orang-orang yang menimbulkan penderitaan ini masih memiliki kata-kata untuk membenarkan aksi barbar mereka?”

Sumber : www.hidayatullah.com

Novel Pulang ke Indonesia akan Tiba Kamis Siang ini

Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, sesuai rencana akan pulang ke Indonesia dan tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta (Soetta), Cengkareng, Tangerang, Banten.

Berdasarkan informasi dari sahabatnya, Dahnil Anzar Simanjuntak, Novel akan tiba di Bandara Soetta pada Kamis (22/01/2018) siang ini.

“(Tiba) jam 11, (Terminal) 3,” ujar Dahnil, Kamis pagi, kepada hidayatullah.com saat dikonfirmasi melalui pesan singkatnya di WhatsApp.

Sebelumnya, Dahnil mengatakan, meskipun kondisi Novel belum sembuh setelah diserang air keras hampir setahun lalu, tapi Novel tetap berkeinginan untuk pulang. Dahnil menjalani perawatan mata di Singapura akibat kasus penyerangan itu.

Kata Dahnil, Novel mengajak untuk terus berbaik sangka kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

“Apa pun yang sedang dan akan kita alami, dan terus merawat semangat melawan praktik korupsi yang telah merusak negeri ini,” pesan Novel disampaikan Dahnil yang juga Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah kemarin.

Sumber : www.hidayatullah.com

Kepemimpinan Perguruan Tinggi Islam

DALAM berbagai kesempatan seminar atau kuliah umum, saya menyampaikan satu penyataan, bahwa dalam kurun waktu 25-30 tahun belakangan, telah terjadi kebangkitan sekolah-sekolah Islam di Indonesia. Itu terjadi khususnya pada lembaga pendidikan tingkat TK, dasar, dan menengah.

Kini dapat disaksikan, di berbagai pelosok daerah, banyak kalangan menengah muslim tidak segan-segan menyekolahkan anaknya ke sekolah-sekolah Islam, bahkan ke pondok-pondok pesantren. Tak jarang, mereka rela meninggalkan kesempatan untuk memasuki sekolah-sekolah negeri. Bagi sebagian orang, masuk ke sekolah Islam, dengan membayar mahal pun, tak jadi soal.

Tetapi kepercayaan seperti itu belum dinikmati Perguruan Tinggi Islam (PTI). Sejauh informasi yang saya terima, hingga kini, murid-murid pintar lulusan SMA sekolah-sekolah Islam unggulan, belum menjadikan Perguruan-perguruan Tinggi Islam, sebagai tujuan utama kuliah utama mereka.

Berbagai SMA Islam masih memasang ‘promosi’, bahwa sekian persen lulusan mereka diterima di berbagai Perguruan Tinggi Favorit. Yang dimaksud ‘favorit’ adalah semisal UI, ITB, UGM, IPB, Unair, Undip, Unpad, dan sebagainya. Sejumlah universitas Islam kini menduduki ‘peringkat atas’; masuk 50 besar universitas terbaik di Indonesia, versi sejumlah lembaga pemeringkat.

Dari segi pemilihan jurusan (Program Studi) belum ada pergeseran yang signifikan dalam hal minat calon mahasiswa. Kedokteran Umum masih menduduki peringkat tertinggi. Biasanya disusul Teknologi Informasi, Ekonomi, dan seterusnya. Hingga kini, bidang Keguruan dan Pendidikan belum menjadi tujuan utama para murid-murid SMA terbaik secara akademik. Mungkin ada pemenang olimpiade matematika internasional yang mendaftar menjadi mahasiswa Fakultas Tarbiyah di satu PTI, tetapi saya tidak tahu. Wallahu A’lam.

Padahal, jika dicermati, kini banyak sekali sarjana lulusan UI, ITB, IPB, dan sebagainya, yang memilih berprofesi sebagai guru. Bahkan tidak sedikit para insinyur dan pakar ekonomi yang aktif bergelut dalam bidang pendidikan. Dan mereka terbukti sukses mewujudkan dan mengelola berbagai lembaga pendidikan Islam terkenal.

Mengapa sekolah-sekolah Islam bangkit dan menjadi tujuan utama para murid muslim yang pintar-pintar? Jawabnya sederhaha. Sebab, sekolah-sekolah Islam itu berbenah dengan serius meningkatkan kualitasnya. Mereka bukan hanya memasang target kompetensi keunggulan akademik, tetapi juga kompetensi iman, taqwa, dan akhlak mulia. Sebagian sekolah, menambah dengan kompetensi hafalan al-Quran. Intinya, ada ‘nilai jual’,  ada ‘distingsi’ atau ‘keunikan’, yang bersifat Islami, yang ditawarkan oleh sekolah-sekolah Islam.

Urgensi Kebangkitan PTI

Kebangkitan sekolah-sekolah Islam itu kini telah meluluskan ribuan murid-murid SMA muslim yang berkualifikasi tinggi, baik secara akademik atau pun secara akhlak. Tidak sedikit dari mereka yang juga sudah hafal al-Quran 30 juz.  Sepatutnya, para murid terbaik itu melanjutkan pendidikan mereka ke PTI, agar pembinaan intelektual, keimanan, ketaqwaan, seta akhlak mereka terus berjalan dengan baik.

Tetapi, realitasnya, hingga kini, di kalangan orang tua dan para murid lulusan SMA, masih banyak muncul pertanyaan: di kampus mana di Indonesia, kita bisa mendidik anak-anak kita untuk menjadi ahli Tafsir al-Quran, ahli ilmu fiqih, ahli sejarah Islam, ahli sains Islam, ahli psikologi Islam, dan sebagainya? Dimana kita mengirim anak-anak kita untuk dididik menjadi wartawan muslim yang tangguh? Kemana kuliahnya, seorang yang ingin menjadi pejuang profesional di bidang hukum? Bahkan, kemana kuliahnya, jika kita ingin mendidik anak-anak kita menjadi guru pejuang yang hebat?

Patut disyukuri, kini sejumlah universitas Islam telah menempati jajaran perguruan tinggi elite di Indonesia. Beberapa prodi mereka diserbu calon mahasiswa. Beberapa universitas Islam kini memiliki jumlah mahasiswa lebih dari 20 ribu orang. Jumlah yang fantastis!

Semua prestasi dan kepercayaan itu patut disyukuri. Itu amanah! Namun, tantangan tidak berhenti sampai disitu. Sebab, tujuan terpenting pendidikan dalam Islam, dan juga dalam ketentuan UUD 1945 serta UU Pendidikan Tinggi (UU No 12 tahun 2012) adalah pengembangan potensi mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa.

UUD 1945 pasal 31 (c) pun menegaskan: “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.”

Jadi, merujuk kepada UUD 1945 dan UU Pendidikan Tinggi, aspek iman, taqwa, dan akhlak mulia sepatutnya menjadi tekanan utama proses pendidikan di seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia, khususnya di PTI.  Itu tataran normatifnya. Maka, sepatutnya, tujuan pendidikan itu dijabarkan dalam kurikulum, program pendidikan, dan evaluasi pendidikan. PTI sepatutnya menjadi pelopor dalam hal ini.

Mahasiswa muslim PTI yang akan ujian skripsi, misalnya, harus diuji aspek iman, taqwa, dan akhlaknya. Bukan hanya diuji kualitas akademiknya. Lucu, jika ada mahasiswa muslim lulus sarjana dari suatu PTI, tetapi tidak bisa membaca al-Quran dengan baik. Lebih parah, jika ia lulus sarjana, tetapi tidak disiplin dalam menjalankan salat lima waktu, atau jahat akhlaknya. Padahal, PTI tersebut memasang slogan-slogan indah dalam bentuk perumusan visi-misi kampus yang ideal.

Peringatan Allah Subhanahu Wata’ala dalam al-Quran sangat keras: “Wahai orang-orang yang beriman,  mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu lakukan? (Itu) sangatlah dibenci oleh Allah, jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan!” (QS 61:2-3).

Era 25 tahun kedua

Menyusul era 25 tahun pertama, berupa Kebangkitan Pendidikan Islam di peringkat dasar dan menengah, maka saya pikir, perlu dicanangkan sebuah tekad mulia untuk mencanangkan 2020-2045 sebagai era Kebangkitan Perguruan Tinggi Islam (PTI) di Indonesia. Itulah era 25 Tahun Kedua Kebangkitan Pendidikan Indonesia.

Kebangkitan itu harus berpijak pada landasan dan konsep yang kokoh dalam pendidikan Islam, yakni penanaman adab dan pencapaian ilmu yang gemilang. Proses penanaman nilai-nilai keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia, dalam tradisi pendidikan Islam disebut sebagai proses penanaman adab (inculcation of adab). Itulah hakikat dan inti pendidikan dalam Islam, sebagaimana dipaparkan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam Konferensi Pendidikan Islam Internasional pertama di Makkah, 1977.

Sumber : www.hidayatullah.com

Akhir Zaman Ditandai Kehancuran Institusi Ekonomi Kapitalis Ribawiyah

KONDISI pada saat keluarnya Al-Mahdi adalah fase dimulainya kehancuran ekonomi Barat yang bercorak kapitalis, di mana sistem ekonomi ribawiyah merupakan salah satu pilar penting bagi tegaknya sistem ekonomi ini.

Dalam era globalisasi, sistem ekonomi ribawiyah di segenap negara-negara dunia telah membentuk suatu jaringan yang saling bergantung secara sempurna. Masyarakat dunia melakukan transaksi dengan bank-bank ribawiyah; sistem perbankan ribawiyah di setiap negara melakukan transaksi dengan bank sentral negara tersebut maupun dengan institusi-institusi ribawiyah di luar negeri.

Bank sentral negara tersebut melakukan pinjam-meminjam dengan institusi-institusi ribawiyah internasional, semacam Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, maupun pinjaman antar-negara secara ribawiyah.

Di antara bentuk saling ketergantungan yang sangat intensif terlihat dari beroperasi bank-bank asing di suatu negara hingga ke sejumlah provinsi di negara tersebut, baik berupa bank dengan seratus persen modal asing maupun bank dalam bentuk usaha patungan dengan pengusaha lokal.

Di dalam keragaman bentuk saling ketergantungan ini terlihat dari bank-bank suatu negara melakukan bisnis reksadana dengan portofolio berupa saham, obligasi, dan berbagai mata dagangan lainnya dari negara-negara lainnya. Misalnya, sebuah bank di Italia menjual surat berharga pemerintah Argentina, sebuah bank di ibu kota provinsi di Indonesia menjual saham perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa saham New York, dan lain sebagainya.

Tampak bahwa hal itu semakin menyempurnakan saling ketergantungan dalam sistem ekonomi ribawiyah, sedang posisi Amerika dalam hal ini adalah sebagai penggerak sistem perekonomian dunia. Praktis pertumbuhan perekonomian dunia bergerak sesuai dengan kebijakan yang diambil Gubernur Bank Sentral Amerika.

Maka, ketika gempa moneter raksasa benar-benar terjadi dan meruntuhkan Amerika sebagai pilar penyangga jejaring sistem ekonomi ribawiyah-spekulatif global, segenap bentuk kekayaan yang tersangkut pada jejaring tersebut hingga ke pelosok bumi yang paling terpencil pun secara teknis akan ikut hancur tersapu gelombang tsunami moneter dengan suatu kehancuran yang sempurna! Hasil akhirnya adalah kemelaratan dan kehebohan luar biasa yang menghampiri segenap negeri di dunia tanpa terkecuali.

Orang-orang yang paling beruntung ketika itu adalah mereka yang terbebas dari sistem ekonomi ribawiyah-spekulatif, atau mereka yang tidak memiliki apa-apa; tidak ada kegelisahan, tidak ada kesedihan.

Hubungan dengan kemunculan Al-Mahdi adalah bahwa fase kehancuran ekonomi kapitalis ribawiyah ini akan mengawali kehancuran dunia secara umum. Dapat kita bayangkan jika akhirnya masyarakat seluruh dunia harus kesulitan untuk mendapatkan kebutuhan pokok karena tidak beroperasinya pabrik-pabrik yang memproduksi seluruh kebutuhan mereka (disebabkan runtuhnya fondasi ekonomi mereka), maka jalan menuju kemiskinan dan kehancuran total telah terbentang di depan mata.

Ketika pabrik-pabrik industri, mesin-mesin produksi, teknologi transportasi, termasuk mal-mal dan pusat perbelanjaan yang harus berhenti beroperasi karena berhentinya kuncuran kredit disebabkan kehancuran pusat ekonomi dunia, maka secara otomatis akan berhenti pula roda perekonomian rakyat.

Manusia tidak lagi mendapatkan apa yang menjadi kebutuhan mereka. Sebab, mereka selama ini telah terkondisi untuk mengonsumsi sesuatu yang bersifat instan, dan mereka harus kembali lagi ke cara-cara tradisional dan manual untuk memenuhi kebutuhan mereka. Padahal lingkungan mereka sudah tidak mendukung untuk tersedianya beragam kebutuhan itu.

Begitulah masa-masa sulit yang akan dihadapi oleh manusia sebelum kemunculan Dajjal.

Sumber : www.hidayatullah.com

Kecelakaan Beruntun Proyek Infrastruktur, ICMI: Audit Menyeluruh

Menurut Priyo Budi Santoso, salah satu nilai lebih dari pemerintahan saat ini yaitu masifnya pembangunan infrastruktur.

Menurut Wakil Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) ini, hal itu harus diakui, meskipun fakta lainnya tidak bisa dipungkiri bahwa ada kesenjangan sosial yang melebar, terjadi pada pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK).

“Jika hal yang diakui jempol tadi tidak segera diimbangi dengan penataan ekonomi yang baik, tetap aja menjadi resiko untuk pemerintahannya, karena masyarakat juga, kan, menilai dari sisi tersebut,” ujarnya kepada wartawan usai acara di kantor ICMI, Jl Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (21/02/2018).

Priyo pun menyinggung insiden rubuhnya tiang pancang pada proyek kontruksi pembangunan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) di Jl DI Panjaitan, Jakarta, Selasa (20/02/2018). Ia mengatakan, secara teori kontruksi harus aman karena merupakan hal yang paling mendasar.

“Kalau Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menghentikan proyek tersebut, saya mengapresiasi dan segera dilakukan audit secara total dan menyeluruh terhadap masifnya pekerjaan kontruksi di berbagi daerah di Indonesia,” tandasnya.

Ia menilai berbahaya jika proyek pembangunan infrastruktur dikerjakan terburu-buru alias “kejar tayang”. “Hal ini membahayakan,” tegasnya.

Sumber : www.hidayatullah.com

TGB: Tokoh Agama Harus Dipastikan Keamanannya

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang (TGB), Muhammad Zainul Majdi, prihatin dengan kekerasan yang menimpa tokoh agama Islam maupun non-Islam.

TGB menilai kekerasan ini berbahaya jika dibiarkan.

“Kekerasan kepada siapapun tidak boleh terjadi,” tegasnya kepada para wartawan termasuk hidayatullah.com usai acara pembentukan Aliansi Strategis antara alumni Universitas Al-Azhar Mesir dan Serikat Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (21/02/2018) di Sofyan Hotel Betawi, Jakarta.

Ia mengatakan, tokoh agama punya peran yang sangat strategis dalam menjaga keutuhan bangsa dan juga berperan sentral dalam menjaga kohesivitas sosial masyarakat.

Kalau mereka tidak aman dan nyaman, sambungnya, maka mereka tidak bisa maksimal menjalankan fungsi sosial dan keagamaannya.

“Jadi harus dijaga betul keselamatannya,” ucapnya.

“Bisa dibayangkan kalau tiba-tiba misalnya pastur enggak ada yang mau kasih misa gara-gara enggak aman, ustadz-ustadz enggak ada yang mau pengajian, lalu apa yang terjadi? Kan, pasti keresahan merebak, ketidaktenangan,” ungkapnya.

Karena itu menurutnya para tokoh agama harus dipastikan keamanannya.

TGB meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas pelaku kekerasan pada tokoh agama.

Aparat juga ia minta menjawab pertanyaan dari masyarakat tentang siapa di balik skenario ini.

Jangan didiamkan. Itu akan menimbulkan spekulasi yang jauh lebih buruk, kata TGB. “Kalau memang ada skenario, harus diungkap, dikejar, ditangkap, dan diadili. Supaya masyarakat tahu dan memiliki kepercayaan pada penegakan hukum.”

Sumber : www.hidayatullah.com

Berniatlah untuk Melakukan Suatu Amalan Baik

SETIAP mukmin yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Allah, mendapatkan kedudukan yang dekat kepada-Nya, dan beroleh kemuliaan dan tempat kediaman di sisi-Nya, hendaknya bersungguh-sungguh berdaya upaya meraih semua keutamaan yang bersifat keagamaan serta kebaikan-kebaikan ukhrawi yang diketahuinya. Hendaknya ia juga benar-benar mengamalkannya sejauh tidak terhambat oleh tiadanya kesempatan ataupun kemampuan.

Di antara fadha’il (fadhilah-fadhilah) dan amal-amal khair (kebaikan) ada yang dapat dikerjakan oleh setiap orang, seperti shalat-shalat sunnah, puasa-puasa sunnah, tilawah Al-Quran, zikir, dan lain sebagainya. Ada lagi yang tidak mampu atau tidak sempat mengerjakannya kecuali beberapa orang saja. Ada pula fadha’il yang sebagian dari kaum mukmin mampu mengerjakannya, tetapi terhalang karena mereka sedang sibuk mengerjakan suatu fadhilah atau amal khair yang lebih utama dan lebih wajib bagi mereka, dan di samping itu tak ada kemungkinan mengerjakan keduanya dalam saat yang bersamaan.

Oleh sebab itu, setiap kali Anda mendengar tentang sesuatu fadhilah atau amal khair apa pun, yang Anda sendiri tak memiliki kemampuan atau kecakapan untuk mengerjakannya –atau Anda mampu mengerjakannya tetapi Anda harus meninggalkan suatu amal khair lainnya yang lebih utama dan lebih baik untuk Anda– hendaknya Anda meniatkan dengan tulus amal khair tersebut meski Anda belum bisa mengerjakan atau terlibat di dalamnya.

Selanjutnya, jika Anda tak pandai atau tak sempat mengerjakan amal khair –atau Anda pandai mengerjakannya tetapi tak ada kesempatan untuk itu kecuali apabila Anda meninggalkan pekerjaan yang lebih utama dan lebih baik untuk Anda sendiri– hendaknya Anda berazam mengerjakannya segera setelah Anda beroleh kesempatan. Dengan demikian, dengan niat kuat yang baik tersebut, Anda akan termasuk dalam kelompok orang yang mengerjakannya dan memerhatikannya. Sebab, niat seorang mukmin lebih utama daripada amalnya, dan adakalanya niatnya itu akan menyampaikannya ke tingkatan yang justru tak dapat dicapai oleh amalannya.

Sebagai misal, pada suatu saat, Anda mendengar tentang keutamaan-keutamaan jihad fi sabilillah, sedangkan Anda tak mampu atau tak sempat mengerjakannya. Atau, tentang keutamaan-keutamaan (fadha’il) sedekah dan memberi makan orang miskin, sedangkan Anda tak memiliki kemampuan untuk itu disebabkan kemiskinan atau sedikitnya harta milikAnda. Atau, tentang fadha’il dalam pemerintahan yang adil atau menegakkan amr bi al-ma’ruf wa nahi ‘an al-munkar, sedangkan Anda tak mampu untuk itu karena tak memiliki jabatan kekuasaan atau kekuatan, maka dalam keadaan-keadaan seperti itu hendaknya Anda niatkan sekiranya ada kemampuan dan kesempatan, niscaya Anda mengerjakan amal-amal khair tersebut, serta akan berusaha sungguh-sungguh dan mencurahkan segala daya upaya dan kecakapan sepenuhnya untuk itu.

Selain dari itu, sudah seharusnya pula Anda memberikan bantuan kepada orang-orang yang mengerjakan fadha’il ini serta kewajiban-kewajiban keagamaan lainnya sesuai dengan kemampuan Anda walaupun –paling sedikit– dengan mendoakan mereka, juga dengan mencintai mereka mengingat tugas keagamaan yang mereka laksanakan demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sepatutnya pula Anda tak segan-segan mengajak, mengimbau, dan memberi semangat kepada mereka agar dapat melaksanakan tugas-tugas dan amal-amal saleh yang sedang mereka tangani itu dengan cara sebaik-baiknya sehingga dengan begitu, terbukalah kemungkinan bagi Anda memperoleh pahala besar seperti pahala yang mereka peroleh. Hal ini sebagaimana tersebut dalam sabda Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam:

Orang yang menunjukkan jalan ke arah amal khair sama seperti orang yang mengerjakannya.” (HR Al-Bazzar dari Ibn Mas’ud).

Sabda beliau pula:

Barang siapa menyeru pada jalan kebaikan, niscaya ia memperoleh pahala sebanyak pahala-pahala semua orang yang mengikutinya, sementara hal itu tidak mengurangi sedikit pun pahala-pahala untuk mereka.” (HR Ahmad dan Al-Thurmudzi dari Abu Hurairah).

Kemudian, apa saja amal-amal khair yang Anda dapat kerjakan pada waktu yang bersamaan, kerjakanlah. Apa yang tidak dapat Anda gabungkan, pilihlah yang lebih afdhal dan lebih sempurna sesuai dengan kemampuan dan kesempatan Anda sendiri. Dan, apa saja yang tidak dapat Anda kerjakan, hendaknya Anda memiliki niat baik untuk sewaktu-waktu melaksanakannya apabila keadaan telah memungkinkan seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Di antara amal-amal kebaikan ada yang tidak mengandung bahaya sejak awal maupun sampai akhir, misalnya mempelajari ilmu yang bermanfaat, memperbanyak shalat, puasa sunnah, dan sebagainya. Amal-amal khair seperti itu hendaknya Anda berusaha dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya dengan segala kemungkinan dan kemampuan.

Tetapi, di antara amal-amal kebaikan ada pula yang mengandung bahaya dan kekhawatiran terjerumus dalam kejahatan dan pantangan-pantangan bagi orang yang terlibat di dalamnya. Yaitu, seperti jabatan-jabatan kekuasaan pemerintahan dan yang berkaitan dengan keuangan, serta lain-lainnya yang serupa dengan itu. Seorang yang berakal dan bijaksana sebaiknya tidak melibatkan diri atau berusaha mendapatkan jabatan-jabatan seperti itu. Sebab, dikhawatirkan apabila ia memperoleh sesuatu darinya, justru akan mendatangkan kebinasaannya seperti yang telah terjadi pada banyak orang yang melibatkan diri dalam jabatan-jabatan tersebut. Sehingga, hilanglah agama dan dunia mereka, dan terjerumuslah mereka ke dalam jurang kemurkaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Oleh sebab itu, sehubungan dengan fadha’il yang mungkin diraih oleh orang-orang yang beroleh taufik Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menangani jabatan-jabatan kekuasaan dan keuangan itu dengan baik, cukupkan diri Anda dengan niat yang baik saja antara Anda dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala andaikata Anda meraih sebagian dari jabatan itu atau ditunjuk untuk menduduki posisi-posisi itu, Anda berjanji akan mengelolanya demi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan melaksanakannya demi mencapai keridhaan-Nya serta mendekatkan diri kepada-Nya. Cukup itu saja bagimu dan mudah-mudahan Anda beroleh pahala dengan niat yang tulus dan baik itu seperti yang didapat oleh pelaksana jabatan-jabatan tersebut –yang mengelolanya demi Allah– seraya terhindar dari bahaya dan cobaan-cobaan padanya.

Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada seorang sahabatnya:

Jangan sekali-kali meminta suatu jabatan kepemimpinan. Sebab, apabila Anda mendapatkannya berdasarkan permintaan Anda, akan beratlah tanggung jawab Anda. Namun, jika hal itu diberikan tanpa permintaan dari Anda, niscaya Allah akan memberikan bantuan-Nya kepada Anda.” (HR Muslim dari ‘Abdurrahman bin Samurah)

Demikian pula kisah yang masyhur tentang Tsa’labah yang meminta Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam mendoakan dirinya agar Allah memberinya banyak rezeki, harta yang berlimpah, untuk ia sedekahkan nantinya dan berbuat kebajikan dengannya. Namun, ketika hal tersebut dikabulkan, ia mengingkari janjinya sehingga ditimpa murka Allah.

Berkenaan dengan itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan firman-Nya:

Dan, di antara mereka ada yang membuat perjanjian dengan Allah, ‘Jika Allah memberikan karunia-Nya kepada kami, pastilah kami memberi sedekah dan masuk golongan orangyang saleh.’ Tetapi, setelah datang kepada mereka karunia Allah, mereka menjadi kikir dengan karunia itu, berpaling dan menolak memenuhi janjinya. Maka, Allah menghukum mereka disebabkan kemunafikan dalam hati mereka, sampai hari mereka bertemu dengan Allah, karena mereka melanggar apa yang mereka janjikan kepada-Nya dan berdusta.” (QS Al-Taubah [9]: 75-77).*Al-‘Allamah ‘Abdullah Al-Hadad, dikutip dari bukunya Meraih Kebahagiaan Sejati.

Sumber : www.hidayatullah.com

Catatan dari Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa

TANGGAL 8- 10 Februari 2018 telah berlangsung Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa yang diselenggarakan di Hotel Grand Sahid Jakarta, yang  dinisiasi dan dimotori oleh Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban.

Tidak kurang dari 450 orang yang hadir dalam musyawarah ini, yang merepresentasikan enam agama yang diakui di Indonesia, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghuchu.

Dari kalangan Islam terlihat ada yang mewakili Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat dan MUI provinsi, pimpinan ormas Islam, para tokoh Islam dan cendekiawan Muslim, dan sejumlah utusan perguruan tinggi Islam.

Tak kurang wakil dari pimpinan organisasi Front Pembela Islam (FPI) hadir dalam pertemuan ini. FPI sengaja disebut khusus di sini karena organisasi ini sering menerima stigma negatif dari beberapa kalangan.

Dari kelangan selain Islam yang datang kebanyakan adalah para pemimpin agama seperti pendeta, pastor, pedande, dan pimpinan majelis-majelis agama, baik di pusat maupun di provinsi.

Ada sejumlah isu fundamental, krusial, dan strategis yang dibahas dalam musyawarah ini yang oleh steering committee dikelompokkan ke dalam tujuh pokok bahasan antara lain: Pandangan dan sikap umat beragama tentang NKRI berdasarkan Pancasila, pandangan dan sikap umat beragama tentang Bhinneka Tunggal Ika, pandangan dan sikap umat beragama tentang pemerintahan yang sah hasil pemilihan umum yang demokratis, prinsip-prinsip kerukunan antar umat beragama, etika kerukunan intra agama, penyiaran agama dan pendirian rumah ibadah, dan rekomendasi faktor-faktor non agama yang mengganggu kerukunan antar umat beragama.

Pada pertemuan ini sama sekali tidak ada nara sumber, semua pokok bahasan itu dikaji sendiri oleh peserta melalui serangkaian diskusi-diskusi.

Mula-mula ke tujuh pokok bahasan tersebut dibahas di intern masing-masing agama yang menghasilkan tujuh kelompok rumusan yang berasal dari  masing-masing agama. Hasil rumusan dari masing-masing agama terhadap tujuh pokok bahasan tersebut disampaikan dalam sidang pleno oleh wakil masing-masing agama yang kemudian diikhtisarkan oleh tim perumus yang anggotanya berasal dari wakil masing-masing agama.

Hasil dari rumusan yang dibuat tim perumus ini kemudian dibahas kembali dalam sidang kelompok yang selanjutnya disampaikan dalam sidang pleno.

Rumusan terakhir dari sidang pleno inilah yang dilaporkan kepada Presiden.

Rumusan terakhir ini berisi hal-hal yang telah disepakati oleh semua wakil-wakil dari masing-masing agama terhadap tujuh pokok bahasan di atas. Adapun terhadap hal-hal yang tidak disepakati oleh para peserta yang berasal dari masing-masing wakil agama, telah sepakat di awal pertemuan untuk tidak dimasukkan ke dalam rumusan terakhir ini.

Tanggapan Kelompok Kristen

Ada banyak dinamika dalam musyawarah ini dalam hubungannya dengan kesepakatan-kesepakatan. Ada yang lancar dan langsung menjadi kesepakatan, ada yang melalui proses alot tetapi kemudian bisa disepakati, dan ada yang sampai di akhir pertemuan tidak bisa disepakati. Pada pokok bahasan pertama misalnya dalam kaitannya dengan sikap umat beragama tentang NKRI berdasarkan Pancasila, kalangan Islam telah menghasilkan kesepakatan rumusan salah satunya sebagai berikut:

Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa menjiwai sila-sila yang lain, merupakan unsur asasi dalam berbangsa dan bernegara. Maka agama harus dijadikan sumber hukum, sumber inspirasi, landasan berfikir, dan kaedah penuntun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga tidak terjadi benturan antara kerangka berfikir keagamaan dan kerangka berfikir kebangsaan.

Dengan demikian setiap Muslim yang menjalankan agamanya secara otomatis telah melaksanakan Pancasila.

Rumusan di atas mendapat tanggapan keras khususnya dari kalangan Kristen Protestan yang diikuti oleh utusan dari Hindu. Kalangan Kristen dengan bernada curiga mempertanyakan kalimat:  “Agama harus dijadikan sumber hukum, sumber inspirasi, landasan berfikir, dan kaedah penuntun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara”.

Menanggapi hal itu pimpinan steering committee Prof. Din Samsuddin menengahi, bahwa yang dimaksud adalah spirit agama yang berupa nilai-nilai moral haruslah menjadi landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tampaknya penjelasan dari Prof. Din Samsuddin belum bisa memuaskan dari kalangan Kristen, sehingga saat pembahasan di tim perumus hal ini muncul kembali.

Penulis yang menjadi salah seorang dari anggota tim perumus mewakili Islam menyampaikan, bahwa yang dimaksud bukanlah ingin menjadikan Negara Islam.

Dalam hal ini tidak perlu ada kecurigaan. Yang dimaksudkan dari redaksi ini bagaimana nilai-nilai Pancasila yang sebenarnya diserap dari nilai-nilai agama dijadikan landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta dalam perumusan kebijakan, termasuk peraturan perundang-undangan. Sehingga tidak terjadi ada peraturan yang mencederai agama, misalnya peraturan yang melegalkan pernikahan sejenis yang ditolak oleh semua agama atau melegalkan pernikahan beda agama yang mencederai Islam. Sekalipun penjelasan ini bisa meredakan ketegangan, namun rumusan ini pada akhirnya tetap tidak bisa menjadi kesepakatan tim perumus untuk dimasukkan dalam draf keputusan, sehingga tidak sampai dibawa kembali ke sidang pleno.

Mayoritas-Minoritas

Persoalan lain yang menjadi perdebatan adalan soal istilah mayoritas dan minoritas. Dalam rumusan pokok bahasan ke empat, dari kalangan Islam menyampaikan bahwa kenyataan sosiologis umat Islam adalah mayoritas. Namun demikian juga disampaikan bahwa mayoritas tidak boleh bertindak sewenang-wenang, baik dalam lingkup mayoritas lokal maupun mayoritas dalam arti secara nasional. Ditegaskan pula dalam rumusan kelompok Islam, bahwa mayoritas harus melindungi minoritas. Usulan ini mendapat dukungan dari kalangan Katolik yang menambahkan dengan rumusan, bahwa yang minoritas pun harus tahu diri sehingga menghormati mayoritas. Rumusan ini mendapat penentang keras dari wakil kalangan Budha yang kebetulan dari etnis Tionghoa. Mereka menolak termonologi mayoritas dan monoritas, tidak hanya itu mereka juga menolak penyebutan etnis, seperti etnis Tionghoa, karena menurut mereka hal ini menjadi sumber terjadinya diskriminasi.

Sumber : www.hidayatullah.com

Makna dan Urgensi Ukhuwwah Islamiah

MASJID milik Muhammadiah dibakar di Bireuen, Aceh. Begitulah topik berita yang menjadi pembicaraan hangat di berbagai media sosial dan online selama beberapa waktu yang lalu. Menurut salah satu media online, “Balai dan tiang-tiang cakar ayam pembangunan masjid At-Taqwa Muhammadiyah Sangso, kecamatan Samalanga, kabupaten Biereun dibakar sekelompok massa pada hari Selasa (17/10/2017) sekitar pukul 20.00 WIB.

Pelaku pembakaran ini belum diketahui pasti. Namun sebelumnya, pembangunan masjid ini mendapat penentangan dari kalangan dayah yang ada di Samalanga yang menyebut dirinya aswaja ketika akan dimulainya pembangunan masjid dengan menghadirkan Prof. Dr. Din Samsuddin pada Idul Adha lalu.” Demikian berita dari media tersebut.

Berita ini menjadi viral dan topik hangat pembicaraan di media sosial dan online, baik lokal maupun nasional. Bahkan PP Muhammadiah telah membuat jumpa pers dan sikap pernyataan resmi terkait persoalan ini.

Tentu saja aksi ini menuai kecaman dari berbagai elemen masyarakat dan ormas-ormas Islam baik di Aceh maupun nasional. Kejadian ini sangat memprihatinkan kita. Kita patut mengecam perbuatan para pelaku tersebut. Ini tindakan kriminal karena telah merugikan pihak lain. Aksi ini juga telah melukai hati umat Islam khususnya warga Muhammadiah dan merusak ukhuwwah islamiah.

Perbuatan buruk ini juga telah menodai syariat Islam di Aceh dan mencoreng nama Aceh. Sangat memalukan. Ini menunjukkan pelanggaran syariat dan sikap intoleran yang dilakukan oleh kelompok tertentu terhadap kelompok yang berbeda mazhab Fiqh.

Sepatutnya, aksi intoleran dan anarkhis tidak boleh terjadi di manapun, terlebih lagi di Aceh. Mengingat Aceh merupakan daerah yang menerapkan syariat Islam secara formal di Indonesia. Dalam syariat Islam, tidak dibolehkan membakar bangunan atau balai milik orang lain. Hukumnya jelas haram (dosa besar). Apalagi yang dibakar itu masjid.

Aksi ini tidak dibenarkan dalam agama dan hukum yang berlaku di Indonesia. Oleh karena itu, para pelaku aksi pembakaran ini harus ditangkap dan diproses hukum serta diberi hukuman yang tegas. Agar ada efek jera terhadap pelaku dan menjadi pelajaran sehingga tidak terulang lagi kejadian seperti ini.

Kasus intoleran dan anarkhis bukan yang pertama kali terjadi di Aceh. Sebelum ini, terjadi aksi penolakan terhadap pembangunan masjid  Muhammadiah di Juli, Biereun. Begitu pula aksi perusakan dan penolakan terhadap ma’had yang dituduh wahabi, menyesatkan seseorang dan kelompok tertentu dengan tuduhan wahabi, penurunan paksa khatib dari mimbar, penolakan shalat jumat di masjid yang berdekatan, dan perebutan masjid-masjid yang pengurusnya dituduh wahabi, termasuk masjid Raya Baiturrahman yang bersejarah dan menjadi ikon masjid seluruh Aceh.

Masjid-masjid tersebut dipaksa model ibadah tertentu. Khatib diinterupsi dan diturunkan dari mimbar dengan paksa hanya gara-gara tidak pakai tongkat dan tidak muawalat. Bahkan ada khatib yang dipukul ketika sedang berkhutbah. Kasus-kasus tersebut hanya terjadi di Aceh, tidak ada di daerah lain di Indonesia dan di negara mana pun di dunia. Hanya gara-gara persoalan khilafiah, persoalan “sunnat” dan bahkan persoalan yang tidak ada dalil yang shahih, mereka rela merusak ukhuwwah islamiah dengan menyakiti, menzhalimi, dan membenci serta menyesatkan saudaranya Ahlussunnah wal Jama’ah.

Penyebab lainnya adalah isu wahabi. Isu ini digunakan oleh kelompok tertentu dari umat Islam untuk menyesatkan sesama saudaranya Muslim sesama Ahlussunnah wal Jama’ah yang berbeda pendapat (mazhab) dengan kelompoknya. Padahal perbedaan itu hanya dalam persoalan furu’iyyah atau fiqh, bukan persoalan ushuliyyah atau aqidah. Sayangnya, kelompok tersebut terpengaruh propaganda isu “wahabi” yang sengaja diciptakan oleh Syi’ah, Barat dan Yahudi untuk mengadu domba dan memecah belah umat Islam. Musuh-musuh Islam ini menginginkan umat Islam tidak bersatu sehingga menjadi lemah. Dengan isu “wahabi” ini, mereka telah berhasil menghancurkan ukhuwwah islamiah dan persatuan umat Islam. Maka, sepatutnya kita umat Islam Ahlusunnah wal Jama’ah tidak termakan propaganda isu” wahabi”. 

Makna dan Urgensi Ukhuwwah Islamiah

 Ukhuwwah berasal dari bahasa Arab yang berarti persaudaraan.  Islamiah berarti agama islam atau bersifat islami. Jadi, Ukhuwwah islamiah bermakna persaudaraan karena Islam. Dikatakan demikian karena persaudaraan tersebut diikat karena seiman dan seagama, bukan persaudaraan karena nasab atau keluarga.

Di antara ajaran Al-Quran dan As-Sunnah adalah perintah mewujudkan dan menjaga ukhuwwah islamiah (persaudaraan Islam) dan larangan melakukan segala perbuatan dan perkataan yang dapat merusak ukhuwwah Islamiah. Maka, umat Islam sesama Ahlussunnah wal Jama’ah wajib menjaga ukhuwwah islamiah dan haram merusak ukhuwwah islamiah. Merusak ukhuwwah islamiah berarti pelanggaran syariat dan perbuatan maksiat. 

Ukhuwwah islamiah sangat penting dalam Islam sehingga diperintahkan oleh Al-Quran dan As-Sunnah. Dengan ukhuwwah islamiah, maka akan terwujud persatuan umat Islam dan perdamaian dalam masyarakat dan negara. Dengan persatuan, maka umat Islam menjadi umat yang kuat dan mulia seperti pada masa Nabi dan para sahabat. Dengan perdamaian, akan terwujud kesejahteraan masyarakat dan negara.

Para sahabat sangat peduli dan komitmen dengan ukhuwwah islamiah. Mereka saling mencintai, mengasihi, menolong, dan menghormati. Meskipun terkadang mereka berbeda pendapat, namun hal itu tidak membuat mereka saling benci, apalagi menyesatkan orang lain. Mereka tetap berlapang dada dan menghormati perbedaan pendapat tersebut. Ukhuwwah islamiah dan persatuan senantiasa dijaga dan menjadi prioritas. Inilah sikap yang diajarkan oleh Rasul saw kepada para sahabat sehingga umat Islam menjadi kuat dan berjaya pada masa itu.

Allah Subhanahu Wata’ala menegaskan bahwa umat Islam itu bersaudara dengan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara.” (Al-Hujurat: 10). Begitu pula Rasul saw telah menegaskan bahwa umat Islam itu bersaudara dengan sabda beliau: “Seorang Muslim itu bersaudara dengan Muslim yang lainnya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Al-Hafiz al-Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya “Tafsir al-Quran al-Karim” menjelaskan ayat di atas, “Semua orang beriman itu bersaudara dalam agama”. Hal senada juga dijelaskan oleh Imam al-Baghawi dalam kitab tafsirnya “Ma’alim At-Tanzil” dan Imam al-Khazin dalam kitab tafsirnya “Lubab at-Ta’wil fi Ma’ani at-Tanzil” bahwa maknanya adalah bersaudara dalam agama dan al-wilayah (perwalian) atau al-walayah (pertolongan).

Imam as-Samarqandi dalam tafsirnya “Bahrul ‘Ulum” menjelaskan ayat di atas, “Kaum Muslimin seperti saudara dalam kerjasama dan tolong menolong sebab mereka di atas agama yang satu”.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya “Taysir al-Karim ar-Rahman fii Tafsiir Kalaami al-Mannan” menjelaskan ayat di atas, “Inilah ikatan yang Allah Subhanahu Wata’ala ikatkan di antara kaum mukmin bahwa jika ada pada seseorang di manapun, di timur dan barat bumi, serta ada pada dirinya iman kepada Allah Subhanahu Wata’ala, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya dan Hari Akhir, maka sesungguhnya ia adalah saudara untuk kaum mukmin.

Persaudaraaan ini mewajibkan kaum mukmin mencintai untuk saudaranya apa saja yang mereka untuk diri mereka sendiri dan membenci untuk dia apa saja yang mereka benci untuk diri sendiri.”

Dalam kitab tafsirnya “Adhwaau Al-Bayan”, Syaikh Muhammad al-Amin bin Mukhtar asy-Syinqiti menjelaskan makna persaudaraan dalam ayat diatas adalah ukhuwwah ad-adiin (persaudaraan agama), bukan ukhuwwah an-nasab (persaudaraan hubungan keluarga). Beliau menjelaskan, “Persaudaraan agama lebih agung dan lebih kuat dari persaudaraan hubungan keluarga (nasab) berdasarkan dalil-dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah”.

Secara fitrah, tabiat orang yang bersaudara itu saling mencintai dan mengasihi. Orang yang memiliki hubungan persaudaraan itu pasti menyayangi dan mencintai saudaranya. Semua makhluk diberi rahmat oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk mencintai dan mengasihi saudaranya. Coba perhatikan, binatang saling mencintai dan berkasih sayang dengan sesama saudaranya. Begitu pula manusia. Orang-orang kafir saling mencintai sesama saudaranya.

Maka sudah sepatutnya kita umat Islam lebih mencintai saudaranya Muslim melebihi cintanya binatang dan orang kafir terhadap saudara mereka, karena umat Islam telah diperintahkan oleh Al-Quran dan As-Sunnah.

Sumber : www.hidayatullah.com