Kiai Sakti Mandraguna dari Kediri, Siapakah beliau ….

Beliau adalah Gus Maksum. Nama Gus Maksum sangat populer sekali di jagat persilatan Tanah Air. Meski jarang putra kiai yang dikenal sebagai jawara, tapi Gus Maksum satu di antara yang sedikit itu. Dia pendekarnya para jawara.

Gus yang punya julukan “Si Rambut Api” ini pernah menjadi ketua umum Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa, organisai pencak silat di lingkungan NU. Makanya, namanya tak begitu asing di kalangan para pecinta pencak silat di Tanah Air dan juga warga NU.

Seperti dilansir dari sindonews.com yang diolah dari berbagai sumber yang mengangkat profil gus legendari ini, seperti sachrony.wordpress, saungwali.blogspot, nahdhiyyin.blogspot, Gus Maksum yang cucu pendiri Ponpes Lirboyo Kediri, K.H. Abdul Karim ini, juga adalah pendiri Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa. Ia lahir di Kanigoro, Kediri pada 8 Agustus 1944.

1. Kesaktian Gus Maksum
Sejak kecil, ia telah memiliki kelebihan dan karamah di antaranya mampu melompat melayang dari satu tiang ke tiang yang lainnya di Masjid Kanigoro.

Dia juga mampu berputar cepat di atas piring tanpa pecah laksana gangsing, padahal waktu itu dia belum mahir ilmu silat. Sejak kecil Gus Maksum sudah gemar lelaku batin dan belajar pencak silat sehingga ketika beranjak dewasa dia lalu melanglang buana ke beberapa daerah di pulau Jawa untuk berguru ilmu silat dan kanuragan.

Konon Gus Maksum juga pernah melempar seekor kuda seperti melempar sandal, padahal waktu itu bobot angkatan beliau tidak lebih dari 20 kilogram. Kisahnya terjadi saat Gus Maksum masih remaja, saat itu dia membantu salah seorang familinya untuk memasang sapi bajakannya.

Ketika hendak memasang tiba-tiba sapi itu mengamuk dan dengan cepat dan kuat menerjang kearah dada Gus Maksum. Dengan refleks dia menangkis sehingga apa yang terjadi membuat semua orang yang melihatnya heran karena sapi itu terpelanting beberapa meter jauhnya.

2. Gus Maksum dan Penumpasan PKI
Saat kecil, dia belajar agama pada orangtuanya, K.H. Abdullah Jauhari di Kanigoro. Masuk SD Kanigoro (1957), lalu melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Lirboyo, namun tidak sampai tamat. Selebihnya banyak diisi dengan pengajian-pengajian di Pesantren Lirboyo.

Namanya juga sempat terdengar ke seluruh pelosok daerah ketika menjabat Komando Penumpasan PKI dan antek-anteknya di wilayah Kediri dan sekitarnya. Salah satu kisah yang menunjukan karamah Gus Maksum adalah ketika bentrok dengan orang-orang PKI di alun-alun Kediri.

Gus Maksum yang waktu itu sangat muda usianya mampu mengalahkan belasan orang-orang PKI sendirian. Setiap bacokan dan tebasan senjata tidak pernah bisa mengenai tubuh dia. Bahkan senjata lawan selalu berhenti jarak satu kilan dari tubuhnya. Kalaupun ada yang sampai mengenai tubuh dia, senjata-senjata itu tak ada satupun yang melukainya. Dalam pertarungan itu Gus Maksum bukan hanya menggunakan olah kanuragan tapi juga dengan olah batinnya.

3. Penampilan Gus Maksum yang Nyentrik
Gus Maksum juga dikenal dengan penampilan nyentriknya karena berambut gondrong, jenggot dan kumis panjang. Dia juga bersarung setinggi lutut, memakai bakiyak, berpakaian seadanya, dan tidak makan nasi. Sikapnya tegas. Karena itulah namanya banyak digandrungi anak-anak muda NU.

Penampilan Gus Maksum dengan rambut gondrongnya bukan sekadar gaya atau hobi semata. Tetapi rambut gondrongnya itu merupakan sebuah ijazah yang didapat dari gurunya yaitu Habib Baharun Mrican Kediri, hasil dari pengamalan itu sering terjadi keanehan-keanehan terkait dengan rambutnya.

Di antaranya rambut Gus Maksum bisa berdiri, bisa mengeluarkan api, serta tidak mempan dipotong. Bukti daripada itu adalah, pada dekade 1970-an dia pernah terjaring razia rambut panjang. Namun terjadi keanehan, setiap kali aparat menggunting rambutnya, rambut itu tidak terpotong. Bahkan setiap gunting yang tajam beradu dengan rambut beliau selalu mengeluarkan percikan api.
Menanggapi kejadian tersebut dalam berbagai kesempatan Gus Maksum hanya berkata semua hanyalah kebetulan saja dan berkat pertolongan Allah Swt.

4. Gus Maksum dan Anak yang Mengancam Membunuh Orangtuanya
Gus Maksum pernah kedatangan tamu dari Semarang yang mengeluhkan kelakuan putranya yang suka mabuk-mabukan dan sering pergi ke lokalisasi. Bahkan putranya sering mengancam akan membunuh orang tuanya. Karena sudah tak tahan melihat kelakuan putranya itu, dia pergi ke rumah Gus Maksum di Kediri, dengan harapan mendapat obat untuk mengobati prilaku anaknya.

Tapi yang diharapkan tidak dipenuhi Gus Maksum. Dia hanya membuatkan sepucuk surat untuk dibawa pulang agar dibacakan kepada anaknya. Walaupun orangtua itu bingung karena obat yang diharapkannya tidak diberi, dia tetap melakukan apa yang diperintahkan Gus Maksum dengan menyampaikan surat itu kepada anaknya.

Dan begitulah setelah surat itu dibacakan kepada anaknya dalam waktu singkat kelakuan anaknya yang sebelumnya tidak bisa dikendalikan perlahan berubah. Singkatnya kelakuan anak itu tidak lagi nakal seperti dulu.

5. Gus Maksum dan Santet
Gus Maksum juga disebut sebut kebal terhadap santet. Sudah tidak terhitung banyaknya dukun santet yang pernah dihadapi, sejak kecil Gus Maksum sudah terbiasa menghadapi berbagai macam-macam aliran ilmu santet.

Beliau juga tidak segan-segan untuk menantang para dukun santet secara terang-terangan.Hal itu dilakukan karena santet menurut Gus Maksum termasuk kemungkaran yang harus dilawan. Kekebalan Gus Maksum terhadap santet juga sudah pembawaan sejak lahir, karena dia masih keturunan Kiai Hasan Besari (Ponorogo).

Menurut Gus Maksum sebagai muslim tidak perlu khawatir terhadap santet, karena santet hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kufur atau murtad. Yang penting seorang muslim haruslah selalu ingat kepada Allah dan bertawakal kepadaNya.

Pengalaman Gus Maksum mengenai santet di antaranya dialaminya ketika menginap di Desa Wilayu, Genteng, Banyuwangi, sekitar jam setengah dua malam, saat hendak istirahat, tiba-tiba dari arah kegelapan muncul bola api sebesar telur terbang menuju kearah pahanya.

Dengan santai Gus Maksum membiarkan bola api itu mendekatinya. Ketika bola api itu sampai ke paha, dia cuma tanya. “Banyol tha (mau bercanda, ya?).” Seketika itu juga bola api itu melesat pergi ditengah kegelapan malam.

Satu lagi kejadian yang pernah dialaminya, ketika bermalam di Desa Kraton, Ranggeh saat Gus Maksum beristirahat, dia didatangi kera jadi-jadian yang berusaha mencekiknya. Tapi usaha itu dibiarkannya saja. Setelah beberapa lama baru, ditanya Gus Maksum. “Mau main-main ya?” Langsung saja kera itu lari menghindar dari Gus Maksum.
Sumber : Datdut

Karamah Mbah Kiai Syafa’at, Ulama Karismatik Banyuwangi, Pendiri Pesantren Darussalam Blokagung

Mbah Kiai Syafa’at, begitu beliau akrab dipanggil, adalah pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi. Salah satu pesantren salaf semi modern di Banyuwangi.

K.H. Mukhtar Syafa’at Abdul Ghafur, lahir pada 6 maret 1919. Beliau merupakan salah satu tokoh dan ulama sepuh di Banyuwangi. Ketokohannya hanya berbeda masa dari ulama sepuh Banyuwangi sebelumnya, yaitu Mbah Kiai Abdul Manan dan Mbah Kiai Askandar. Bahkan beliau pernah mondok di Pesantren Minhajut Thulab, Sumber Beras, Muncar, Banyuwangi asuhan K.H. Abdul Manan.

Karena kondisi daerah Muncar saat itu kurang kondusif dan tidak nyaman, akhirnya Syafaat muda hanya mondok disana sekitar satu tahun. Kemudian beliau pindah ke Pesantren Tasmirit Thalabah (kini terkenal sebagai Pesantren Ibrahimy), Jalen, Genteng, asuhan K.H. Ibrahim Arsyad. Beliau ini adalah mertua dari K.H. Askandar, Berasan. Juga masih guru dari K.H. Abdul Manan.

Membicarakan kisah kiai sepuh, hal yang paling menarik selain keteladanan dan perjuangannya adalah tentang kisah karamahnya. Nah, tulisan kali ini akan menyuguhkan 5 kisah di antara sekian banyak kisah karamah Mbah Kiai Syafa’at Blokagung, yang dirangkum oleh Muhammad Fauzinudin Faiz dalam bukunya Mbah Kiai Syafaat, Bapak Patriot dan Imam Al-Ghazalinya Tanah Jawa. Kisah tersebut adalah yang dianggap paling kuat sumbernya.

Sumber : Datdut.com

Ini Adalah Wujud Kecerdasan Imam Al-Bukhari

Oleh: Arya Jagad Pamungkas

Bukhara, sebuah daerah yang menjadi muara sungai jihun, terletak di Uzbekistan. Adalah sebuah daerah yang banyak melahirkan para ulama dalam berbagai disiplin ilmu, terutama ilmu hadits dan fiqih. Salah satu ulama besar yang lahir di daerah ini adalah Imam Bukhari.

Bernama lengkap Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al Ju’fi Al Bukhari, Imam Bukhari terlahir dari pasangan yang sangat mencintai ilmu. Ayahnya yang bernama Ismail bin Ibrahim, adalah seorang ulama ahli hadits yang banyak mengambil hadit-hadits Nabi SAW dari Imam Malik bin Anas.

Dikisahkan di dalam kitab Fathul Bari, Syarh Shahih Al Bukhari karya Imam Ibnu Hajar Al Atsqalani pada jilid yang pertama, ketika Imam Al Bukhari masih berada dalam kandungan kedua orang tuanya bersepakat agar mendidik anaknya jika terlahir nanti agar menjadi anak yang shalih. Maka disiapkanlah pengajaran disiplin ilmu sejak Imam Bukhari masih kecil.

Ayahnya meninggal ketika Imam Bukhari masih kecil, ia pun menderita sakit mata yang menyebabkan kebutaan pada usia dua tahun. Perjuangan untuk merawat dan mendidik Imam Bukhari diteruskan oleh ibunya dengan memegang komitmen terhadap sang suami ketika ia masih hidup, agar mendidik Imam Bukhari menjadi anak yang shalih.

Ada sebuah kisah yang menarik yang dilukiskan di dalam kitab Fathul Bari di atas. Suatu hari Imam Bukhari kecil mendatangi sebuah majelis ilmu para penghafal Qurán yang diampu oleh seorang guru, saat itu guru tersebut membaca surah Qaf, ketika selesai melantunkan surah Qaf sang Syaikh bertanya “siapakah yang sudah hafal”. Tiba-tiba seorang anak berusia empat tahun dan dalam kondisi buta mengangkat tangannya sembari berkata “ya Syaikh, saya sudah hafal” dialah Imam Bukhari.

“Majulah kedepan anakku, perdengarkan kepada teman-temanmu hafalanmu itu?” perintah sang guru. Ketika Imam Bukhari melantunkan surah Qaf, guru tersebut terkejut karena Imam Bukhari sudah hafal keseluruhan surah Qaf, dan pelafalannya persis sama seperti yang dia ucapkan. Setelah selesai membaca surah Qaf sang guru pun memeluk Imam Bukhari sembari berkata, “anakku, mulai besok kamu harus belajar menghafal hadits.” Karena guru ini berpendapat jika Al Qurán mampu dihafalnya dengan baik, maka menghafal hadits pun demikian.

Senang bukan kepalang, Imam Bukhari mendengar ucapan tersebut. Ia lalu bergegas pulang kerumah untuk menyampaikan kabar gembira itu kepada ibunya.

“Bu, aku ingin belajar menghafal hadits,” ujar Bukhari kecil menyampaikan kepada ibunya.

“Duhai anakku sayang, ananda punya keterbatasan. cukupkan dulu dengan Al Qurán, setelah itu baru belajar hadits,” jawab sang ibu dengan lirih.

“Tidak bu, aku ingin belajar hadits,” jawab Bukhari kecil. Lalu ia berjalan sembari meraba dinding menuju kamarnya, melihat hal itu air mata sang ibupun menetes.

Ibu Imam Bukhari menuju mihrab sembari mengusap genangan di pelupuk matanya, bermunajat kepada Allah agar anaknya bisa melihat kembali. Dengan doanya yang lirih, “Ya Allah yang Maha Melihat dengan tajam sampai ke kedalaman hati manusia, yang Kuasanya tak terbatas, mohon kembalikan kembali penglihatan anak saya”.

Disaat yang sama Imam Bukhari sedang melantunkan surah Qaf yang baru saja dihafalnya. Ketika ibunya berdoa, “Ya Allah yang Maha Melihat,” Bukhari kecil baru melafalkan Quran hingga pada ayat ke 22 surah Qaf.

“Maka Kami singkapkan tutup (yang menutupi) matamu. Sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam.”

Maka ketika selesai membaca ayat tersebut, tersingkap penglihatan Imam Bukhari, saking kagetnya ia bergegas menghampiri ibunya yang masih berada di dalam mihrab.

“Bu, aku bisa melihat kembali,” Imam Bukhari menyampaikan dengan penuh haru.

“Tidak mungkin, ananda pasti melihat dengan hati?” kata ibunya penuh keheranan.

“Tidak bu, aku melihat dengan kedua mataku sendiri,” Bukhari kecil berusaha meyakinkan.

Keduanya pun berpelukan sembari melantunkan pujian kepada Allah. Sejak saat itu Imam Bukhari terus menghafal hadits hingga menyusunnya dalam sebuah kitab dalam masa kurun waktu enam belas tahun, dan dinamai Al Jami’As-Shahih Al Musnad Al Mukhtasar Min Umuuri Rasulillahi Shalallahu Alaihi Wasallam wa Sunanihi wa Ayyamihi, atau yang biasa dikenal dengan nama Shahih Bukhari.

Hikmah yang bisa diambil dari kisah di atas, bagaimana peran kedua orang tua dalam membentuk karakter seorang anak. Ketakwaan kepada Allah serta komitmen kedua orang tua Imam Bukhari sejak anaknya masih berada dalam kandungan, adalah tonggak awal keberhasilan Imam Bukhari menjadi seorang ulama besar. Wallahu a’lam. []

Sumber : Islampos

Kisah Anggota DPRD Jakarta yang Tilawah Al-Qur’an 1 Hari 5 Juz…

Hiruk pikuk perpolitikan Indonesia menjelang pemilu 2014 memang terkadang sangat memusingkan kepala, terjadi pertarungan politik dengan beragam kepentingan yang melatarbelakinya. Dalam kesempatan ini saya akan berbagi tentang Ustadzku yang dicalonkan diri menjadi Anggota DPR.

Ustadzku dicalonkan (bukan mencalonkan) menjadi caleg DPR RI Pusat Dapil Jakarta I, Wilayah Jakarta Timur. Sempat sebelumnya menjadi anggota DPRD DKI pada pemilu 2009 hingga saat ini.

Subhanallah, salah satu amalan beliau adalah tidak pernah kurang tilawah 5 juz setiap hari, hai ini beliau lakukan ditengah kesibukannya menjadi anggota dewan dan da’i sejak puluhan tahun lalu.

Beliau juga masih tetap mengisi Imam Qiyamullail 3 juz di Masjid Habiburrahman Bandung setiap bulannya pada minggu ketiga.

Beliau juga masih menyempatkan menerima setoran santri-santrinya ba’da shubuh sebelum beraktivitas. Termasuk setoranku yang kadang macet macet …

Iri dengan Parlemen di Mesir yang diisi oleh 140 hafizh quran, semoga dengan hadirnya ustadzku di parlemen nanti bisa lebih luas menyebarkan hidayah Al Qur’an ke masyarakat Indonesia.

Saya memperhatikan, dikala sebagian besar caleg berlomba lomba berkampanye dengan menghabiskan uang milyaran rupiah. Disisi lain beliau justru menyuruh santrinya untuk qiyamullail, memperbanyak membaca Al Qur’an, membangun interaksi yang baik dengan masyarakat. Beliau mempercayai bahwa kemenangan itu adalah ketika kita memiliki kedekatan dengan Allah.

Ustadzku membuat sebuah buku do’a kecil untuk dibagikan ke masyarakat, beliau pernah mengatakan, “Kalau saya tidak terpilih, setidaknya doanya masih bisa bermanfaat untuk diamalkan oleh masyarakat.” maka dari itu di cover buku doa itu terdapat tulisan, “Kalau tidak berkenan dengan partainya silahkan dimanfaatkan doanya” .. masyaAllah

Saya berpikir, kalau Al Qur’an saja harus dihiasi dengan suara yg indah, maka parlemen pun harus dihiasi dengan Al Qur’an.

Beliau mendapatkan nomor urut 4 dari partai PKS, wahh kalau begitu pas dengan simbol perjuangan R4BIA

Artikel Asli

Hidayah Allah Menghampiri, Model Majalah Playboy Ini Ikrar Syahadat dan Mantab Menggunakan Hijab

Felixia Yeap, seorang model kenamaan asal Malaysia. Ia telah berkecimpung dalam dunia modeling dari umur 19 tahun. Ia menjadi model untuk butik, fashion show, majalah dan lain-lain. Tidak tanggung-tanggung, ia pernah menjadi salah satu model pada majalah Playboy Malaysia. Namun ketika Allah berkehendak untuk memasukan hidayah kepadanya, maka tidak ada siapa yang dapat menghentikannya.

Awalnya Felixia mendapatkan tawaran pekerjaan sebuah perusahaan dan harus mengenakan hijab. Walaupun belum menjadi seorang muslimah, ia menyanggupinya. Hal ini menuai kontroversi di kalangan masyarakat Malaysia. Namun, di sanalah hidayah itu datang. Felixia merasa nyaman saat mengenakan hijab. Dan ia mulai jatuh hati dengan hijab.

Juli 2014, Felixia mantap untuk menjadi mualaf. Keputusannya menjadi mualaf bukanlah paksaan dari siapapun. Walaupun sempat dipertanyakan namun keputusannya itu tidak mendapatkan tantangan dari keluarganya, malahan ibunda Felixia merasa senang karena melihat putrinya menjadi lebih tenang dan bahagia.

Selalu saja pertanyaan yang datang jika seorang public figure memutuskan untuk berhijab adalah tawaran pekerjaan. Namun, Felixia tidak merasa cemas dengan opini tersebut. Walauppun ada pihak yang keberatan dengan penampilannya sekarang, namun banyak juga yang menerima keputusan Felixia, bahkan setelah menjadi muslimah dan berhijab, ia malah mendapatkan banyak tawaran pekerjaan.

Dalam sebuah wawancara Felixia mengatakan bahwa dengan mengenakan hijab ia merasa terselamatkan, terlindungi dan merasa lebih dihormati. Ia berharap tetap ingin menekuni dunia modeling namun tetap dalam bingkai busana muslimah dan mengenakan hijab.

Artikel Asli

Pertanyaan “Masa Tuhan Bisa Mati?”, Membuat Pria Katholik Ini Masuk Islam…

Anthony Vatswaf Galvin Green lahir dari ibu penganut Katolik Roma yang taat dan ayah seorang agnostik, Anthony dibesarkan sebagai seorang Katolik Roma yang taat. Ayahnya seorang administrator kolonilal kerajaan Inggris. Kini, kerajaan yang terbentang begitu luasnya lebih dari sepertiga permukaan bumi itu telah hancur. Satu-satunya yang tersisa adalah beberapa pulau di Falklands. Begitu banyak hal yang berubah, termasuk Antony, bahkan namanya kini berubah mnejadi Abdur raheem Green.

“Semua itu pelajaran dari Allah. Ia memberitahu kita dalam Alquran untuk berjalan di bumi dan melihat konsekuensinya”, katanya.

Rasa bersalah dari sang ibu yang menikah dengan seorang agnostik, membuat ibu Anthony berambisi menjadikannya menjadi seorang penganut Katolik Roma yang taat. Anthony (10) dan sang adik, Duncan (8) disekolahkan di asrama biara. Setiap hari ia hidup bersama para biarawan di Ampleforth College, di Yorkshire, Inggris Utara.

“Seharusnya ibu juga menikah dengan seorang Katholik, tapi karena ibu menikah dengan ayah yang agnostik, ia merasa menjadi seorang penganut Katolik yang buruk. Maka, ia ingin menjadikanku seorang Katolik yang taat,” ujarnya. Sang ibu menganggap dengan bersekolah di asrama akan membuat Anthony menjadi penganut Katolik yang taat.

Saat Anthony berumur sembilan tahun, sang ibu mengajarinya sebuah doa yang biasa diucapkan oleh umat Katholik. Doa itu dimulai dengan kalimat “Salam maria, ibu Tuhan”. Namun, kalimat itu membuat Anthony sangat tidak nyama. Bahkan dalam usianya yang baru sembilan tahun, kalimat itu seperti pukulan pertama, mendengar ibu berkata salam maria ibu Allah

“Aku kemudian bertanya pada diri sendiri bagaimana Tuhan bisa memiliki ibu?,” katanya. Ia berpikir Tuhan seharusnya tanpa awal dan tanpa akhir. Bagaimana bisa Tuhan memiliki seorang ibu? Anthony kecil kemudian mengambil kesimpulan “jika Maria adalah ibu Tuhan, maka pasti Maria menjadi Tuhan lebih baik daripada Yesus”.

Belum lagi soal pelajaran di sekolahnya yang semakin membuatnya galau. Di sekolah, dalam satu kali setahun selalu ada pengakuan dosa kepada pastor. “Kamu harus mengakui semua dosa, jika tidak maka pengakuan dosa-dosamu tidak akan diampuni,” begitu kata pastur.

Ia mulai berpikir kritis, bagaimana mungkin mengakui dosa kepada seorang pastor. Apalagi menagakui dosa terhadap orang-orang yang notabene tinggal bersama dalam satu asrama. “Dengan kata lain mereka yang bertanggung jawab dari kita?,” begitu pikirnya. Ia mengasumsikan pengakuian ini sebagai adalah konspirasi besar dalam rangka untuk mengontrol orang dengan modus mengakui dosa.

“Mengapa saya harus pergi ke Anda untuk mengakui dosa-dosa saya? Mengapa saya tidak bisa meminta Tuhan untuk mengampuni saya?”, katanya kepada pastor. Pastor itu menjawab bisa saja meminta ampun secara langsung kepada Tuhan, tapi tak ada jaminan Tuhan mendengan pengampunan dosanya.

Ia merasakan keimanannya semakin ‘ada dalam masalah’. Pikirannya mulai liar, ia bahkan memiliki ide “Tuhan menjadi manusia”.

Masyarakat barat selalu berpikir jika ingin bahagia dan menikmati hidup, maka hanya ada satu jalan yaitu memiliki banyak uang. Dengan uang dapat membeli mobil bagus dan TV, pergi ke bioskop dan bisa membeli semua hal yang dibutuhkan untuk hidup. Pada kenyataannya Anthony sama sekali tidak merasakan hal itu.

Pikirannya mulai terbuka. Ia sering bertanya mengapa harus sekolah di asrama, jauh dari siapapun dan dimanapun. Saat berusia sebelas tahun, sang ayah dipindah tugaskan ke Mesir. Ayahnya menjadi General Manager Barclays Bank di Kairo. Hampir selama sepuluh tahun, ia selalu menghabiskan waktu liburan di Mesir. Sekolah di London, dan liburan di Mesir.

Ia mulai jatuh cinta pada Mesir. Saat kembali ke sekolah seusai liburan, ia bertanya untuk apa kembali ke asrama Yorkshire Moor, ia merasa tak menyukai tempat itu. “Saya mulai bertanya pada diri sendiri mengapa saya ada, apa tujuan hidup saya,hidup ini untuk apa? Apa itu cinta?”.

Ia pun mulai mempertanyakan hakikat hidup. ia menjawab sendiri pertanyaannya. “Aku sekolah disini dalam rangka belajar untuk mendapatkan hasil yang terbaik, agar bisa pergi ke universitas yang baik. Setelah itu dapat gelar, dapat pekerjaan yang membuat saya punya banyak uang. Jadi, kalau saya punya anak, bisa mengirim anak ke sekolah yang mahal,” begitu pikirnya. Tapi ia masih menanyakan untuk apa semua itu, ia tak yakin apa yang dipikirkannya adalah alasan untuk hidup yang sebenarnya.

Ia lantas mulai mencari jawaban, memulai pecarian. Pencarian itu barangkali bisa ditemukan melalui agama lain yang mungkin bisa memberikan pemahaman tentang tujuan hidup.

Sepuluh tahun waktu yang di ia habiskan di Mesir. Ada satu masa saat ia berumur 19 tahun berbincang tentang Islam dengan seseorang. Ia memang meragukan Katholik sebagai agamanya. Tapi saat itu siapapun yang mempertanyakan agamanya itu, ia akan tetap membela keimanannya. Ia merasakan ini sebagai sebuah paradoks yang aneh.

“Aku berbincang dnegan orang itu selama 40 menit. Pemuda itu memintaku menjawab beberapa pertanyaan darinya,” katanya.

Si Pemuda menanyakan “apakah kau mempercayai Yesus?”, Anthoni menjawab “ya”. Pemuda itu kemudian bertanya lagi, “apakah kamu percaya Yesus mati disalib”, Anthoni kembali menjawab “ya”.

Sebuah pukulan telak, seperti mendapatkan tinju dari Mike Tyson ketika mendnegar si pemuda mengatakan “jadi kamu percaya Tuhan mati?”.

Seketika Anthony terperangah, menyadari sebuah ironi. Sambil mengakui kebodohan dirinya, ia menjawab, “tentu saja saya tidak percaya Tuhan mati. Manusia tidak bisa membunuh Tuhan,” kata Anthony.

“Saya lalu berpikir itu sebagai suatu hal yang menarik,” ujarnya.

Lupakan Agama, Lebih Baik Cari Uang

Ternyata ada satu masa pula dalam hidupnya ketika Anthony tak ingin berpikir lagi tentang agama. “Saya merokok dan minum kopi, tapi pertemuan dengan pemuda di Mesir menjadi titik balik dalam kehidupan saya,” katanya.

Sebelumnya saya tak pernah bermimpi bahkan memikirkan tentang Islam. Saya mulai berkata pada diri sendiri untuk melupakan soal agama, soal spiritualitas. “saya berpikir mungkin tak ada lagi kebahagiaan selain menjadi kaya,” ujarnya. Anthony kemudian bercita-cita bisa naik kapal pesiar atau pesawat jet pribadi agar bisa bahagia.

Ia berpikir bagaimana menghasilkan uang tapi hanya sedikit usaha. “Siapa yg ingin mengabiskan banyak waktu untuk bekerja?” pikirnya. Ia mengingat orang Inggris yang memiliki banyak uang tapi mereka bekerja terlalu keras, bahkan sampai terjadi revolusi industri. Orang Amerikapun harus berjuang keras untuk menjadi kaya. Orang Jepang pun dikenal sebagai penggila kerja.

“Kemudian saya berfikir tentang orang Arab. Mereka duduk di atas unta dan berteriak ‘Allahu Akbar’, tapi mereka kaya,” ujarnya.

Anthony mengira pasti ada sesautu disana. Ia lantas bertanya-tanya apa yang menjadi agama mereka dan kitab suci mereka.

Membaca Alquran

Alquran! Ya, Anthoni merasakan ketertarikan luar biasa untuk membeli Alquran. Ia mengambil terjemahannya. “Aku tak ingin mencari kebenaran. Aku hanya ingin tahu apa isi kitab suci ini,” katanya.

Anthony adalah pembaca yang cukup cepat. Ia membaca Alquran saat berada di kereta api.

Seketika itu pula ia menyimpulkan dan berkata pada diri sendiri, “Jika saya pernah membaca buku yang berasal dari Tuhan, maka ini dia bukunya.”

Ia menyakini Alquran itu berasal dari Allah. Ketika menyadari itu ia mulai bergerak lebih jauh, tak hanya membaca Alquran saja, tapi untuk mengamalkannya juga. “Sama saja seperti kita melihat apel yang terlihat harum, kita tak akan pernah tahu rasanya kalau tidak mencicipinya,” katanya.

Tertarik dengan pengamalan Alqurlan ia pun mulai mencoba untuk shalat meski saat itu ia belum resmi mengucap syahadat. Tak tahu bagaimana cara shalat, ia mengingat-ingat bagaimana seseorang yang pernah ia temui di Mesir melakukan shalat. “Saya mengingat seorang lelaki shalat dengan cara yang lebih indah dibandingan saya ketika masih menjadi Katholik,” katanya.

Suatu hari Anthony pergi ke toko buku yang kebetulan berada di dalam masjid. Toko itu memiliki koleksi buku tentang Muhammad dan tata cara shalat. Seorang pria menanyakan apakah ia seorang Muslim. Anthony lantas menjawab, “Apakah saya Muslim, apa yang ia maksud dengan itu? Saya bilang “Ya saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusannya.”

“Ah, bila demikian, anda Muslim. Ini waktunya shalat, mari kita shalat,” ajak si lelaki itu.

Anthony kebetulan datang ke toko buku itu saat hari Jumat. Ia yang tak paham gerakan shalat hanya berusaha shalat dengan gerakan yang ia tahu saja. Masih salah disana-sini. “Setelah itu orang-orang mengelilingi saya dan mengajarkan saya cara shalat yang benar.” Ia merasakan seperti berada di awan. “Rasanya Fantastis.”

Namun butuh dua tahun lagi sebelum akhirnya ia resmi bersyahadat dan menjadi Muslim.

Artikel Asli

Patut Diketahui. Ini Sejarah Pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan…

Sejarah Islam merupakan salah satu bidang study yang menarik baik kalangan Islam maupun Non Islam , hal ini dikarenakan banyak nya manfaat yang dapat di peroleh dari penelitian tersebut, bagi peneliti Barat (non Islam) mempelajari sejarah Islam selain di tujukan pengembangan Ilmu, juga terkadang dimaksudkan untuk mencari kelemahan dan kekurangan ummat Islam agar dapat dijajah dan sebagainya.

Disadari atau tidak saat ini Informasi mengenai sejarah Islam banyak berasal dari penelitian para sarjana Barat , hal ini di karenakan masyarakat Barat memiliki Etos keilmuan yang kuat juga di dukung oleh politik yang kuat dari para pemimpinya. Sedangkan dari kaum Islam sendiri selain Etos keilmuanya rendah juga belum di dukung oleh keahlian di bidang penelitian yang memadai.

Kembali kepada manfaat sejarah Islam bagi ummat Islam , bagi ummat muslim mempelajari sejarah Islam dapat memunculkan kebanggaan terhadap Islam sendiri karena Islam pernah menemui kemajuan di segala bidang berates-ratus tahun lamanya, juga sebagai peringatan agar lebih berhati-hati, yang memang harus di akui pula masa kumunduran Islam juga sebagai pelengkap cerita untuk lebih menyadarkan ummat Islam tak henti berbenah diri serta tampil berjuang.

Dari kaadaan itulah dirasa perlunya kajian kritis kaum intelektual demi “melek” nya sejarah yang benar-benar dapat ditularkan manfaat dan maslahatnya, sebab tak jarang sejarah mengalami pemutar balikan dari hal yang sesungguhnya. Termasuk dari sejarah bani Umayyah (Muawiyah bin abi sufyan) dan lain-lain, banyak perbedaan pendapat perjalanan sejarahnya, hal ini bisa terjadi di karenakan kaadaan psikologi penulis atau kurangnya nalar kritis dari peneliti.

Menyadari persoalan di atas, maka kami mencoba membahas sebagian tentang rezim Bani Umayyah, namun demi focus kajian, dirasa perlu dengan adanya rumusan masalah.

Sejarah Pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan
Muawiyah adalah keturunan yang ke tiga dari Ummayyah dengan silsilah Muawiyah bin Sakhr (dikenal dengan sebutan Abu sufyan) Bin Harb Bin Ummayyah bin Abu Sufyan, lahir di Makkah 15 tahun sebelum hijrah. Muawiyah bin abi sufyan masuk Islam ketika terjadi fathu makkah. Saat itu ia baru berusia 23 tahun. Ia juga menjadi salah seorang periwayat hadis yang baik, pribadinya cerdas, selalu optimis dan mahir dalam mengatur strategi pemerintahan.

Menjabatnya Muawiyah bin abi sufyan sebagai kepala Pemerintahan bukan atas keputusan totAlitas kaum Muslimin, ketika Kholifah Usman bin affan R.A.

Kejadian tetbunuhnya Kholifah Usman bin Affan menjadi lahan membarahnya kaum munafiq dalam melancarkan fitnah-fitnah Intern kaum muslimin, desas-desus ketidak sepakatan dengan keputusa Sayyidina Ali .R.A yang telah mencopot beberapa pentolan-pentolan diwilayah Islam dari keputusan Kholifah Usman yang memang mayoritas mempunyai hubungan darah dengan pimpinanyan yakni Kholifah Usman.

Ditambah lagi dari golongan Muawiyah dengan egoisnya yang menginginkan keadilan atas pembunuhan Kholifah Usman belum juga terlaksana, dikarenakan kholifah Ali sibuk dalam sterilisasi perAli han kepemimpinan, memang sewajarnya seorang pemimpin memikirkan warga secara totAli tas tanpa pandang bulu, dari hemat pengamatan penulis kondisi ini sangat potensi kaum munafiqin untuk mengobrak-abrik ketaatan antara bawahan terhadap pucuk pimpinan, factor fanatic ke sukuan yang kental menjadi angin pendorong layar keegoisan menuju pertempuran, sehingga benar-benar terjadi kaum yang terorganisir untuk menentang pemerintahan Kholifah Ali yang sah.

Tanggapan kubu sayyidina Ali selalu siap meluruskan siapa saja yang menyimpang dari ajaran Islam termasuk pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah, yang akhirnya terjadilah peperangan yang di komandoi oleh sayyyidatina Aisyah popular dengan sebutan perang jamal pada tahun 36 H/657 M, perang jamal ini terjadi atas profokator Abdullah bin Zubair dan Tholhah yang menginginkan kedudukan Kholifah menghasud Aisyah untuk memimpin perang melawan Kholifah Ali , namun Kholifah Ali sangat mengetahui dalang pertempuran itu sehingga saat Zubair dan Tholhah terbunuh Kholifah Ali sangat menyanjung Aisyah sebagai Ummul Mu’minin dan mengembAli kan Aisyah ke makkah dengan penuh penghormatan.

Para pemfitnah belum berhenti di sini, sahabat Muawiyah bin abi sufyan yang menjadi gunernur Syam belum membaiat Kholifah Ali , selalu di desak untuk mengadili pembunuh Kholifah usman dengan beberapa kampanye tidak boleh taat pada pemimpin yang tidak menjalankan syari’at Islam.

Melihat banyaknya kaum muslimin yang terpengaruh oleh fitnah-fitnah ini akhirnya Kholifah Ali mengirimkan surat kepada Muawiyah yakni bersedia Membai’at Kholifah Ali atau meletakkan jabatannya, tetapi Muawiyah bin abi sufyan tidak menentukan pilihannya sebelum tuntutan dari keluarga Muawiyah terpenuhi, kokohnya tuntutan Muawiyah kepada Ali untuk mengadili pembunuh Usman, di sebabkan kubu Muawiyah bin abi sufyan mencium bau bahwa pelaku pembunuhan Usman adalah dari pihak Ali , bahkan pemimpinya Muhammad bin Abu Bakar dijadikan Gubernur Mesir .

Dari genjarnya kampanye yang di lakukan kubu Muawiyah untuk menentang Kholifah Ali , semakin banyaklah para simpatisan Muawiyah , sehingga terkumpul pasukan yang siap meyerang rezim Kholifah Ali , Kholifah Ali pun telah mempersiapkan pasukan dari Irak, Iran, dan Khurasan serta bantuan basukan dari Azerbejan dan Mesir atas komando Muhammad bin Abu Bakar, sebelum terjadi peperangan, Kholifah Ali terus menawarkan kepada Muawiyah agar bisa membai’at Ali atau terpaksa meletakkan Jabatan nya agar kaum muslimin tidak terprofokasi pemberontakan, namun kubu Muawiyah menuntut sebAli knya, yakni pihak Khilifah Ali yang di anggap lemah dalam menegakkan hukum Islam harus meletakkan pucuk pimpinan nya dan membai’at Muawiyah sebagai Kholifah. Akhirnya pada bulan Shafar tahun 37 H/ 658 M, peperangan sengit antara Kholifah Ali dengan pasukan Muawiyah tak dapat di bendung, berlangsung di Shiffin wilayah Syam dekat tepian sungai Efrat, peperangan ini terkenal dengan perang Shiffin.

Dalam perang Shiffin ini kholifah Ali dapat memukul mundur pasukan Muawiyah bin abi sufyan , saat pasukan Muawiyah bersiap-siap melarikan diri, tampillah Amr bin Ash dengan siasatnya mengangkat al-Qur’an di ujung tombak sebagai tanda penghormatan kepada wahyu dan peperangan harus di hentikan, semua di kembAli kan dengan hati dan fikiran yang tenang kepada wahyu, namun kholifah Ali mengetahui yang dilakukan Amr bin Ash ini hanyalah siasat untuk melindungi diri, Kholifah Ali tegas menyerukan terus untuk memerangi kaum pemberontak sampai titik akhir, namun di lain sisi para prajurit Kholifah Ali harus diam melihat al-Qur’an di ujung tombak, hatinya hanya ingat yang melakukan peperangan adalah sesama kaum muslimin.

Maka terjadilah Tahkim, perundingan mancari jalan keluar tanpa harus meneteskan darah dalam perundingan ini Muawiyah diwakili Amr bin Ash dan dari Kholifah Ali di wakili oleh Abu Musa al-Ash’ary, kedua memperoleh keputusan bahwa kedua penguasa harus sama-sama meletakkan jabatanya, Muawiyah sebagai Gubernur dan Ali Sebagai Kholifah setelahnya akan di pilih kembAli oleh masyarakat luas, dari sini telah tercium keputusan yang merugikan Kholifah Ali sebagai pemerintahan yang sah dan hampir memenangkan peperangan.

Setelah shubuh Amr bin Ash dan Abu Musa al-Asy’ary mengumumkan peletakan jabatan kedua pemimpin itu, Abu Musa al-Asy’ary yang lebih tua di persilahkan terlebih dahulu ke atas podium mengumumkan pada seluruh masyarakat bahwa atas nama pemerintahan Kholifah Ali, sayyidina Ali meletakkan Jabatanya sebagai kholifa, setelah Abu Musa al-Asy’ary menyatakan peletakan jabatan Ali, naiklah Amr bin Ash bahwa ia menyerukan atas nama kubu Muawiyah menyetujui keputusan Sayyidina Ali dan saat itu juga di umumkan nya, maka yang berhak menjadi kholifah adalah Muawiyah.

Setelah kejadian Tahkim ini ternyata membuat kecewa para militan Kholifah Ali , sehingga terjadilah perpecahan, Khowarij yang mula-mula pAli ng kecewa dengan keputusan Ali tentang di ambilnya tahkim, memakai kata Khawarij artinya golongan yang keluar dari barisan Kholifah Ali, selain itu Murji’ah golongan yang lepas tangan dengan masalah yang dilakukan oleh dua Sahabat besar ini, golongan ini menunda keputusan dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan yang maha mengetahui dan maha bijaksana di akhirat kelak, Khawarij sebagai barisan sakit hati terus mengincar tokoh-tokoh yang menjadi penyebab ia sakit hati, dengan akan membunuh empat orang yang di anggap mempermainkan Ummat Islam , yakni Muawiyah , Ali bin Abi Tholib, Amr bin Ash, dan Abu Musa Al-Asy’ary, namun kehendak Tuhan mereka hanya bisa membunuh Kholifah Ali saja, di tangan Abdurrahman ibn Muljam Kholifah yang Luas Ilmunya Babul ‘Ilm, sahabat tanggguh, pemberani dengan julukan Singa Padang Pasir, pada tanggal 19 Ramadlan tahun 40 Hijriyah bertepatan tahun 661 Masehi menghembuskan nafas terakhir.

Dengan terbunuhnya KhAli fah Ali bin Abi Tholib Karramallahu Wajhah. Maka masyarakat membai’at putranya Hasan Bin Ali menjadi Kholifah, di karenakan banyak nya perpecahan dari kaum militan Ali , sehingga pendukung putranya pun menipis juga, di lain sisi Muawiyah semakin mapan dengan kemakmuran prajuritnya, penindasan sangat potensi di lakukan kubu Muawiyah , maka Hasan bin Ali mengajak Muawiyah untuk memadamkan gejolak-gejolak yang makin membara tersebut dengan menawarkan jabatan kekholifahan Ali di pundak Muawiyah , saat itu Hasan masih menjabat sebagai Kholifah selama 6 Bulan, sebelum jabatan Kholifah di serahkan pada Muawiyah Kholifah Hasan mempunyai perjanjian kepada Muawiyah , jika di sepakati maka jabatan Kholifah akan di serahkan pada Muawiyah , beberapa perjanjian itu di antaranya;

Jaminan hidup bagi loyAli s Hasan bin Ali
Jika Muawiyah meninggal jabatan Kholifah di serahkan kembAli ke tangan Hasan bin Ali .
Agar pajak tanah negeri Ahwaz diperuntukkan kepadanya dan diberikan tiap tahun.
Berlandasan niat Mulya Hasan maka Muawiyah menerima dengan senang tawaran Hasan bin Ali , hanya sedikit berat pada poin yang kedua yakni Jika Muawiyah meninggal jabatan Kholifah di serahkan kembAli ke tangan Hasan bin Ali, kekhawatirannya di karenakan takut akan terjadi pertumapahan darah lagi Antara sesama Ummat Islam yang seharusnya tak perlu terjadi.

Proses pengAli han kepemimpinan Kholifah Hasan bin Ali secara damai ini di kenal dengan Amul Jama’ah tahun persatuan ummat Muslimin. Ini lah bukti kebenaran ucapan Rasulullah bahwa suatu saat cucunya akan mendamaikan dua golongan yang berselisih.

Militansi Bani Ummayyah semakin semangat melihat Muawiyah bin abi sufyan menjadi Kholifah secara total, pada hakekatnya, dari semula telah menginginkan jabatan khAli fah itu, tetapi mereka belum mempunyai harapan untuk mencapai cita-cita pada masa Abu Bakar dan Umar. dan setelah Umar ditikam, dan ia menyerahkan permusyawaratan untuk memilih khAli fah yang baru kepada eman orang sahabat, diantaranya Utsman, diwaktu itulah baru muncul harapan besar bagi Bani Ummayyah dan mereka lalu menyokong pencalonan Ustman secara terang-terangan, dan akhirnya Ustman terpilih. Semenjak itu mulailah Dinasti Ummayyah meletakkan dasar-dasar untuk menegakkan “Khilafah Umawiyah”, sehingga dikatakan bahwa khAli fah Ummayyah itu pada hakekatnya telah berdiri sejak pengangkatan Utsman menjadi khAli fah dan pada masa pemerintahan Utsman inilah Muawiyah mencurahkan segala tenaganya untuk memperkuat dirinya dan menyiapkan daerah Syam untuk dapat menjadi pusat kekuasaan Islam dimasa datang.

Perpindahan kekuasaan kepada Muawiyah Ibn Abi Sufyan telah mengakhiri bentuk pemerintahan yang demokratis menjadi pemerintahan monarki absolute, yakni system kerajaan yang diwariskan secara turun temurun tidak lagi dilakukan dengan pemilihan melalui cara demokratis. Muawiyah mencontoh system pemerintahan kerajaan Byzantium dan system pemerintahan kekaisaran Persia.

Keputusan ini sangat tepat untuk di terapkan saat itu, sebab sejarah berkata dengan adanya demokrasi yang di lakukan masyarakat arab yang berwatak keras malah semakin memancing keributan yang berujung perang saudara, Muawiyah mengambil keputusan monarchi dengan berbagai musyawarah, di antaranya dengan Mughira, guber-nur Basrah dengan kesimpulan mengangkat putranya Yazid sebagai pengganti dirinya kelak, Mengenai hal ini seorang sejarawan muslim terkemuka yang bernama Ibnu Khaldun dalam kitabnya Mukaddimah menulis:

“Seorang imam tidak sewajarnya dicurigai meskipun dia telah melantik ayah atau puteranya sendiri sebagai penggantinya. Dia telah dipertanggungjawabkan untuk mengurus kebajikan kaum muslimin selagi dia masih hidup. Lebih daripada itu dia ber-tanggungjawab untuk membasmi, semasa hidupnya (kemungkinan mewabahnya perkara-perkara yang tidak diingini) setelah”

Namun hal ini menimbulkan kebencian kaum Syiah. Diantara orang-orang syi’ah yang pertama kAli melancarkan permusuhan terbuka terhadap bani Ummayyah adalah Hajar bin Adi. Ia mengkritik pedas Mughirah bin Syu’bah, sang gubernur Kufah. Berhu-bung Mughirah bertipikal lemah lembut dan pemaaf, maka ia mengingatkannya akan akibat tindakannuya. Ketika Mughirah bin Syu’bah wafat Muawiyah mengangkat Ziyyad sebagai gubernur Kufah. Maka Ziyyad mengirim surat kepada Muawiyah mengenai Hajar bin Adi. Dengan kekhawatiran kaum muslimin termakan fitnah lagi Oleh Muawiyah Hajar bin Adi diundang ke Syam dan membunuhnya bersama pengikut setianya.

Dalam mengatur dan menguatkan kedaulatan pemerintahan, Muawiyah melakukan beberapa hal di antaranya:

Meminta Pengakuan dari para pengikut Hasan bin Ali
Setelah resminya Muawiyah menjadi pucuk pimpinan, agar mulusnya program pemerintahan adalah mutlak bagi bawahan wajib taat pada pimpinan, maka Muawiyah bin Abi Sufyan meminta kepada Hasan bin Ali untuk menjelaskan hasil kesepakatan yang telah dicapai antara Hasan Bin Ali dengan Muawiyah dalam sebuah pertemuan di maskin kepada para pendukungnya.

Permohonan Muawiyah telah disetujuinya, Hasan bin Ali kemudaia mengumpulkan para sahabat setianya di kediaman Madain, sebelum memberikan penjelasan lebih jauh kepada para sahabat setianya di Masjid Kufah. Di dalam pertemuan itu Hasan menjelaskan sebab apa saja yang melatar melatar belakangi di serahkanya jabatan Kholifah Hasan, serta dengan tegas di jelaskan telah mengakui Muawiyah sebagai pemimpin.

Oleh karena itu, Hasan meminta dengan sangat agar mereka melakukan seperti apa yang dilakukannya, yaitu menjadikan Muawiyah sebagai pemimpin mereka, dan jangan sekAli -kAli membantahnya bila telah melakukan bai’at kepadanya, kemudian hasan juga menjelaskan nya di masjid kufah, termasuk orang penting yang hadir saat itu adalah dari pihak Hasan bin Ali hadir antara lain, Abdullah bin Abbas, Qays bin Sa’ad, Abu Ja’far, Abu Amir, dan lainnya. Sementara dari pihak Muawiyah hadir antara lain, ’Amr bin Al-Ash, Abu Al-A’war Al-Sulma, ’Amr bin Sufyan.

Memindahkan Pusat Kekuasaan ke Damaskus
Setelah kaum loyAli s Hasan bin Ali dengan penuh hati mendukung hasan, kekuatan Muawiyah bin abi sufyan semakin mapan, langkah cantik yang dilakukan selanjutnya adalah usahanya memindahkan pusat pemerintahan Islam dari Madinah ke Damaskus. Pemindahan ini dilakukan karena di kota itulah pusat kekuasaan Muawiyah bin Abi Sufyan sebenarnya. Di kota itulah para pendukung setianya berada. Dari kota Damaskus Muawiyah mengendAli kan pemerintahan dan mengatur berbagai kebijakan politik.

Alasan lainnya Muawiyah bin abi sufyan memindahkan pusat kekhAli fahan adalah : karena Kota Damaskus memiliki letak yang sangat strategis bagi Muawiyah untuk mengambangkan kekuasaanya ke bakas-bekas wilayah kekuasaan kerajaan Romawi di bagian utara. Letak strategis itu tidak hanya dari sisi politik militer, juga dari sisi ekonomi. Sebab kota Damaskus. Syiria terletak di dekat laut Tengah (Laut Mediterania) yang merupakan jalur perdagangan ke Eropa, dengan pemindahan pusat pemerintahan inilah rezim Muawiyah mengalami perkembangan cukup cepat.

Mengangkat Para Pejabat Gubernur
Muawiyah bin Abi Sufyan telah memilih beberapa orang yang dapat memperkuat posisi kepemimpinannya. Mereka adalah Amr bin Al-Ash, Mughirah bin Syu’bah, dan Ziyad bin Abihi. Kedua orang yang di sebutkan itu, Amr dan Al Mughirah bin Syu’bah, memiliki peran yang sangat penting, baik sebelum atau sesudah Muawiyah menjadi khAli fah. Sementara Ziyad baru memainkan peran pentingnya ketika ia di beri kesempatan oleh Muawiyah untuk menduduki jabatan penting di dalam pemerintahan Bani Umaiyah, yaitu gubernur Basrah.

Salah satu alasan Muawiyah merangkul Amr bin Al-Ash, adalah karena ia telah memiliki kemampuan luar biasa dalam masalah taktik dan strategi politik dan peperangan yang sebanding dengannya. Ia kemudian di ajak kerjasama dalam mengahadapi kekuatan Ali bin Abi ThAli b, yang kemudian setelah itu diberi kepercayaan untuk menaklukan Mesir dan setelah berhasil Amr di percaya menjadi gubernur kota itu. Setelah Muawiyah bin Abi Sufyan berhasil mendapatkan legitimasi politik dari masyarakat luas, khususnya para pendukung Ali dan Hasan di Kufah dan Basrah, jabatan tersebut tetap di percayakan kepada Amr bin Al-Ash. Pemberian jabatan ini karena Muawiyah tau persis kemampuan yang di miliki Amr dan kekuatan yang ada padanya. Amr berkuasa sebagai gubernur selama kurang lebih dua tahun (41-43 H).

Selain merangkul Amr bin Al-Ash, Muawiyah bin abi sufyan juga mengangkat Al-Mhugirah bin Syu’bah. Ia memiliki potensi besar dengan dukungan masa yang cukup banyak di kotanya. Karena itu, ketika Muawiyah berkuasa sebagai khAli fah, ia melihat Al-Mughirah sebagai seorang tokoh potensial yang perlu di rangkul dengan jabatan strategis di wilayah Kufah, jabatan yang pernah di dipegang selama satu tahun atau dua tahun ketika Umar bin Khattab berkuasa yang mencakup pula wilayah Syiria. Ia mengaku jabatan ini selama lebih kurang satu dasawarsa hingga ia wafat pada tahun 50 H. Setelah ia wafat, wilayah kekuasaanya di gabungkan Muawiyah ke dalam wilayah pemerintahan gubernur Ziyad bin Abihi.

Tokoh lainnya yang dianggap perlu diangkat adalah: Ziyad bin Abihi. Dalam pandangan Muawiyah , orang seperti Ziyad juga perlu mendapatkan perhatian dan kedudukan khusus di pemerintahan. Sebab, Ziyad bin Abihi, meskipun sedikit memiliki pengaruh keluarga atau klan, karena Ziyad di beritakan tidak memiliki ayah yang jelas yang kemudian orang mengenalnya dengan sebutan Ziyad bin Abihi tetap saja menjadi orang yang di perhitungkan oleh Muawiyah , bukan hanya karena reputasinya, juga karena dari penelusuran silsilah atau asal usulnya, ternyata Ziyad di ketahui anak seorang ibu yang sebenarnya budak Abi Sufyan yang berasal dari Thaif yang berAli h tangan al-Harits bin Kaldah sebelum Ziyad lahir. Karenanya, Ziyad juga sering di sebut dengan Ziyad bin Abi Sufyan.

Pada masa khAli fah Ali bin Abi ThAli b berkuasa, Ziyad di tunjuk sebagai gubernur Basrah dengan tugas khusus di persia bagian selatan. Karenanya ketika Ali wafat, dan Hasan memberikan kekuasaan kepada Muawiyah dalam peristiwa Am al-Jama’ah di maskin tahun 661 M/41 H, ia pindah ke persia sembunyi di sana. Hal itu di lakukan karena ia merasa khawatir akan keselamatan dirinya karena ia telah menolak ajakan Muawiyah agar Ziyad mau bergabung bersamanya yang telah mengakuinya sebagai saudara seayah.

Berkat kecerdikan Muawiyah dan kepiawaian, maka Muawiyah akhirnya mampu mempengaruhi Ziyad untuk bergabung dengannya, bahkan Muawiyah mengikatnya dengan ikatan perkawinan antara putri Muawiyah dengan putra Ziyad bernama Muhammad bin Ziyad. Dengan cara-cara seperti itu, akhirnya Ziyad mau menyatakan bersedia bergabung dan secara otomatis mengakui keberadaan khAli fah Muawiyah bin Abi Sufyan. Hal tersebut dilakukan Muawiyah karena ia melihat potensi besar yang dimiliki Ziyad dalam masalah kemiliteran dan keteguhan dalam mempertahankan prinsip yang dimilikinya.

Ditempat tugas barunya inilah Ziyad menyampaikan pidato perdananya kepada masyarakat Basrah. Pidato yang disampaikan sangat mengagumkan dan sekAli gus menggetarkan sendi-sendi orang yang berusaha menentang kekuasaannya atau kekuasaan Muawiyah . Pidatonya itu di kenal dengan pidato batra, karena tidak dimulai dengan ucapan basmalah. Isi pidatonya sangat jelas dan menelanjangi kejahatan-kejahatan penduduk Basrah. Ia mengulurkan ancaman-ancaman keras terhadap mereka yang tidak patuh. Dalam pidatonya itu, ia juga bersumpah kalau tidak hanya akan menghukum mereka yang berdosa, juga menghukum tuan lantaran dosa hamba sahaya, dan seterusnya.

Setelah terjadinya ketentraman dan persatuan dalam kedaulatan Islam , Muawiyah bin abi sufyan mulai malancarkan Ekspansi Militer Ke timur, Pasukan Islam berhasil menaklukan Khurasan (663-671) dari arah Basrah, menyebrangi sungai Oxus, dan menyerbu Bukhara di Turkistan (674). Ke Barat, Gubernur Mesir mengirim ekspedisi dibawah pimpinan Uqba bin Nafi menaklukan Afrika Utara yang masih dikuasai Bizantium sampai Algeria. Ke Utara, menye-rang Asia Kecil untuk melawan Bizantium. Muawiyah juga meluncurkan serangan sebanyak 2 kAli meskipun tidak berhasil untuk mengepung Konstan-tinople yang dipimpin putranya, Yazid bin Muawiyah

Artikel Asli

Pendidikan Untuk Anak. Inilah Kenapa Nabi Muhammad Melarang Umatnya Minum Sambil Berdiri…

1500 Tahun yang lalu Rasulullah memperingatkan keluarga dan para sahabatnya untuk jangan pernah minum sambil berdiri. Selain murni hanya karena perintah Allah SWT, tak ada alasan lain yang lebih khusus. Reaksi para sahabat? Mendengar dan taat.

Namun kemudian, beberapa abad setelah perintah Rasul itu, para ilmuwan zaman sekarang menemukan fakta-fakta ilmiah soal tidak bolehnya minum sambil berdiri.

Dari Anas dan Qatadah radhiallaahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

“Sesungguhnya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri.” Qotadah berkata: ”Bagaimana dengan makan?” Beliau menjawab: “Itu lebih buruk lagi,” (HR. Muslim dan Turmidzi).

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Jangan kalian minum sambil berdiri ! Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan!” (HR. Muslim).

Pendapat Para Ilmuwan Muslim
Dr. Abdurrazzaq Al-Kailani berkata: “Minum dan makan sambil duduk, lebih sehat, lebih selamat, dan lebih sopan, karena apa yang diminum atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lembut.

Adapun minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras, jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar dan jatuhnya usus, yang kemudian menyebabkan pernah sekali minum sambil disfungsi pencernaan.

Begitu pula makan sambil berjalan, sama sekali tidak sehat, tidak sopan, tidak etis dan tidak pernah dikenal dalam Islam dan kaum muslimin.”

Dr. Ibrahim Al-Rawi melihat bahwa manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan sempurna.

Ini merupakan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat tepenting pada saat makan dan minum.

Ketenangan ini bisa dihasilkan pada saat duduk, dimana syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan cara cepat.

Dr. Al-rawi menekankan bahwa makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus.

Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf (Vagal Inhibition) yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak.

Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus –menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung. Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa bebenturan dengan makanan atau minuman yang masuk.

Mekanisme Minuman dan Makanan yang Masuk ke Dalam Tubuh
Air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh sfringer. Sfringer adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup.

Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Nah. Jika kita minum berdiri air yang kita minum tanpa disaring lagi.

Langsung menuju kandung kemih. Ketika langsung menuju kandung kemih, maka terjadi pengendapan disaluran ureter. Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter. Inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang berbahaya. Susah kencing itu penyebabnya.

Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum. Wallahu alam.

Artikel Asli

Ternyata Ini 5 Rahasia Mengapa Alumni Pesantren Banyak yang Sukses

Pesantren, entah yang klasik atau yang modern, telah terbukti menghasilkan banyak orang hebat. Alumni pesantren bisa berkiprah di mana saja. Bahkan, ada alumni pesantren yang bisa menjadi presiden, menteri, birokrat, ekonom, profesor, dan sederet profesi mentereng lainnya.
Ini tentu saja membuktikan bahwa pendidikan pesantren tidak dapat dipandang sebelah mata. Apa sebetulnya yang membuat pendidikan model pesantren bisa menghantarkan alumni-alumni sukses di masa depannya? Ini 5 rahasianya:

1. Dapat Bimbingan Intensif dari Kiai

Salah satu kunci sukses menuntut ilmu adalah mendapat perhatian khusus dan bimbingan yang intensif dari guru. Di pesantren, anak akan selalu mendapat sentuhan spiritual maupun moral dari seorang kiai.

Selain selalu mendoakan santrinya, kiai juga selalu memantau perkembangan para santrinya, baik lahir maupun batin. Sehingga, anak tidak hanya belajar untuk menjadi orang pandai saja, tetapi juga dididik agar menjadi orang yang dapat mengamalkan ilmu yang ia dapat di pondok.

Betul, tanpa di pesantren pun anak-anak kita dapat mengakses kajian Islam apa pun yang dia inginkan dengan bantuan internet.

Namun, ilmu yang didapatkan, mungkin tidak akan menyentuh psikologi-spritualitas si anak. Bukankah ada pesan dalam bahasa Arab yang mengatakan, “man laisa lahu syaikh fi al-ta’allum, fa syaikhuhu syaithan (seseorang yang belajar tanpa bimbingan guru, maka gurunya adalah setan)”.

2. Belajar Sederhana dan Mandiri

Pesantren adalah salah satu lembaga yang dapat mengajarkan anak mengerti arti kesederhanaan sesungguhnya. Tidur di atas kasur lipat, makan seadanya, mencuci pakaian sendiri, merapihkan lemari sendiri, dan lain sebagainya.

Jika sejak dini anak diajarkan kesederhanaan, paling tidak ketika dia besar dapat meminimalisir sifat-sifat tamak yang sering kita saksikan dari pejabat korup di negeri ini. Sehingga, dari kesederhanaan yang ia jalankan, sifat kemandirian akan muncul dengan sendirinya.

Yakinlah, anak tidak akan sengsara seperti kekhawatiran banyak orangtua. Bukankah Nabi Muhamad sejak kecil tidak sempat merasakan kasih sayang orangtuanya setelah keduanya meninggal? Justru, menitipkan anak di pesantren itu bagaikan mendidik anak agar mandiri seperti Nabi yang jadi panutan umat Islam di seluruh dunia. Ingin bukan, kalau anak menjadi panutan banyak umat?

3. Belajar Mengenali Lingkungan

Para santri yang belajar di pesantren, biasanya datang dari berbagai latar belakang yang berbeda, baik dari suku, budaya, bahasa, dan lain sebagainya. Perbedaan latar belakang tentu mempengaruhi terhadap karakter orang itu sendiri.

Orang Madura berbeda dengan orang Sunda, orang Jawa berbeda dengan orang Padang, dan begitupun seterusnya. Dari sini, anak akan belajar banyak sekali terkait perbedaan antar sesama penduduk Indonesia yang berada dalam teritorial yang berbeda.

Sehingga, hal ini bermanfaat untuk anak di masa depannya agar memiliki sikap toleransi yang diajarkan oleh Islam dan dapat dengan mudah mengenali masyarakat yang ada di lingkungan sekitarnya.

4. Belajar Bertanggung Jawab

Pesantren juga mengajarkan bagaimana anak dapat bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya. Bila dia bersalah, maka pondok memberikannya sangsi berupa takzir, seperti digundul, membersihkan halaman sekitar pondok, menghapal pelajaran, dan lain sebagainya.

Sanksi tersebut diharapkan dapat menyadarkan bahwa perbuatan melanggar aturan itu adalah tidak baik. Tentu, akan tergambar dalam benaknya bahwa santri yang ditakzir adalah santri yang tidak baik.

Sehingga, sanksi tersebut dapat menanamkan dalam benak anak untuk berani bertanggung jawab bila ia melanggar peraturan yang ditetapkan pondok. Bukankah permasalahan terbesar bangsa ini adalah lemahnya penerapan hukum?

5. Ikhlas Berbuat untuk Masyarakat

Ingat pesan Nabi yang ini: “Sebaik-baik manusia adalah dia yang bermanfaat untuk sesama” (H.R.Thabrani)? Nah, pondok merupakan salah satu sarana bagaimana anak peka terhadap lingkungannya tanpa mengharapkan imbalan, apalagi sampai mentarif bayaran tertentu.

Jadi, sejak dini anak sudah ditanamkan sifat-sifat “malaikat” yang membantu orang yang membutuhkan tanpa mengharap imbalan tertentu. Bahkan, Al-Munawi dalam Faidhul Qadir mengatakan bahwa maksud manusia yang terbaik dalam Hadis di atas adalah pemimpin yang adil.

Ketika seseorang sudah dapat berlaku adil, maka tawaran materi sebesar apa pun akan ia tolak. Ini berarti dia telah ikhlas berbuat untuk masyarakatnya.

Sumber Datdut,com, Lirboyo, net

Ini Alasan dan Solusi Ketika Anak Tidak Betah di Pesantren

Tidak kerasan atau tidak betah di pesantren merupakan salah satu penyebab santri akhirnya minta orang tua agar menjemput pulang dan tidak mondok lagi. Kalau sudah begini orangtualah yang sedih.

Niatan untuk memiliki anak yang saleh dan lebih luas pengetahuan agamanya pupus sudah. Meskipun memang menuntut ilmu agama bisa saja di luar pesantren, tanpa mondok, namun menjadi santri pesantren tetap merupakan pilihan tepat.

Tidak betah atau tidak kerasan tidak hanya dialami santri baru. Santri lama pun sebenarnya banyak juga yang mengalami masa tidak kerasan. Bahkan kadang lebih menyiksa. Santri lama yang ngempet (menahan) tidak kerasan lalu menyalurkannya dengan berbagai kegiatan di luar kegiatan pokok pesantren, juga berpotensi menimbulkan tidak kerasan yang lebih parah. Ini sering terjadi.

Bagi orangtua yang memiliki buah hati sedang merasakan tidak betah atau tidak kerasan di pesantren, sebaiknya diteliti dulu. Apa alasan tidak kerasannya? Lalu haruskah boyong alias tidak mondok lagi? Benarkah itu solusi terbaik? Nah, mungkin 5 alasan berikut ini ada yang salah satunya menjadi sebab buah hati Anda tidak kerasan:

1. Jauh dari Orangtua
Jauh dari orangtua adalah alasan paling sering dilontarkan santri baru. Menangis adalah hal lumrah bagi santri baru. Bahkan karena sudah lumrahnya, sampai-sampi ada ungkapan, santri baru harus nangis dulu biar kerasan.

Kalau ini yang jadi penyebab tidak kerasan lalu ingin berhenti mondok, cobalah baca dan dengarkan kisah dan cerita para ulama zaman dahulu. Bagaimana para imam mazhab menuntut ilmu, bagaimana para kiai nusantara mengarungi perjalanan jauh hanya berjalan kaki demi mondok, dan sebagainya.

Satu hal yang paling harus diingat, jauh dari rumah dan orangtua saat ini adalah dalam rangka membahagiakan orangtua. Memberi kebanggaan kepada mereka, dan juga agar mendapat keridhaan dan doa mereka.

Coba tanyakan pada mereka, lama manakah antara mondok dengan di rumah? Sejak kecil hinga usia remaja, lalu nanti setelah selesai mondok. Maka masa mondok tak seberapa lama jika dibanding kebersamaan mereka dengan orangtua.

2. Kelelahan Mengikuti Kegiatan
Masih jadi alasan santri baru, yaitu lelah mengikuti padatnya jadwal kegiatan di pesantren. Di pesantren-pesantren besar yang semi modern dan pesantren modern kegiatan memang sangat padat.

Mulai sebelum subuh hingga malam hari. Bahkan kadang pukul 24.00 baru pesantren benar-benar istirahat. Itu diluar kegiatan pribadi setelah pukul 24. Misalnya ngelembur hafalan, ngelembur belajar baca kitab dan sebagainya.

Proses adaptasi dengan lingkungan memang harus dijalani. Kalau memang fisik tidak memadai, tentu harus berani lapor pengurus, ustaz, agar mendapat keringanan. Periksa juga kegiatan pribadi buat hati Anda. Benarkah ia kelelahan mengikuti kegiatan pondok atau justru kelelahan karena melakukan kegiatan pribadi?

3. Pesantrennya Kurang Nyaman
Kurang nyaman, tidurnya gak pakai kasur, atau kasurnya gampang dibuat rebutan. Itu juga alasan santri baru. Itulah dunia pesantren. Keberhasilan yang dicapai para ulama dan para pembesar keilmuan Islam banyak yang berasal dari jalan berat.

Dikisahkan bahwa Imam Thabrani, pernah ditanya penyebab begitu banyaknya hadis yang ia riwayatkan. Beliau menjawab, “Aku tidur di tikar selama 30 tahun.”

Perlu sekali para santri baru mengerti bahwa pesantren bukanlah kamar kost. Tapi pesantren merupakan tempat penggemblengan akidah, akhlak, dan pembentukan mental pamuda Islam yang tahan banting. Sehingga melahirkan generasi yang teguh menuntut ilmu meski keadaan sangat terbatas.

Santri zaman dahulu bahkan rela membikin sendiri gubuknya demi ikut mengaji. Asrama angkring adalah bukti kegigihan santri pendahulu.

4. Nggak Bisa Makan Enak
Menu yang itu-itu saja, kurang bergizi, dan tidak bisa makan enak juga jadi alasan sebagian santri yang tidak kerasan. Kadang orangtua juga justru seolah tidak terima kalau anaknya di pesantren kurang makan.

Berbeda dengan tinjauan medis dan pendidikan modern, para ulama justru tidak menekankan pentingnya makan makanan bergizi. Perlu tapi bukan prioritas. Karena mereka makan hanya untuk bertahan hidup dan melaksanakan tugasnya saat mencari ilmu.

Kembali ke kisah perjalanan para ulama. Mereka banyak yang rela berhari-hari tidak makan hanya demi menuntut ilmu. Mereka makan hanya untuk sekedar bertahan hidup. Pernah dikisahkan oleh K.H. Hisyam Syafaat, Pengasuh Pesantren Darussalam, Blokagung, bahwa Mbah Kiai Syafaat saat mondok pernah hanya makan pucuk dedaunan dan rumput di sawah. Bekal habis, dan malu kalau meminta pada rekannya. Bahkan sampai-sampai beliau kalau melihat sekeliling sepertinya warna kehijauan semua.

5. Barang-barang Sering Hilang
Pakaian, sandal, sabun, odol, sikat gigi sering hilang. Kadang uang juga hilang. Ini salah satu alasan santri baru jadi ngambek dan tidak mau meneruskan mondoknya. Ini juga jadi bahan kritik tajam dari orang-orang yang kurang senang dengan pesantren.

Memang, keseharian santri berkumpul dengan sekian banyaknya santri dengan latar belakang berbeda. Kadang juga ada yang nakal. Selain memang perlunya ketelitian dan ketegasan pengurus, namun santri sendiri juga harus terlatih untuk teliti menjaga barang-barang pribadinya. Kalau tidak ingin terkesan pelit, ya harus belajar dan melatih diri untuk ikhlas berbagi benda-benda yang kecil.

Semua yang ada di pesantren bisa menjadi ajang pembentukan mental dan karakter. Selama yang hilang bukan uang dan benda-benda bernilai besar, hal itu bisa jadi media pembentukan karakter ikhlas dan rela berbagi.

Barang sehari-sehari mudah hilang, ghosob sandal, merupakan kondisi yang memang harus ditangani pengelola dan pengurus pesantren dengan serius untuk menghilangakan stigma buruk pesantren sebagai tempat belajar ghasab (pinjam tanpa izin).

Namun santri juga harus belajar menjaga dan menahan diri terhadap harta orang lain. Sedang orang tua harus sadar, bahwa sekian banyak santri tak mungkin seorang kiai menjaga anaknya sampai hal yang detail seperti sandal.

Kunci betah di pesantren, seperti sering dinasehatkan para kiai kuno, adalah CENGKIR. Cengkir itu bahasa jawa artinya buah kelapa yang masih kecil. Sebenarnya Kependekan dari Kencenge Pikir (kuatnya tekad dan pikiran). Kalau tekad sudah bulat, pikiran sudah mantap, apapun yang terjadi, belajar di pesantren bakal tetap dijalani.

Sourch : Datdut