Bantah galau, Rina Nose pilih momen tepat untuk melepas hijab

Setelah berpikir selama 6 bulan, Rina Nose memilih untuk melepas hijab. Ia memposting foto tanpa hijab melalui sosial media dengan disertai curhatan. Walau demikian Rina membantah kata-katanya di sosial media tersebut merupakan bantuk kegalauan.

“Bukan galau ya. Itu bentuk pengamatan aku tentang lingkungan sekitar, tentang apa yang terjadi saat ini. Kemudian aku membuat pendapat dengan kalimat yang aku susun dan aku tuangkan di instagram karena semua orang bebas ber sosial media. Bahkan di sosial media bebas berkomentar kasar. Kalau aku nggak ada kata-kata yang buruk kok,” ujar Rina Nose di kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat, Sabtu (11/11/2017).

Curhatan Rina Nose di instagram saat melepas hijab mendapatkan komentar lebih dari 100 ribu kali. Ia sempat beranggapan beberapa komentar di instagram terbilang menyudutkan.

“Kalau aku buka twitter dan Instagram, aku melihat bahasa di twitter agak tertata rapih dan paham tentang ilmu kehidupan. Saling memahami bagaimana perasaan manusia, jadi komentarnya lebih manusiai ketimbang yang di Instagram,” ujarnya.

Dalam postingannya, Rina menulis bahwa manusia berubah seiring ketetapan hatinya. Rina enggan mengungkap secara gamblang alasan melepas hijab. Namun ia memang menunggu momen yang tepat hingga akhirnya melepas penutup aurat yang sekitar 1 tahun ia pakai sejak 2016 silam.

“Ini kan masalah moment aja, kalau keinginan kan sudah lama ya. Pada saat: Oke, hari ini gua buka (hijab)’, itu masalah momen aja,” tandasnya.

Sumber : www.merdeka.com

Niatan lepas hijab sudah ada di pikiran Rina Nose sejak lama

Rina Nose tengah ramai jadi bahan perbincangan publik. Hal itu tak lepas dari keputusannya untuk menanggalkan hijab yang telah Ia kenakan sejak setahun terakhir. Ya, Oktober 2016 silam, Rina juga mengejutkan banyak orang karena akhirnya memantapkan hati untuk berhijab.

Ketika masih dalam momen berhijab, Rina sempat menjalankan ibadah umrah. Dan uniknya, dari situlah wanita berusia 33 tahun ini mulai merasa ada pergolakan batin yang akhirnya berujung pada keputusan besar untuk kembali menanggalkan hijabnya.

“Ya di situlah (umrah) pergolakan batin. Aku melihat di depan ka’bah ada banyak jutaan manusia setiap hari. Itu luar biasa banget kekuatan yang ada di sana. Di situ kan banyak cerita ya, katanya bisa mengalami kejadian-kejadian. Kalau berbuat baik akan diperlakukan baik, pun sebaliknya. Saya memikirkan hal itu, makanya di sana saya bilang dalam hati, saya yakin pasti Tuhan lebih tahu apa yang saya rasakan, dan saya lebih memuliakan Tuhan. Jadi orang-orang yang bilang, ‘Wuaah kamu tidak mematuhi perintah Allah, itu (berhijab) sudah wajib hukumnya’. Ya iya, memang ada di kitab dan saya pun baca, bahkan mungkin tentang perintah berhijab saya lebih banyak membaca dibanding mereka. Tapi balik lagi, saat di sana saya punya keyakinan, Tuhan itu maha penyayang, maha baik. Jadi apa pun keputusan saya, saya yakin beliau yang lebih tahu,” kenang Rina ketika ditemui di kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat, Sabtu (11/11).

Hingga saat ini, Rina masih belum menjelaskan alasan utamanya untuk melepas hijab. Namun keinginan tersebut rupanya sudah terbesit dalam pikirannya sejak cukup lama. Ya, Rina sudah memikirkan hal ini matang-matang.

“(Pergolakan batin) Sekitar enam-tujuh bulan yang lalu, dan keinginan untuk melepas hijabnya itu sekitar lima bulanan lalu setelah mencari berbagai macam ilmu. Bukan hanya ilmu agama saja, aku baca ilmu falsafat dan menemukan keyakinan dengan Tuhan yang menciptakan aku,” sambungnya.

Dan siapa orang pertama yang jadi sasaran Rina untuk curhat mengenai pergolakan dalam hatinya tersebut? “(Pertama cerita) Kembaran aku, karena dia yang paling paham dengan aku,” pungkas Rina.

Sumber : www.merdeka.com

‘Strategi parpol baru harus tepat, jika tidak maka cuma numpang lewat di Pemilu’

Komisi Pemilihan Umum meloloskan 14 partai politik sebagai peserta pemilihan umum 2019. Dua partai yakni Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) dinyatakan tidak lolos verifikasi faktual.

Dari 14 parpol yang lolos sebagai peserta pemilu 2019, 10 di antaranya merupakan partai lama. Yakni Partai Amanat Nasional, PDI Perjuangan, Partai Demokrat, Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Hanura, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Nasional Demokrat (NasDem), dan Partai Persatuan Pembangunan. Sementara empat parpol merupakan peserta baru di Pemilu yakni Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Berkarya, Partai Persatuan Indonesia (Perindo) dan Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda).

Mampukah empat partai baru ini unjuk gigi di pemilu 2019? Pengamat politik dari Unpad Muradi mencoba membedahnya satu per satu. Mulai dari PSI. Partai yang dikomandoi Grace Natalie ini sejak awal mencoba menarik simpati anak-anak muda. Jika dipetakan, pemilih di bawah 35 tahun ada sekitar 60 juta. Dari jumlah itu, 27 juta di antaranya adalah pemilih pemula.

“Kalau PSI bisa mengumpulkan 5-10 persen dari jumlah pemilih muda yang 60 juga, maka posisi PSI bisa aman. Namun tantangannya adalah apakah yang disasar adalah anak muda yang nyaman dengan politik? karena beberapa partai mengeluh anak muda zaman now itu apolitis. Nah ini tantangan serius bagi PSI,” ungkap Muradi saat berbincang dengan merdeka.com, semalam.

Lalu Partai Partai Gerakan Perubahan Indonesia atau Partai Garuda. Dia melihat, ini bukan partai baru lantaran pengurusnya adalah politisi lama yang aktif di parta-partai tertentu sebelum bergabung dengan partai Garuda. Dia menebak, pemilih yang ingin disasar partai ini sesungguhnya beririsan dengan pemilih yang disasar Partai NasDem, Gerindra, PDIP, hingga Golkar. “Peluangnya sedikit.”

Bicara soal Partai Perindo, sejauh ini selalu memanfaatkan jaringan media yang dimiliki grup MNC untuk mendongkrak popularitas agar dikenal publik. Menurutnya, pemanfaatan media yang dimiliki sebenarnya tidak menjamin partai ini bisa bertahan dan unjuk gigi dalam pertarungan Pemilu 2019. Dia mencontohkan Partai NasDem yang pemilu lima tahun lalu juga gencar promosi lewat media yang dimiliki.

Soal Partai Berkarya, Muradi melihat partai ini mencoba menarik suara dari pemilih Golkar. Partai ini mencoba memunculkan sentimen baru dengan menghadirkan kembali era orde baru. Dibuktikan dengan dimunculkannya tokoh Tommy Soeharto yang identik dengan Presiden RI ke-2 Soeharto. Menurutnya, memunculkan kembali era orde baru bukan perkara mudah karena masih pro kontra.

“Kalau mampu merusak konsentrasi Partai Golkar bisa saja ada peluang tapi berat. Jualan mereka atau yang ditawarkan Berkarya yaitu kejayaan masa orde baru sudah dilakukan Golkar. Tinggal apakah Berkarya bisa mengemas lebih baru? Bisa saja dikemas bahwa Tommy bukan hanya anak ideologis tapi anak biologis Soeharto. Ini bisa jadi perhatian serius Golkar supaya suara mereka tidak lari ke Partai Berkarya,” ucapnya.

Muradi melanjutkan, yang harus dilakukan empat partai baru ini adalah menempelkan kehadiran mereka di pikiran publik. Sehingga, publik mengetahui ada partai baru yang bisa jadi alternatif di Pemilu 2019. Gagasan saja tidak cukup. Mereka memerlukan blocking politik. maksudnya, menghadirkan sosok yang didukung sebagai calon presiden. Dengan begitu, suara partai baru akan ikut terkatrol dengan memunculkan sosok capres.

Ini bisa dilakukan dengan cara menghadirkan figur alternatif calon presiden. Namun bisa juga dengan mendompleng figur capres lama yang memudahkan masyarakat untuk mengenal mereka. Seperti yang dilakukan PSI dan Perindo.

“PSI dari awal dukung Ahok (Pilgub DKI), lalu dukung Jokowi (Pilpres). Orang jadi inget mereka. Perindo juga melakukan hal sama. Itu muncul di benak publik. Salah satu langkah utama dalam politik, dikenal dulu. Melekat dulu di kepala publik. Ini psikologi politik yang akhirnya publik memilih. Persoalan akhirnya publik memilih mereka itu nomor dua,” kata Muradi.

Momentum Pilkada Serentak 2018 bisa menjadi jalan bagi partai baru untuk dikenal publik. Mereka bisa mulai memberikan dukungan kepada calon-calon kepala daerah, hanya sekadar untuk dikenal publik. Kehadiran dan dukungan partai baru ke salah satu calon kepala daerah, akan diperhitungkan oleh pemilih. Namun, memutuskan dukungan juga harus dengan pertimbangan politik yang matang. Terlebih partai-partai baru yang punya irisan dengan partai lama. Seperti partai Berkarya dengan Partai Golkar.

“Blocking politik dengan menjadi pendukung salah satu calon di pilkada. Cukup dukung saja. Paling tidak publik akan ingat. Memori politik publik terbangun. Pelan-pelan membangun pendekatan publik. Dari situ kelihatan peta elektoralnya.”

“Strategi partai baru harus tepat, kalau tidak ya mereka hanya numpang lewat,” tegasnya.

Sumber : www.merdeka.com

Kasus penganiayaan, artis Gusti Rosalina laporkan eks Sekjen NasDem ke Polda Metro

Pemain sinetron Gusti Rosalina alias Ocha melaporkan tindak penganiayaan yang dialaminya ke Mapolda Metro Jaya, Jumat (16/2). Penganiayaan itu diduga dilakukan oleh mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai NasDem Patrice Rio Capella.

“Patut diduga pelakunya adalah Patrice Rio Capella. Mantan Sekjen Partai NasDem. Dan beliau itu pernah jadi anggota DPR,” kata Pengacara Ocha, Razman Arif Nasution di Mapolda Metro Jaya, Jumat (16/2).

Razman memaparkan penganiayaan yang dialami kliennya berupa cakaran dan sempat didorong oleh Patrice. “Karena beliau ini dicakar, didorong, ditarik terjatuh dan hampir pingsan. Kemudian leher, bibir pecah atasnya. Kita akan sudah buat surat pengantar untuk visum, LP sudah,” ungkapnya.

Penganiayaan itu dipicu karena pertengkaran antara Ocha dan Patrice. Mereka bertengkar karena ada wanita yang diduga istri pertama Patrice membobol apartemen Ocha.

Wanita yang pernah bermain dalam film berjudul ‘Rumah Bekas Kuburan’ ini, tambah Razman, merupakan istri sirih Patrice yang dinikahi selama kurang lebih satu tahun. Mereka bertemu saat Ocha mejadi pembawa acara di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) khusus tahanan korupsi, di Sukamiskin, Jawa Barat. Saat itu Patrice masih menjadi terpidana suap Dana Bantuan Sosial (Bansos).

“Mereka bertengkar karena beberapa waktu lalu ada perusakan di apartemen Oca. Diduga dilakukan istri pertama Patrice, sesuai CCTV, bekerjasama dengan sopir dan beberapa orang. Mobil yang digunakan Vellfire diberikan Patrice,” ujarnya.

Akibat dari tindakan tersebut, Patrice dilaporkan pihak Ocha atas dugaan pelanggaran Pasal 351 Ayat 1 tentang penganiayaan. Ancamannya 2 tahun 8 bulan penjara.

“Kami baru saja melaporkan dugaan tindak pidana penganiayaan. Pasal 351 ayat 1 yaitu dengan kekerasan dengan ancaman hukuman 2 tahun 8 bulan,” tandasnya.

Sumber : www.merdeka.com

Polisi dalami adanya kaitan kasus Roro Fitria dan Fachri Albar

Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Mardiaz Kusin Dwiharnanto menegaskan, kalau tertangkapnya Fachri Albar tidak ada kaitannya dengan kasus Roro Fitria. Walaupun kedua artis itu sama-sama terkena kasus narkoba.

“Enggak. Yang jelas Roro ini ditangkap oleh Polda Metro Jaya. Setelah cek teman teman di lapangan. ini nggak ada kaitannya,” ujarnya di Polres Jakarta Selatan, Kamis (15/2).

Namun, Mardiaz menjelaskan kalau hal itu tak menutup kemungkinan adanya hubungan.

“Tapi apabila mungkin, kita enggak tahu. Kita dalami. Kita enggak tahu. Apakah sesama artis punya perkumpulan. Tempat tertentu katakanlah yang mereka gunakan untuk narkoba. Kita belum tahu. Karena sama-sama proses penyidikan. Polres masih perkembangan penyidikan, Polda juga,” jelasnya.

Seperti diberitakan, pada Rabu (14/2) Polres Metro Jakarta Selatan merilis telah berhasil menangkap anak legendaris Ahmad Albar dengan barang bukti satu plastik klip sabu, tiga belas tablet dumolid, satu butir calmet dan sarana alat hisap sabu.

Sehari itu, Polda Metro Jaya kembali merilis dengan diamankannya artis seksi Roro Fitria, di kediamannya di Ragunan, Jakarta Selatan. Sebanyak 2,4 gram sabu berhasil disita dari kasus Roro.

Sumber : www.merdeka.com

Kasus narkoba, artis Roro Fitria ditangkap

Jajaran Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya kembali menangkap seorang artis karena diduga terlibat narkoba. Kali ini, polisi meringkus Roro Fitria.

“Iya benar (Roro Fitria) sabu 2 gram,” ujar Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Suwondo Nainggolan saat dihubungi, Kamis (15/2).

Belum diketahui kronologis dari penangkapan tersebut dan berapa jumlah barang bukti yang disita. Namun, menurut Suwondo pihaknya masih memeriksa artis seksi itu.

“Masih diperiksa,” ujarnya.

Sumber : www.merdeka.com

Sandiaga Uno ajak pasukan kuning nonton film Takut Kawin

Beberapa waktu lalu, para cast, berikut sutradara serta produser dari film Takut Kawin mengunjungi kantor Gubernur DKI Jakarta pada Selasa, (12/2). Di acara kunjungan tersebut, mereka berkesempatan untuk bertemu dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno.

Indah Permatasari dan Herjunot Ali, langsung disambut hangat oleh orang nomor dua di Jakarta itu. Bahkan, Sandi juga sesekali memberikan candaan kepada mereka.

“Film ini bisa jadi inspirasi para jomblo-jomblo yang belum kawin, jangan terlalu banyak berpikir dan banyak pilihan, bismillah saja. Malah nanti nggak kawin-kawin, biar dapat jodohnya,” kata Sandiaga Uno.

Sandiaga juga berjanji, akan mengajak Pegawai Negeri Sipil (PNS) hingga Petugas Penangananya Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) atau lebih dikenal dengan pasukan orange untuk menonton film besutan sutradara Syaiful Drajat itu. Sandiaga menilai, industri perfilman tanah air memang layak untuk didukung.

“Akan kami instruksikan agar pasukan orange yang jumlahnya dua puluh ribu orang untuk nobar film Takut Kawin. Kalau kepada PNS Pemprov DKI yang jumlahnya Tujuh Puluh Ribu sifat nya himbauan. Tapi insyaAllah kalau banyak yang nonton industri film akan terus tumbuh. Ini yang kami harapkan,” katanya.

Sementara itu, Nasrul Warid selaku produser Amanah Surga Produksi merasa senang dan bersyukur kedatangannya disambuy hangat oleh Sandiaga Uno. Apalagi, Sandiaga juga berjanji akan mengajak PNS sampai Pasukan Orange untuk menonton film Takut Kawin.

“Upaya kami minta support kepada Pemprov DKI Jakarta direspon dengan baik. Kalau himbauan wagub dipatuhi artinya film ini akan ditonton setidaknya seratus ribu, lumayan. Tapi kami berharap Takut Kawin bisa ditonton tiga juta orang. InsyaAllah,” kata Nasrul Warid.

Tak hanya sang produser film Takut Kawin, Herjunot Ali selaku pemeran utama juga merasa bangga bisa mendapat filmnya bisa diapresiasi oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta. Menurutnya, pemprov DKI juga harus mendukung penuh perfilman di Indonesia.

“Tidak sekedar himbauan menonton tapi perlu banyak dukungan lain. Misalnya menurunkan pajak tontonan, agar para kreator film bisa bergerak bebas. Pun dengan perijinan yang selama ini banyak dikeluhkan para pelaku industri film terlalu ribet dan bertele-tele harus segera dibenahi,” tandas Herjunot Ali.

Sumber : www.merdeka.com

Roro Fitria pesan sabu buat rayakan hari Valentine

Artis kontroversi, Roro Fitria kini harus mendekam di balik jeruji besi. Ia tertangkap tangan memesan sabu seberat 2,4 gram dari Wawan Hartawan, pria berusia 40 tahun yang berprofesi sebagai fotografer.

Menurut pengakuan Roro, sabu tersebut akan digunakannya saat merayakan Hari Valentine.

“Pas kita tanya RF ternyata benar dia mengakui, dan kemudian untuk apa? Informasinya akan digunakan tanggal 14 malam hari valentine,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Kamis (15/2).

Katanya, Roro memesan barang haram itu pada Selasa (13/2) lalu. Namun, barang itu tak ada.

“Awalnya pemesan (Roro Fitria) tanggal 13 malam, tapi barang kosong baru adanya tanggal 14. Awalnya itu pemesanan ada 3 gram, tapi saat ini baru ada 2 gram,” ujarnya.

Roro yang ditangkap di rumahnya di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, pada pukul 13.00 Wib, terancam kurungan di atas lima tahun penjara.

“Yang bersangkutan kita kenakan pasal 112, 114 dan 132 ancaman 5 tahun lebih,” tegasnya.

Sumber : www.merdeka.com

HIDUPNYA SEMPAT PILU, ARTIS INI SEKARANG BANGKIT LAGI DAN NASIBNYA BERUBAH DRASTIS

Berkecimpung di dunia hiburan sejak 1999 nama artis cantik sangat dikenal oleh publik pada masanya, Berparas cantik dan berprestasi membuat dirinya Perlahan tapi pasti, kariernya semakin meroket saat ia membintangi sejumlah judul sinetron.

Satu di antara sinetron yang membuat namanya semakin dikenal adalah Sephia yang tayang pada 2002 silam. Usai kariernya di dunia sinetron semakin sukses, artis cantik ini pun melebarkan sayapnya di dunia perfilman Indonesia. Perannya yang paling ikonik saat itu yakni di film Denias, Tusuk Jelangkung, dan Brownies. Namun sayang, di tengah kariernya yang semakin meroket, ia justru dirundung masalah penganiyaan.

Pada 2009, Majelis Hakim di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat memvonis ia dengan hukuman penjara enam bulan 20 hari. Adalah Marcella Zalianty yang menjadi pelaku penculikan dan penganiyaan terhadap seorang desainer interior, Agung Setiawan. Namun, dari pihak Marcella membela diri karena Agung Setiawan telah berhutang pada dirinya sebesar Rp 50 juta karena lalai dalam perjanjian tugasnya.

Dilansir Kompas, Kasus ini juga melibatkan nama Ananda Mikola yang saat itu masih menjadi kekasihnya.
Mereka pun terpaksa menjadi bahan cemoohan publik. Setelah menjalani proses pemeriksaan, Marcella Zalianty dan Ananda Mikola harus merasakan dinginnya kehidupan di balik jeruji. Saat mendekam di hotel prodeo, sosoknya bak hilang ditelan bumi.

Tak ada kabar apapun mengenai Marcella dan Ananda Mikola. Satu yang pasti, saat dipenjara, sempat beredar kabar bahwa Marcella Zalianty menjadikan rumah tahanan sebagai pesantren bagi dirinya. Hal itu diungkap langsung oleh sang adik, Olivia Zalianty di depan awak media. Marcella, ungkap Olivia, tak menjadikan penjara sebagai tempat siksaan, tapi justru sebagai tempat di mana ia bisa belajar mengenai kehidupan lebih banyak.

Setelah menjalani kehidupan selama beberapa bulan di penjara, Marcella menata kembali kehidupannya hingga terjun lagi di dunia hiburan. Kehidupan di penjara ternyata membuat benih-benih cinta Marcella dan Ananda Mikola semakin berkembang. Pasalnya, setelah keluar dari penjara, Ananda Mikola akhirnya menikahi sang pujaan hatinya itu pada 29 November 2010.

Pernikahan mereka tampak semakin harmonis setelah dikaruniai dua orang putra bernama Kana Mahatma Soeprapto dan Aryton Mahali Sastra Soeprapto. Di tengah kebahagiaannya itu, Marcella harus menerima kenyataan pahit karena anak keduanya, Magali menderita tumor jinak yang disebut Choroid Plexus Papilloma. Penyakit tumor ini terdeteksi pada November 2014 saat usia Magali baru menginjak 1 tahun.

Setelah melakukan serangkaian pengobatan dan operasi, bersyukur kondisi Magali semakin membaik dari hari ke hari. Bahkan kini, Magali tumbuh layaknya anak lelaki seusia dia. Sementara, kiprah sang ibu di depan layar kaca semakin menghilang. Hal tersebut lantaran keputusan Marcella untuk berkarier di balik layar.

Marcella semakin gencar untuk menggaungkan perfilman Indonesia. Selain itu, ia juga kerap mengikuti sejumlah acara untuk mempromosikan kuliner, film, ekonomi kreatif, dan budaya Indonesia di luar negeri.

Meski masih disibukan oleh sejumlah konferensi, rapat, dan pertemuan internasional lainnya, Marcella tetap tak meninggalkan kewajibannya sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya. Kakak Olivia Zalianty ini selalu membagikan momen-momen bahagia bersama suami dan dua jagoan kecilnya. Setelah menjalani rumah tangga sekitar tujuh tahun lebih, rumah tangga Marcella dan Ananda Mikolla terbilang adem ayem dan jauh dari gosip.

Selain itu, sosok Marcella pun tak banyak berubah. Tetap cantik dan eksotis seperti saat masih aktif bermain di beberapa judul sinetron dan film. Sosok Marcella menjadi contoh betapa pentingnya mengambil hikmah dari setiap masalah yang menimpa, serta tetap maju untuk menjadi wanita yang bisa membanggakan bagi keluarga dan negara.

A post shared by Ananda Mikola (@anandamikola27) on

Sumber: blogshah.com

Kepada polisi, Fachri akui jadi pemadat sejak tahun 2015

Fachri Albar diancam hukuman penjara empat hingga 12 tahun penjara. Fachri telah terbukti bersalah dari hasil penggerebekan pihak kepolisian yang menemukan beberapa barang bukti dan juga hasil tes urinenya yang dinyatakan positif amphetamine dan methapethamin.

Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Mardiaz Kusin Dwiharnanto mengatakan, Fachri mengaku memakai barang haram tersebut sejak 2015.

“Hasil lidik sementara, tersangka sudah gunakan barang bukti jenis ganja sejak 2015, dan setahun konsumsi sabu, keterangan dia juga dia dumolid pakai untuk tenangkan diri,” ujarnya di Polres Metro Jakarta Selatan, Rabu (14/2).

Katanya, barang haram itu ia gunakan untuk menghilangkan depresi kerjaannya.

“Ya namanya depresi macem-macem ya,” ujarnya.

Saat dilakukan penggeledahan dan penangkapan kediamannya di perumahan Serenia Hills, Cirendeu. Kepolisian menemukan beberapa barang bukti.

“Satu plastik klip sabu, tiga belas tablet dumolid, dan satu butir calmet dan banyak lagi sarana alat hisap sabu berupa bong, cangklong, ditemukan di kamarnya di lantai satu,” pungkasnya.

Atas perbuatannya, anak dari penyanyi rock legendaris, Ahmad Albar diancam Pasal 112, subsider 111 Undang-undang narkotika No 35 Tahun 2009.

“Ancaman paling lama 12 tahun, singkatnya 4 tahun,” tandasnya.

Sumber : www.merdeka.com