Seakan Menyimpan Pesan yang Sangat Kuat Tanpa Dijelaskan pun Foto ini sudah Bercerita

Tanpa wajib dipaparkan photo ini sudah bercerita

photo ini diunggah seorang, dalam photo ini seolah serupa saat sebelum dan juga seusai, ada banyak pesan yang dapat diambil dari photo ini, tidak terencana dapat memperoleh photo yang amat bagus seolah allah sudah merencanakannya, memperlihatkan kepada kita yang sepatutnya mencintai orang tua seolah orang tua mencintai kita juga

banyak warganet yang hatinya tersentuh

sebagaimana dilansir dari brilio, seseorang pengguna facebook bernama restoris a. fatiha sukses mengabadikan satu photo dengan pesan yang amat kokoh dan juga mendalam kala dalam ekspedisi memakai kereta jurusan kutoarjo – solo.

dalam photo yang dia unggah 18 oktober kemudian tersebut serupa tergambar 2 fase kehidupan yang wajib dilewati insan manusia.

berikut tulisan dari resrotis

Sayangilah orang tuamu, sebagaimana orang tuamu menyayangimu, membesarkanmu, mendidikmu, dan merawatmu dgn sepenuh…

Dikirim oleh Restoris A. Fatiha pada 17 Oktober 2017

sayangilah orang tuamu, sebagaimana orang tuamu menyayangimu, membesarkanmu, mendidikmu, dan juga merawatmu dgn sepenuh hati.. .

pagi ini jam 06. 20 waktu indonesia barat (WIB) di dalam kereta api prameks tujuan kutoarjo – solo aku memandang suatu yg membikin hati aku langsung merindukan orang tuaku, langsung membikin ” trenyuh ” dan juga kerasanya pengen meneteskan air mata.

suatu aksi yg nampak simpel, tp amat bermakna dan juga amat berarti untuk org yg melihatnya.

awal mulanya aku memandang seseorang yg bisa jadi berumur dekat 50an tahun duduk berbarengan/berdampingan dgn orang tuanya yg bisa jadi berumur dekat 75 – 80an tahun, selang sebagian dikala sang orang tua nampak mengganti posisi duduknya bersandar di badan anaknya yg lagi menerima tlp, dan juga mendadak itu pula org yg lagi menerima tlp tersebut mengganti posisi tangan kanannya memeluk/merangkul orang tuanya dgn penuh kasih sayang, selayaknya orang tua yg lagi merangkul/memeluk anak2 yg masih kecil.

begitu panorama alam yg amat simpel ini sanggup menggugah hati dan juga menegaskan kita bagaikan seseorang anak buat senantiasa mencintai dan juga menyayangi orang tua kita meski dgn trik yg simpel.. . .

3 photo yang dia unggah setelah itu menemukan respons yang luar biasa dari warganet.

walaupun tidak tertulis dalam caption yang ditulis restoris, banyak warganet yang menyoroti nilai yang ada dalam objek photo tersebut.

” udah gitu disebelahnya terdapat keluarga yg lg berbahagia sm anaknya yg masih kecil, ini tuh peristiwa yg suatu bgt.

kayaknya seolah ngasih suatu pesan moral yg tidak disengaja. waktu kecil di sayang ortu, cocok ortu udah menua, amati yang sebelah kiri.

@bundae zidan: ” after dan juga before, sebelah kanan menggambarkan dimana dahulu waktu kita kecil senantiasa disayang2, , orang tua desigram telaten membikin bahagia anaknya, sebelah kiri menggambarkan bakti sang anak yg pada waktu kecil senantiasa disayang ortu sebagaimana gambar yg kanan.. klop banget sketsanya.. 😊😊 ”
kita jg wajib mengasihi mereka sama dikala mereka mengasihi kita dikala kecil. : ) begitu ini momen yg aaaahhhh to twiiittt, ” tulis abella nova mengomentari.

” ini seperti photo before – after yaa, ” imbuh kharuniastuti.

benar pesan yang tidak terencana di informasikan langsung lewat photo ini amat luar biasa, dalam photo yang sebelah kanan nampak orang tua yang amat mencintai anaknya, dan juga photo disebelah kiri menyanyagi bapaknya, serupa menegaskan kalau orang tua itu sayang pada anaknya, anak pula wajib mencintai orang tua kala dia sudah lemah, mudah – mudahan menegaskan seluruh kanak – kanak didunia ini supaya senantiasa sayng orang tua, dan juga terus menjadi menyayanginya.

sumber: wajibbaca

Viral! Video Bapak Sibuk Main Handphone dan Tak Tahu Anaknya Diculik di Depan Mata Ini Sudah Ditonton 150 Juta Kali

Pada video ini sudah semestinya menjadi pelajaran untuk kita semua agar tidak terlalu sibuk dengan smartphone dan lebih memperhatikan sekirar. Kadangkala kecanduan smartphone berpotensi melalaikan hal penting yang bisa berdampak fatal.

Seperti sebuah video yang beredar dan menjadi viral di media sosial yang satu ini. Video ini diunggah oleh pengguna Facebook bernama @ricklaxhasfriends, menunjukkan hal itu. Video ini mengingatkan bagi siapa saja, khususnya orang tua, agar jangan lupa menjaga buah hati mereka di tengah asyik dengan smartphone mereka.

Akun Facebook tersebut dengan sengaja merekam momen eksperimen sosial, yaitu dengan menculik anak di depan ayahnya yang tengah asyik dengan smartphonenya.

Dari video ini terlihat jika mereka sedang ada di sebuah taman. Tim eksperimen sosial bekerja sama dengan ibu sang anak, menguji sejauh mana kelengahan bermain smartphone bisa berdampak fatal.

Ketika sang ayah sibuk dengan smartphone-nya, sang anak berada di arena permainan, tim eksperimen sosial kemudian mendekati sang anak dan merayunya dengan menawarkan permen. Sang anak pun kegirangan mendapat permen dari orang yang tak dikenalnya.

Sejurus kemudian, ‘penculik’ dari tim eksperimen sosial itu menggandeng tangan anak tersebut dan mengajak menjauh dari sang ayah. Sang anak ikut saja digandeng oleh ‘penculik’ tersebut.

Sejenak kemudian, sang ayah sadar anaknya tidak berada di dekatnya. Lalu kemudian beranjak dari duduknya dan memanggil-manggil anaknya. Kemudian sang istri mendatangi suaminya tersebut dan marah-marah.

“Apa yang kamu lakukan, anak kita ke mana kok enggak diawasi sih!” ujar sang istri tersebut melansir dari Facebook, Selasa 23 Januari 2018.

Sang suami masih bingung menjawabnya. Akan tetapi sang orangtua masih berusaha memutar pandang mencari keberadaan anaknya.

“Kamu tidak perhatikan anakmu cuma main smartphone saja, ke mana dia perginya,” kata sang istri terus nyerocos.

Sang suami masih bingung menjawabnya. Dia makin tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada anaknya.

“Makanya perhatikan anak, jangan main handphone saja dong!!” lanjut sang istri.

Sejurus kemudian, tim eksperimen sosial mendatangi pasangan tersebut dan membawa anaknya. Video ini lantas viral di media sosial Facebook. Video ini juga sudah lebih dari tiga juta kali dibagi ke pengguna Facebook. Masih mau sibuk dengan smartphonemu?

ABDUCTING A CHILD IN FRONT OF HIS DAD 👦😨

ABDUCTING A CHILD IN FRONT OF HIS DAD 👦😨Follow Joey Salads for more social experiments like this! And keep up with the whole gang at Rick Lax Has Friends.

Nai-post ni Rick Lax Has Friends noong Linggo, Enero 21, 2018

Sumber : Tipstren

Bila Orang Tua Berbuat Maksiat, Apa yang Harus Dilakukan Anak?

Terkadang seorang anak harus menghadapi orang tua yang belum mengerti tentang ajaran Islam. Sebagai akibatnya, ia harus menyaksikan orang yang sangat ia cintai dan hormati melakukan perbuatan maksiat atau menghalang-halangi si anak dari perbuatan amal shaleh.

I. Ruang Lingkup Pengertian Berbakti Kepada Orang Tua
Pengertian birrul wâlidain (berbakti kepada kedua orang tua) ialah mencurahkan seluruh jenis kebaikan bagi mereka. Syaikh al-’Utsaimîn rahimahullâh memaparkannya dalam bentuk-bentuk berikut ini:

1. Berbakti kepada orang tua dalam bentuk ucapan.
Allâh Ta’âla berfirman:

إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“… jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah” dan janganlah kamu membentak mereka. Ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” [AS. Al-Isrâ`/17:23]

Ini perlakuan saat orang tua telah berusia uzur. Biasanya ketika telah memasuki usia senja (pikun), tindak-tanduk orang tua tampak tidak normal di hadapan orang lain. Walaupun demikian, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan: “maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘Ah’)”,

Maksudnya jangan berbuat seperti itu kepada mereka disebabkan kegusaran atas tindak-tanduk mereka (dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia).

2. Bakti kepada orang tua juga dalam bentuk perbuatan, yaitu dengan cara seorang anak menghinakan diri di hadapan orang tuanya, dan tunduk patuh kepada mereka dengan cara-cara yang dibenarkan syariat dalam rangka menghormati kedudukan mereka. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.” [QS. Al-Isrâ`/17:24]

3. Berbakti juga dapat dilakukan dengan pemberian materi kepada orang tua.
Orang tua berhak memperoleh infak dari anaknya. Bahkan ini termasuk bentuk infak yang agung. Sebab Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيْكَ
“Engkau dan kekayaanmu adalah milik bapakmu” [HR. Abu Dâwud no. 3530, Ibnu Mâjah no. 2292]

4. Bentuk bakti kepada orang tua yang lain, dengan melayani mereka dalam menyelesaikan atau membantu urusan maupun pekerjaan mereka.

Namun bila meminta tolong dalam perkara yang diharamkan, saat itu tidak boleh bagi anak untuk menyambut permintaan mereka. Justru, penolakannya menjadi cermin bakti anak kepada orang tua, berdasarkan sabda Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam:

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِـمًا أَوْ مَظْلُومًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِـمًا قَالَ تَـمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ
“Tolonglah saudaramu saat berbuat zhalim atau teraniaya. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam ditanya: ‘Wahai Rasulullah, kalau menolong orang yang teraniaya kami sudah mengerti, bagaimana dengan menolong saudara yang berbuat zhalim?’ Beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Dengan menghalang-halanginya berbuat zhalim.” [HR Al-Bukhâri, Muslim dan Ahmad]

Misalnya, orang tua memerintahkan membeli sesuatu yang diharamkan, kemudian si anak menolaknya. Anak ini tidak disebut sebagai anak durhaka, akan tetapi merupakan putra yang berbakti kepada orang tuanya, karena telah menahan orang tuanya dari berbuat yang haram.

II. Teladan yang Baik Dari Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam
Allâh Azza wa Jalla sudah menyatakan bahwa Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam merupakan qudwah hasanah (teladan yang baik) bagi umat manusia.

Sebagai contoh, kegelisahan mendalam yang beliau rasakan karena sang bapak (Azar), masih bergelut dengan penyembahan berhala dan patung-patung. Tiada kata putus asa bagi Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam.

Allah Ta’ala telah berfirman (mengisahkan) di beberapa surat di dalam al-Qur‘ân bagaimana besarnya sopan-santun dan kegigihan beliau mendakwahi orang tua.

Yang menarik dan mesti ditiru oleh seorang anak saat menghadapi perbuatan maksiat orang tua mereka adalah Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam selalu menghiasi diri dengan sifat al-hilm (bijak dan penuh kelembutan) seperti tertera dalam surat at-Taubah ayat 114.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ
“Sesungguhnya Ibrâhîm adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun” [QS. At-Taubah/9:114]

Beliau ‘alaihissalam mempunyai kasih-sayang terhadap sesama, dan memaafkan perlakuan-perlakuan tidak baik kepadanya yang muncul dari orang lain.

Sikap tidak sopan orang lain tidak membuat beliau antipati, tidak menyikapi orang jahat dengan tindakan serupa. Dalam hal ini, sang bapak telah mengancam dengan berkata kepadanya:

“Bencikah kamu kepada ilâh-ilâhku (tuhan-tuhanku), hai Ibrâhîm. Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”. Namun Nabi Ibrâhîm ‘alaihissalam menyikapinya dengan berkata: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku”. [QS. Maryam/19:46-47]

Syaikh as-Sa’di rahimahullâh berkata: “Ibrâhîm al-Khalîl ‘alaihissalam menjawabnya (ancaman si ayah) dengan jawaban yang biasa disampaikan oleh hamba-hamba Allâh Azza wa Jalla (’Ibâdurrahmân) saat berbicara dengan orang-orang jâhilîn (orang-orang yang tak berilmu/awam).

Beliau tidak mencela sang bapak sedikit pun. Namun tetap bersabar dan tidak membalas (ancaman) bapaknya dengan hal-hal yang tidak baik. Beliau mengucapkan “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu” yang mengandung pengertian ‘Wahai ayah, engkau tidak akan menghadapi cemoohan, celaan dan perlakuan yang buruk dariku saat aku berbicara denganmu. Justru aku akan senantiasa berdoa kepada Allâh Azza wa Jalla agar memberikan hidayah dan ampunan bagimu.

III. Bercermin Pada Petunjuk Ulama
Bagaimanapun ketika orang tua berbuat pelanggaran syariat, anak tidak boleh berdiam diri. Ia berkewajiban merubahnya, supaya orang yang ia kasihi tersebut tidak terjerumus dalam kenistaan di jurang maksiat kepada Allâh Ta’âla, namun tidak boleh menempuh cara-cara yang justru langsung memutus tali silaturahmi dengan mereka.

Berikut ini kami kutip beberapa keterangan Ulama yang berbicara bagaimana menyikapi orang tua yang berbuat maksiat. Dengan harapan, kita sekalian dapat mengambil langkah yang tepat saat menghadapi persoalan-persoalan serupa :

A. Bapakku melakukan pelanggaran syariat
Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz rahimahullâh menjawab kegamangan seorang anak atas tindakan maksiat yang ia lihat pada bapaknya.

Beliau berkata:
“Semoga Allâh Azza wa Jalla memberi hidayah dan kemauan bertaubat bagi bapakmu. Kami berpesan agar engkau tetap berlaku lembut kepadanya dan menasehatinya dengan cara halus, tidak pernah putus asa dalam rangka menunjukkannya kepada hidayah.”

Allâh Azza wa Jalla berfirman:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” [Luqmân/ 31:14-15]

(Pada ayat di atas) Allâh Azza wa Jalla berwasiat supaya mensyukuri kedua orang tua. Perintah ini ternyata dipadukan dengan perintah bersyukur kepada-Nya.

Ayat itu juga memerintahkan anak agar mempergauli mereka di dunia ini dengan cara-cara yang baik, kendatipun mereka memaksa berbuat kufur.

Melalui ayat di atas, engkau tahu bahwa sikap yang diperintahkan syariat dalam kondisi ini (memaksa anak berbuat kufur, red) adalah agar seorang anak tetap menjalin hubungan dengan orang tua dengan cara-cara yang baik, berbuat baik kepada mereka meski mereka berbuat jelek kepadanya, serta gigih mengajak mereka kepada kebenaran.

Semoga Allâh Azza wa Jalla memberi hidayah baginya melalui tanganmu. Engkau tidak boleh menaatinya dalam kemaksiatan.

Kami juga berpesan setelah memohon pertolongan kepada Allâh Azza wa Jalla, supaya engkau juga meminta bantuan orang-orang shaleh dari kalangan kerabatmu dan paman-pamanmu dan pihak lainnya, yaitu orang-orang yang sangat dihormati dan dimuliakan oleh ayah. Mungkin saja, beliau akan lebih mudah menerima nasehat mereka….”.

B. Ibuku melarangku mengenakan hijâb (cadar)
Seorang Muslimah mengadukan ibunya yang melarang dirinya mengenakan cadar kepada Syaikh Bin Baz rahimahullâh.

Sebaliknya, justru memerintahkan anak untuk menikmati bioskop dan video. Alasan si ibu, agar rambut putrinya tidak cepat memutih. Demikian pernyataan sang ibu kepada anak perempuannya.

Menanggapi persoalan ini, Syaikh Bin Bâz rahimahullâh menjawab:
“Kamu berkewajiban bersikap lembut dengan ibu dan tetap berbuat baik kepada beliau, serta berbicara dengan cara yang terbaik. Sebab, hak ibu sangat besar. Akan tetapi, engkau tidak boleh taat kepadanya dalam perkara-perkara yang tidak baik, berdasarkan hadits Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam :

إنَّـمَا الطَّاعَةُ فِـيْ الْـمَعْرُوفِ
“Ketaatan (kepada makhluk) hanya pada perkara-perkara baik saja”

Begitu pula, ayah dan suami, tidak wajib ditaati dalam maksiat kepada Allâh Azza wa Jalla. Akan tetapi, seyogyanya istri atau anak dan lainnya bersikap lembut dan menempuh cara yang baik dalam menyelesaikan masalah.

Yaitu dengan menjelaskan dalil-dalil syar’i, wajibnya taat kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, dan kewajiban menghindari maksiat kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, dengan tetap teguh berpegangan al-haq dan menampik perintah orang yang menyuruh melanggar al-haq, baik itu suami, ayah, ibu atau lainnya.

Sebenarnya tidak masalah menonton acara TV dan video yang tidak mengandung kemungkaran, atau mendengarkan acara-acara ilmiah dan kajian-kajian yang bermanfaat. Yang harus dihindari ialah acara yang mengandung kemungkaran. Menonton film-film pun tidak boleh karena mengandung banyak kebatilan.”

C. Ibuku marah ketika aku ingatkan dari kesalahan
Seorang anak menyaksikan ibunya tidak istiqamah. Setiap kali menasehati, kemarahanlah yang muncul dari beliau. Akibatnya selama beberapa hari si ibu enggan berbicara dengan anaknya.

Persoalan yang ditanyakan adalah cara menasehati ibu, tanpa menimbulkan amarahnya dan kemurkaan Allâh Azza wa Jalla. Sebab, ternyata sang ibu saking marahnya sempat mendoakan kejelekan bagi anak yang menasehatinya. Apakah dibenarkan ia membiarkan ibunya dalam keadaan demikian, hingga tetap disayang oleh ibu?

Syaikh ‘Abdullâh bin ‘Abdur Rahmân al-Jibrîn hafizhahullâh menjawab kegundahan di atas dengan berkata: “Engkau tetap menasehati ibumu terus-menerus, dan menjelaskan dosa dan bahaya akibat perbuatannya.

Jika tidak berpengaruh baik, cobalah sampaikan kepada suaminya (bapakmu atau lelaki yang menjadi suaminya karena sudah cerai dari ayah, red), orang tua ibu atau walinya, agar mereka inilah yang menasehati beliau.

Jika perbuatan beliau termasuk dosa besar, tidak mengapa bila engkau menghajr (tidak mengajak bicara) beliau. Sehubungan dengan doa buruk atau komentar miring terhadapmu anak yang durhaka atau memutuskan tali silaturahmi maka hal itu tidak membahayakanmu.

Sebab engkau melakukannya (menasehati ibu, red) karena dorongan rasa tidak suka bila hukum Allâh Ta’âla dilanggar. Namun apabila kesalahan beliau termasuk dosa kecil, engkau tidak boleh melakukan muqâtha’ah (mendiamkan beliau)”

IV. Kesimpulan Dari Fatwa-fatwa Diatas
Beberapa fatwa Ulama di atas telah memberikan petunjuk bagi siapa saja yang ingin menasehati orang tuanya yang berbuat kesalahan. Dari fatwa-fatwa itu, dapat disimpulkan bahwa :

Menasehati orang tua harus dengan lemah-lembut
Terkadang diperlukan pihak lain untuk melakukan nahi mungkar
Melarang orang tua dari perbuatan haram atau menolak perintah orang tua yang memerintahkan berbuat haram termasuk bakti kepada orang tua
Tidak boleh putus asa dalam rangka meluruskan orang tua menuju hidayah
Bila diperlukan, tidak mengajak bicara dengan orang tua termasuk langkah untuk menyadarkan orang tua yang berbuat salah.
Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan karunia hidayah dan taufik bagi setiap keluarga Muslim dalam menjalankan aturan Allâh Azza wa Jalla di tengah keluarga. Amin.

Sumber: almanhaj.or.id

Awalnya Malu Karena Punya Suami Miskin, Setelah Suaminya Meninggal Wanita Ini Menangis Histeris Baca Surat Ini, Ternyata…

Banyak kisah cinta di dunia ini yang bisa menjadi inspirasi untuk hidup kita.

Sering kali kita menyepelekan apa yang ada didepan mata.

Tapi saat sudah tiada, barulah terasa begitu banyak manfaatnya, terasa kehilangan.

Seperti kisah berikut ini, saat istrinya tak pandai besyukur dibuat menangis haru menemukan rahasia tentang suaminya.

Ia yang malu punya suami miskin, akhirnya baru sadar tentang apa yang terjadi.

Berikut kisahnya.

Malam itu suamiku pulang dengan wajah kusut. Tampangnya acak-acakannya.

Aku menyambutnya dengan baik.

Tapi saat aku tahu perusahaan tempatnya bekerja, baru saja mengeluarkan surat PHK untuknya.

Hatiku langsung kecewa.

Aku langsung memikirkan bagaimana kami akan menjalani hidup.

Apalagi kami masih tinggal dirumah orang tuaku.

Saat kabar itu kudengar, mataku melotot dan karena panik akan masa depan, aku luapkan emosi pada suamiku.

Aku tak kuasa menahannya hingga ibu ayah tahu jika suamiku di phk dan sebentar lagi menganggur.

Sebagai pengantin baru, untuk membangun mimpi seakan sirna.

Sampai akhirnya, suamiku memutuskan untuk menjadi tukang ojek.

Sulit rasanya menerima itu, juga bagi keluargaku yang memandang suami sebelah mata.

Aku setiap hari marah-marah, ditambah uang pemberiannya untuk belanjapun selalu tak cukup.

Hingga akhirnya, suamiku entah karena apa tiba-tiba kesehatannya memburuk.

Jujur saja, saat itu ada perasaan lega dihatiku. Tapi ada juga perasaan sedih karena sejatinya aku menyayangi suamiku.

Karena tidak dirawat dengan baik, sikapku juga ketus.

3 bulan dari sakit, suamiku ditemukan meninggal diatas tempat tidur.

Air mataku keluar, tapi karena emosiku aku merasa lega dengan kejadian itu.

Keluargaku juga tampak biasa saja seakan memberi sinyal jika ini lebih baik bagiku.

14 hari kematiannya, jujur saja aku mulai merasa sedih kehilangan sosok orang yang begitu mencintaiku.

Aku teringat awal kami bertemu, kami pacaran dan kami menikah.

Iseng-iseng aku membuka album foto saat mereka menikah dulu.

Bahkan aku sempa senyum-senyum sendiri saat melihat gambarnya di foto tengah duduk dipelaminan dengan pose sedang saling menyuapi makanan.

Saat kubalik album, aku melihat sebuah amplop bungkus coklat dengan tulisan diatasnya.

Surat untuk istriku.

Hatiku berdetak ada apa dengan surat yang seakan dirahasiakannya padaku.

Saat kubuka, air mataku tak terbendung. Aku menangis haru dan meraung menyebut nama suamiku sambil meminta maaf.

Berikut suratnya.

Buat istriku tercinta.

Maaf jika suatu hari aku akan meninggalkanmu.

Sejak aku dipecat dari perusahaanku, hati ini remuk sekali. Aku menangis sepanjang jalan memikirkan nasib kita kedepan.

Memikirkan impian-impian kita.

Aku tahu ini berat, tapi aku harus menyampaikannya kepadamu.

Tapi sampai dirumah, saat aku cerita. Kau marah besar, matamu merah bahkan malam itu kau tak menyiapkan makanan untukku yang terpaksa tidur dengan kondisi lapar.

Keluarga mu juga langsung marah seakan mengeroyokku.

Aku sadar betul aku salah, tapi apa kuasaku karena aku tak memiliki kekuatan apapun.

Aku esok harinya langsung mencari kerja, tapi memang belum ada satupun lamaranku diterima.

Seminggu aku menganggur, aku memilih jadi tukang ojek untuk sementara memenuhi kebutuhan kita.

Namun saat itu, dirimu sudah begitu jauh. Tak lagi kukenal.

Aku merasa begitu asing tinggal bersamamu, pulang malam hari tak ada lagi makanan yang kau siapkan.

Maafkan aku istriku, bukan aku ingin kita terpuruk begini. Tapi aku selalu usaha demi mimpi kita.

Hingga suatu hari, aku mendengar ada seorang miliuner sedang mencari hati yang akan dicangkokkan padanya.

Aku tak berpikir lagi dan menghubungi nomor tersebut.

Tubuhku langsung dites kesehatan, mulai dari darah hingga riwayat penyakit.

Alhamdulillah semua cocok dan memenuhi syarat.

Dan yang paling membuaku senang, harga hatiku dibayar 5 miliar istriku.

Aku senang bukan main dan paling tidak itu bisa menjadi jalan kita menggapai mimpi.
Sekarang uang itu berada di selembar cek di amplop ini.

Awalnya aku ingin memberi kejutan saat membeli rumah dan tentu itu akan membuatmu senang bukan!

Tapi takdir berkata lain sayang, 10 hari sejak aku menjual hatiku.

Kondisiku mendadak buruk. Aku tak kuasa menahan sakit, dan mungkin saat kau baca surat ini aku telah tiada.

Tapi paling tidak, pakailah uang itu. Aku rasa uang itu cukup untuk membeli rumah seperti yang kau mau. Hanya itu yang bisa aku berikan padamu.

Aku tau selama ini aku tidak berguna. Tapi aku juga tidak mau menyusahkan.

Mungkin dengan apa yang kulakukan ini, akan membukakan hati kecilmu untuk kembali mencintaiku.

Sengaja surat ini aku sisipkan dialbum foto pernikahan kita. Karna saat kau sedang merindukanku, saat itu lah aku merasa berguna untukmu.

Selamat tinggal sayang. Aku akan selalu merindukanmu disetiap hari-harimu.
Dari suamimu yang selalu mencintaimu.

Saat itu juga, selesai membaca surat suamiku. Aku langsung mendatangi makam suamiku.

Aku meminta maaf telah salah dan benar, hanya dia orang yang paling kucinta juga mencintaiku.

Paling tidak dengan tulisan ini kita bisa belajar dan jangan sampai menyesal saat orang yang begitu kita sayangi telah pergi.

Semenit saja akan sangat beharga bersama orang yang kita cintai.

5 Hal yang Sebaiknya Dilakukan Istri Ketika Tahu Suami Telah Mendua…

Ketika seorang istri tahu kalau suaminya telah mendua, langkah apa yang sebenarnya harus diambil? Apakah langsung menuntut cerai, atau masih adakah cara lain untuk mempertahankan rumah tangga? Ini pendapat para pakar.

1. Apakah Rumah Tangga Masih Layak Dipertahankan?
Mempertahankan rumah tangga atau berpisah memang menjadi keputusan yang sangat sulit diambil begitu tahu pasangan telah mendua.

Salah satu cara yang bisa jadi pertimbangan adalah mengenali tipe pasangan Anda seperti apa? Apakah dia benar-benar menyesali tindakannya dan sungguh-sungguh berjanji tidak akan mengulanginya? Atau memang sudah sifatnya yang cenderung untuk mendua?

“Manusia kadang suka ‘terpeleset’, ketika dia benar-benar ‘terpeleset’ (dan bukan karena pembawaan karakter) maka bisa saja (hubungan) dipertahankan,” ujar William July, penulis ‘Confessions of an Ex Bachelor’, seperti dikutip dari She Knows.

Tapi ketika perselingkuhan atau kecenderungan untuk mendua sudah menjadi tabiatnya, dan terlebih lagi, terjadi tidak cuma sekali, maka pikirkan baik-baik termasuk konsekuensinya jika Anda ingin menggugat cerai.

Namun terlepas dari apakah perbuatan itu baru sekali atau telah berulang kali dia lakukan, pastikan lagi apakah jauh lebih baik jika Anda berpisah atau mempertahankan rumah tangga.

2. Bicarakan dengan Serius
“Jika Anda memutuskan untuk bertahan, maka Anda perlu benar-benar membicarakannya kepada pasangan tentang apa yang terjadi dan mengapa hal itu bisa terjadi.

Apa yang sebenarnya dia rasakan dan bagaimana perasaannya setelah peristiwa itu terjadi? Proses ini memang akan terasa sangat menyakitkan, tapi penting bagi Anda untuk mendengarkan penjelasannya,” saran psikoterapis Vanessa Marin.

Minta juga pasangan untuk mendengarkan Anda. Apa yang Anda rasakan setelah tahu telah dikhianati atau diduakan.

Pasangan harus tahu bahwa apa yang dia lakukan menyakitkan Anda, dan harus mau memberikan waktu dan ruang bagi Anda untuk merenung. Misalnya untuk tidak bertemu dulu selama beberapa waktu.

3. Tidak Bertemu Dulu
Pisah rumah sementara waktu, mungkin terkesan seperti menambah garam pada luka yang sudah menganga.

Tapi tidak bertemu dan memutuskan kontak sementara bisa membantu Anda untuk merenung dan introspeksi hubungan, sekaligus memikirkan apa langkah yang harus dilakukan selanjutnya. Tanpa adanya distraksi, Anda bisa memutuskan langkah terbaik dengan kepala dingin.

4. Konseling
Tidak sedikit pasangan yang enggan melakukan konseling ke teraping atau konsultan pernikahan, karena beranggapan masalah rumah tangga tidak seharusnya diumbar ke orang lain.

Tapi ketika pembicaraan antara Anda dan pasangan sudah tidak bisa dibawa ke manapun, maka mendapatkan pandangan objektif dari seorang profesional mungkin diperlukan.

Pihak ketiga ini akan menjembatani dua isi kepala yang berbeda, sekaligus mencegah adanya cekcok dan pertengkaran yang hanya akan menghabiskan energi tanpa menemukan solusi.

Dengan adanya orang lain di antara mereka, pasangan yang menghadapi masalah perselingkuhan, atau masalah rumah tangga lainnya akan bisa berkomunikasi dengan cara yang lebih sehat.

5. Bercerai
Jika Anda tidak juga bisa melupakan dan memaafkan tindakan suami yang telah mendua, bahkan ketika sudah berbagai cara ditempuh selama berbulan-bulan, maka mungkin jalan satu-satunya adalah berpisah.

Namun sebelumnya evaluasi terlebih dahulu dengan seksama, jika memang rumah tangga hanya akan menimbulkan sakit hati dan menurunkan kualitas Anda sebagai individu, perceraian, dengan sangat menyesal, merupakan cara terakhir yang bisa dilakukan.

“Tanyakan pada diri sendiri apakah ini akan menjadi keputusan terakhir yang diambil bagi pasangan Anda. Bisakah Anda sembuh dari rasa sakit hati ini dan memaafkan? Kalau tidak, jangan teruskan hidup bersama dalam kemarahan dan/atau seseorang yang menyebabkan Anda sakit,” saran Dr. Phil McGraw, seorang pakar kesehatan mental.

Sumber: detik.com

Menikahlah Dengan Laki-laki yang Ketika Marah dan Kecewa Tapi Masih Memperlakukanmu Dengan Baik…

Laki-laki yang baik adalah laki-laki yang bisa menahan amarahnya dan bisa menahan emosinya. Apalagi jika terhadap perempuan yang ia sayangi, karena tidak semua laki-laki bisa menahan amarahnya ketika marah dan kecewa meski kepada perempuan yang dicintai.

Maka pilihlah laki-laki yang ketika ia marah dan kecewa namun ia masih memperlakukanmu dengan baik. Terlebih lagi jika laki-laki itu untuk kamu jadikan suamimu, maka kau harus pandai-pandai memilihnya.

Untuk Perempuan, Menikahlah Dengan Laki-Laki Yang Akan Tetap Memperlakukanmu Dengan Baik Walau Dia Dalam Keadaan Kecewa

Laki-laki yang tetap memperlakukanmu dengan baik ketika ai kecewa, maka ia adalah laki-laki yang paling pantas mendapatkan kebaikan hatimu, ketulus hati dan cintamu.

Karena laki-laki itulah yang akan tetap menjaga perasaanku, laki-laki itulah yang akan tetap berusaha untuk tidak menyakitimu walau dirinya sedang kecewa dan terluka.

Laki-Laki Yang Tidak Akan Membentak Apalagi Memperlakukanmu Dengan Kasar Ketika Sedang Marah

Sungguh laki-laki yang luar biasa ketika ia sedang marah namun ia tetap bersikap baik kepadamu. Laki-laki yang tidak akan membentakmu apalagi memperlakukanmu dengan kasar ketika ia sedang marah.

Meski marah ia tidak akan mendajikanmu tempat pelampiasannya. Laki-laki mana lagi yang bisa mengalahkan kebaikannya, maka jangan sampai kau menyia-nyiakan laki-laki yang demikian.

Kenapa Harus Laki-Laki Yang Tetap Memperlakukan Kamu Dengan Baik Walau Pada Saat Marah Dan Kecewa? Karena Pada Saat Itu Sifat Aslinya Keluar

Jika kau ingin tahu sifat asli dari seorang laki-laki, atau apakah dia akan memperlakukanmu dengan baik atau bukan, maka pada saat dia marah dan kecewa kau harus bisa menilainya.

Jika pada saat marah dan kecewa ia tetap bersikap baik kepadamu, tetap berkata lembut kepadamu dan tidka meluapkan rasa kesalnya terhadapmu, maka dialah laki-laki yang pantas untuk kamu pilih sebagai pasanganmu.

Ketika Laki-Laki Marah Dan Kecewa Sifat Aslinya Akan Keluar Dengan Sendirinya Tanpa Terkontrol

Kenapa harus memilih laki-laki yang tetap memperlakukanmu dengan baik walau pada saat ia marah dan kecewa? Karena pada saat itu sifat aslinya keluar dengan sendirinya keluar tak terkontrol.

Jika yang keluar tetap hal-hal yang baik maka dialah laki-laki terbaik yang harus kamu pilih karena pada saat dia marah dan kecewa tetap baik dan itulah sifat asli yang dimiliki olehnya.

Karena Sulit Menemukan Laki-Laki Yang Akan Tetap Memperlakukanmu Dengan Baik Ketika Sedang Marah Dan Kecewa

Jarang bahkan sangat sulit sekali untuk menemukan laki-laki yang tetap memperlakukanmu dengan baik walau dalam keadaan dirinya marah dan kecewa.

Maka jika kamu menemukan laki-laki yang seperti itu, percayalah bahwa laki-laki itu adalah laki-laki yang langka. Pilihlah dia, maka aku akan mendapatkan laki-laki yang begitu berharga. Karena dialah laki-laki yang akan tetap tetap menjaga hatimu dan perasaanmu.

 

Dear Para Muslimah ,Inilah Rahasia Suami Agar Selalu Lengket Walau Telah Lama Menikah..

Pasangan suami istri  harusnya selalu menjaga keharmonisan didalam berumahtangga, sebab menurut riset banyak ditemukan jika pasangan suami istri yang lengket hanya setelah menikah dalam jangka waktu tiga bulan, hal ini tentu tidak seluruh pasangan. Banyak juga pasangan yang lengket awet sampai kiki nini.

Tiga bulan masa bulan madu, lengket itu wajib. Selebihnya adalah kewajiban. Kewajiban tiap pasangan agar selalu lengket dengan pasangannya. Lalu siapa yang punya andil besar.

Setelah di telusuri dari sekian banyak pasangan yang menikah ternyata fakta menemukan bahwa tingkat kebosanan lebih dominan mengarah pada pria, Pria lebih cepat bosan kepada wanita pasangannya. Dan wanita lebih mudah kehilangan pesona di depan suaminya. Setelah masa tiga bulan atau lebih akrab dengan masa bulan madu berakhir pesona wanita akan memudar.

Nah dengan hasil penelitian tersebut, tentu membuat semua muslimah khawatir bukan ? jangan takut ya ukh… karena masih banyak cara yang dapat di lakukan agar suami kita tetap lengket dan tidak bisa beralih ke wanita lain dan cara nya pun jauh dari kata syirik. Ini dia tips untuk membuat hubungan suami istri makin lengket meskipun sudah lama menikah :

Pertahankan apa yang disukai suami anda

Dalam waktu tiga bulan saat sedang lengketnya hubungan anda dan suami anda, anda harus pandai menebak apa yang suami anda sukai, kemudian pertahankan sifat-sifat anda yang disukai suami anda, seperti halnya kecantikan, keibuan, dan penyayang.

Berikan perhatian yang lebih

Memberikan perhatian yang lebih termasuk dalam hal-hal kecil sekalipun, karena meskipun berupa hal-hal kecil suami anda tidak akan melupakan hal itu dan akan terus merindukan perhatian-peratian kecil tersebut. Jangan lupa untuk selalu mementingkan kepentingan suami anda, tapi ingat yaa harus tetap dalam koridor yang baik

Tetap menjadi wanita yang selalu bersemangat

Tahukah Anda, sikap tidak bersemangat akan membuat pria menjauh. Dalam bidang apa saja. Tidak bersemangat saat bersama, saat di ranjang, atau tidak bersemangat saat makan bersama.
Setelah tiga bulan, gairah wanita akan menurun. Benar yang dikatakan Nabi saw, “malaikat melaknat wanita yang menolak permintaan suaminya saat akan tidur” Sangat penting mengambil waktu penting bersamanya, dan lakukan dengan bersemangat.

Jangan mengungkapkan hal-hal yang tidak penting (cerewet)

Jangan berikan beban kepada suami anda untuk selalu menuruti kesenangan pribadi bagi anda. Sebaliknya, Anda harus lebih memahami dan mendukungnya. Hargai hal-hal yang telah dia lakukan pada Anda.

Doakan suami

Jangan lupa untuk mendoakan suami agar menjadi pribadi yang baik. Suami yang baik adalah pria yang tidak mengabaikan rasa kemanusiaan. Jika empat tips sebelumnya kamu lakukan, tinggal dibantu dengan doa. Insya Allah suami Anda tidak akan kemana mana.

Nah ternyata “Membuat suami selelu lengket, praktis bukan cara nya ? tak perlu pelet, tidak perlu biaya alias gratiss tis tis .. Semoga bermanfaat..

Sumber :www.bacaanmuslimahku.com

Kata Nagita Slavina pada Raffi Ahmad: Aku Mau Dimadu, tapi…

Nagita Slavina diundang menjadi bintang tamu dalam episode terbaru program varietyshow yang dibintangi oleh suaminya, Raffi Ahmad. Kebetulan, Nagita Slavina diminta untuk mengisi segmen stand up comedy.

Didampingi Raffi Ahmad, Nagita Slavina mulai unjuk kebolehannya dalam open mic. Ia bercerita tentang pengalamannya saat bersantai di rumah dengan sang suami.

“Jadi, kan aku lagi di rumah, nonton TV, lagi ada infotainment. Lagi asyik-asyik nonton, si Raffi Ahmad pulang, duduk di sebelah. Terus nanya, ‘Sayang kamu nonton apa?’ Ini nih berita artis yang mau poligami,” cerita ibu satu anak ini dalam potongan video yang diunggah @pecintaladygigi.

Mendengar jawaban Nagita Slavina, Raffi Ahmad meminta pendapatnya tentang poligami. “Terus Raffi nanya, ‘Kalau menurut kamu orang yang poligami tuh gimana?’ Terus aku jawab, senyum, iya kan, aku sih enggak nolak. Enggak menentang juga poligami, memang ada di agama,” ucapnya.

Seketika presenter kondang itu semringah mendengar jawaban sang istri. Raffi Ahmad seolah mendapat angin segar, seakan-akan ia telah diberi lampu hijau untuk memiliki istri lagi.

Penyataan Menohok Nagita

Raffi Ahmad, Nagita Slavina dan Rafathar. (Herman Zakharia/Liputan6.com)
“Terus si Raffi mukanya berubah, langsung jingkrak-jingkrak kayak anak kecil. Terus aku disayang-sayang, dipeluk-peluk. Terus Raffi nanya lagi, ‘Jadi benar kamu enggak keberatan dipoligami? Kamu beneran mau dimadu?'”

Dan pernyataan Nagita Slavina pun sangat menohok, “Aku cuma lihatin matanya, aku elus-elus. Sayang, aku mau dimadu, asal kamu mau diracun ya,” pungkasnya sembari tersenyum.

Mendengar ini, Raffi Ahmad seolah kecewa. Namun, ia memuji kemampuan stand up comedy yang dimiliki sang istri. “Kamu lucu, setiap hari kamu di sini, ya (membintangi program tersebut)”

Sumber : liputan6.com

Kisah Viral: Anak Selalu Rangking 23, Tapi Saat Semua Rapor Dibuka Hal Mengejutkan Terungkap

Beragam kisah inspiratif bermunculan di media sosial. Baru-baru ini muncul sebuah cerita viral baru di media sosial Facebook. Bukan dari akun ternama, atau yang konsisten mendapat banyak like.

Akun facebook itu bernama Winardi Abu Faqih. Postingnya itu diunggah pada Senin (3/7/2017) pukul 08.25 WIB di Kota Bekasi, Jawa Barat.

Hingga kabar ini diturunkan Pos Belitung (Tribunnews.com network), Selasa (4/7/2017), postingan tersebut sudah dibagikan sebanyak lebih dari 38 ribu kali.

Sedangkan yang komentar sudah ada 10.500 lebih dan 59 ribu lebih like. Postingan Winardi Abu Faqih itu berjudul ‘Anakku ranking ke-23’. Singkat kata, postingan itu berisikan sebuah cerita dan sebuah foto yang menggambarak seorang anak sedang membantu orangtuanya di dapur.

Ceritanya mengisahkan tentang seorang anak yang selalu dapat ranking ke-23 di kelasnya. Orangtuanya sempat bingung dan heran karena tingkah anaknya dianggap tidak umum.

Pun saat ditanya mengenai cita-cita, si anak malah menjawab tegas ingin menjadi guru TK, kalau tidak Ibu Rumah Tangga. Tapi kemudian orangtuanya sadar ketika mendapati kenyataan diakhir ujian semester.

Anaknya memang kembali dapat ranking 23, tapi si orangtua mendapat keterangan yang mengejutkan dari wali kelas anaknya.

Dia mengatakan ada satu hal aneh yang terjadi. Hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan.

Dalam soal itu tertera: SIAPA TEMAN SEKELAS YANG PALING KAMU KAGUMI DAN APA ALASANNYA?

Dan jawaban dari semua teman sekelasnya sama, tak ada satu pun yang beda. Mereka serentak menuliskan nama anakku. Mereka bilang karena anakku sangat senang membantu orang,selalu memberi semangat, selalu menghibur,selalu enak diajak berteman,dan banyak lagi.

Postingan ini membuat banyak netizen terenyuh dan memuji orangtua maupun si anak.

“Terinspirasi bgt…!!! I do like it…..,” kata Saifullah dalam komentarnya.

“Ngerasa brada dlm cerita tu,” kata Siti Nurhandayani.

“Benar2 cerita yg sngt menginspirasi qta sbg orang tau.. Bner2 salut,” kata Anastasya Kusuma Wardhani.

“Kereeennn banget…merinding bacanya..kok jadi melow..karena saya adalah ayah yang gagal..,” kata Ade Andri.

Penasaran sama postingan aslinya. baca selengkapnya berikut ini:

Anakku ranking ke-23 …

Di kelasnya ada 25 orang murid,setiap kenaikan kelas,anak perempuanku selalu mendapat ranking ke-23. Lambat laun ia dijuluki dengan panggilan nomor ini. Sebagai orangtua,kami merasa panggilan ini kurang enak didengar,namun anehnya anak kami tidak merasa keberatan dengan panggilan ini.

Pada sebuah acara keluarga besar,kami berkumpul bersama di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang adalah tentang jagoan mereka masing-masing. Anak-anak ditanya apa cita-cita mereka kalau sudah besar? Ada yang menjawab jadi dokter,pilot,arsitek bahkan presiden. Semua orang pun bertepuk tangan. Tapi anak perempuan kami terlihat sangat sibuk membantu anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya.

Didesak orang banyak,akhirnya dia menjawab ,,,
“Saat aku dewasa,cita-citaku yang pertama adalah menjadi seorang guru TK,memandu anak-anak menyanyi,menari lalu bermain-main”.

Demi menunjukkan kesopanan,semua orang tetap memberikan pujian,kemudian menanyakan apa cita-citanya yang kedua.
Dia pun menjawab ,,,
“Saya ingin menjadi seorang ibu,mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur,kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang.”

Semua sanak keluarga saling pandang tanpa tahu harus berkata apa. Nampak raut muka isteriku pun terlihat canggung sekali.

Sepulangnya kami kembali ke rumah,isteriku mengeluhkan ke padaku,apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak hanya
menjadi seorang guru TK?

Anak kami sangat penurut,dia tidak lagi membaca komik,tidak lagi membuat origami,tidak lagi banyak
bermain. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan,dia ikut les belajar sambung menyambung,buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Sampai akhirnya tubuh kecilnya tidak bisa bertahan
lagi terserang flu berat dan radang paru-paru. Akan tetapi hasil ujian semesternya membuat kami tidak
tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23.
Kami memang sangat sayang pada anak kami ini,namun kami sungguh tidak memahami akan nilai di
sekolahnya.

Pada suatu minggu,teman-teman sekantor mengajak pergi rekreasi bersama. Semua orang membawa serta keluarga mereka. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa,ada anak yang bernyanyi,ada juga yang memperagakan kebolehannya.
Anak kami tidak punya keahlian khusus,hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira. Dia seringkali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan,merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring,mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang meluap ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan,ada satu kejadian tak terduga. Dua orang anak lelaki teman kami,satunya si jenius matematika,satunya lagi ahli bahasa Inggris berebut sebuah kue. Tiada seorang pun yang mau melepaskannya,juga tidak mau saling membaginya. Para orang tua membujuk mereka,namun tak berhasil. Terakhir anak kamilah yang berhasil melerainya dengan merayu mereka untuk berdamai.

Ketika pulang,jalanan macet. Anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti,dia mengguntingkan berbagai bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan. Sampai ketika turun dari mobil bus,setiap orang
mendapatkan guntingan kertas berbentuk hewan masing-masing,dan mereka terlihat begitu gembira.

Selepas ujian semester,aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau rangking sekolah anakku tetap 23. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang terjadi. Hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan. Dalam soal itu tertera: SIAPA TEMAN SEKELAS YANG PALING KAMU KAGUMI DAN APA ALASANNYA?
Dan jawaban dari semua teman sekelasnya sama,tak ada satu pun yang beda. Mereka serentak menuliskan nama anakku.

Mereka bilang karena anakku sangat senang membantu orang,selalu memberi semangat,selalu
menghibur,selalu enak diajak berteman,dan banyak lagi.

Si wali kelas memberi pujian ,,,
“Anak bapak ini kalau bertingkah laku terhadap orang,benar-benar nomor satu”.

Tak berselang lama aku mencandai anakku dan berkata padanya ,,,
“Suatu saat kamu akan jadi pahlawan”.

Anakku yang sedang merajut selendang leher tiba-tiba menjawab ,,,
“Bu guru pernah mengatakan sebuah pepatah,ketika pahlawan lewat,harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

Dia lalu melanjutkan ,,,
“Ayah… Aku tidak mau jadi pahlawan. Aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan saja.”

Aku terkejut mendengarnya. Dalam hatiku pun terasa hangat seketika. Seketika hatiku tergugah oleh anak perempuanku. Di dunia ini banyak orang yang bercita-cita ingin
menjadi seorang pahlawan,jadi orang-orang hebat,atau orang terkenal. Namun anakku memilih untuk menjadi orang yang tidak ‘terlihat’. Seperti akar sebuah tanaman,tidak terlihat,tapi dialah yang mengokohkan,dialah yang memberi makan dan dialah yang memelihara kehidupan yang lain.

~ ~ ~

Sahabatku,,,
Hidup itu bukan semata-mata untuk menunjukan siapa yang paling penting,siapa yang paling berperan,atau siapa yang paling hebat,tapi sederhana saja,siapa yang paling bermanfaat bagi yang lain…

Sumber: tribunnews.com

KISAH NYATA: CALON MERTUA MENOLAK JADIKAN MENANTU KARENA DIANGGAP MANDUL, NAMUN SETELAH MENIKAH MALAH LAHIRKAN 3 BAYI KEMBAR

Sebuah kisah nyata yang dulu sempat viral di media sosial. Seorang perempuan yang mendambakan berkeluarga sampai ditolak oleh calon mertua sebab usianya yang telah  diatas 30 tahun. Namun yang terjadi sungguh diluar kuasa kita, Masya Allah.

Aku sudah lulus dari kuliah dan sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus. Lamaran kepada diriku untuk menikah juga mulai berdatangan, akan tetapi aku tidak mendapatkan seorangpun yang bisa membuatku tertarik.

Kemudian kesibukan kerja dan karir memalingkan aku dari segala hal yang lain. Hingga aku sampai berumur 34 tahun. Ketika itulah aku baru menyadari bagaimana susahnya terlambat menikah.

Pada suatu hari datang seorang pemuda meminangku. Usianya lebih tua dariku 2 tahun. Dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Tapi aku ikhlas menerima dirinya apa adanya.

Kami mulai menghitung rencana pernikahan. Dia meminta kepadaku photo copy KTP untuk pengurusan surat-surat pernikahan. Aku segera menyerahkan itu kepadanya.

Setelah berlalu dua hari ibunya menghubungiku melalui telepon. Beliau memintaku untuk bertemu secepat mungkin.

Aku segera menemuinya. Tiba-tiba ia mengeluarkan photo copyan KTPku. Dia bertanya kepadaku apakah tanggal lahirku yang ada di KTP itu benar?

Aku menjawab, Benar.

Lalu ia berkata, Jadi umurmu sudah mendekati usia 40 tahun?

Aku menjawab, usiaku sekarang tepatnya 34 tahun.

Ibunya berkata lagi, Iya, sama saja. Usiamu sudah lewat 30 tahun. Itu artinya kesempatanmu untuk memiliki anak sudah semakin tipis. Sementara aku ingin sekali menimang cucu!

Dia tidak mau diam sampai ia mengakhiri proses pinangan antara diriku dengan anaknya. Masa-masa sulit itu berlalu sampai 6 bulan.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi melaksanakan ibadah umrah bersama ayahku, supaya aku bisa menyiram kesedihan dan kekecewaanku di Baitullah.

Akupun pergi ke Mekah. Aku duduk menangis, berlutut di depan Kabah. Aku memohon kepada Allah supaya diberi jalan terbaik. Setelah selesai shalat, aku melihat seorang perempuan membaca al Qur’an dengan suara yang sangat merdu.

Aku mendengarnya lagi mengulang-ulang ayat: “Dan karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar”, (QS. An Nisa’: 113)

Air mataku menetes dengan derasnya mendengar lantunan ayat itu. Tiba-tiba perempuan itu merangkulku ke pangkuannya.

Dan ia mulai mengulang-ulang firman Allah: “Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas”, (QS. Adh Dhuha: 5)

Demi Allah, seolah-olah aku baru kali itu mendengar ayat itu seumur hidupku. Pengaruhnya luar biasa, jiwaku menjadi tenang. Setelah seluruh ritual umrah selesai, aku kembali ke Cairo.

Di pesawat aku duduk di sebelah kiri ayahku, sementara disebelah kanan beliau duduk seorang pemuda. Sesampainya pesawat di bandara, akupun turun. Di ruang tunggu aku bertemu suami salah seorang temanku.

Kami bertanya kepadanya, dalam rangka apa ia datang ke bandara?

Dia menjawab bahwa ia lagi menunggu kedatangan temannya yang kembali dengan pesawat yang sama dengan yang aku tumpangi.

Hanya beberapa saat, tiba-tiba temannya itu datang. Ternyata ia adalah pemuda yang duduk di kursi sebelah kanan ayahku tadi. Selanjutnya aku berlalu dengan ayahku.

Baru saja aku sampai di rumah dan ganti pakaian, lagi asyik-asyik istirahat, temanku yang suaminya tadi aku temui di bandara meneleponku.

Langsung saja ia mengatakan bahwa teman suaminya yang tadi satu pesawat denganku sangat tertarik kepada diriku. Dia ingin bertemu denganku di rumah temanku tersebut malam itu juga. Alasannya, kebaikan itu perlu disegerakan.

Jantungku berdenyut sangat kencang akibat kejutan yang tidak pernah aku bayangkan ini. Lalu aku meminta pertimbangan ayahku terhadap tawaran suami temanku itu.

Beliau menyemangatiku untuk mendatanginya. Boleh jadi dengan cara itu Allah memberiku jalan keluar.

Akhirnya, aku pun datang berkunjung ke rumah temanku itu. Hanya beberapa hari setelah itu pemuda tadi sudah datang melamarku secara resmi.

Dan hanya satu bulan setengah setelah pertemuan itu kami betul-betul sudah menjadi pasangan suami-istri. Jantungku betul-betul mendenyutkan harapan kebahagiaan.

Kehidupanku berkeluarga dimulai dengan keoptimisan dan kebahagiaan. Aku mendapatkan seorang suami yang betul-betul sesuai dengan harapanku.

Dia seorang yang sangat baik, penuh cinta, lembut, dermawan, punya akhlak yang subhanallah, ditambah lagi keluarganya yang sangat baik dan terhormat.

Namun sudah beberapa bulan berlalu belum juga ada tanda-tanda kehamilan pada diriku. Perasaanku mulai diliputi kecemasan. Apalagi usiaku waktu itu sudah memasuki 36 tahun.

Aku minta kepada suamiku untuk membawaku memeriksakan diri kepada dokter ahli kandungan. Aku khawatir kalau-kalau aku tidak bisa hamil.

Kami pergi untuk periksa ke seorang dokter yang sudah terkenal dan berpengalaman. Dia minta kepadaku untuk cek darah.

Ketika kami menerima hasil cek darah, ia berkata bahwa tidak ada perlunya aku melanjutkan pemeriksaan berikitnya, karena hasilnya sudah jelas. Langsung saja ia mengucapkan “Selamat, anda hamil!”

Hari-hari kehamilanku pun berlalu dengan selamat, sekalipun aku mengalami kesusahan yang lebih dari orang biasanya. Barangkali karena aku hamil di usia yang sudah agak berumur.

Sepanjang kehamilanku, aku tidak punya keinginan mengetahui jenis kelamin anak yang aku kandung. Karena apapun yang dikaruniakan Allah kepadaku semua adalah nikmat dan karunia-Nya.

Setiap kali aku mengadukan bahwa rasanya kandunganku ini terlalu besar, dokter itu menjawab: Itu karena kamu hamil di usia sudah sampai 36 tahun.

Selanjutnya datanglah hari-hari yang ditunggu, hari saatnya melahirkan. Proses persalinan secara caesar berjalan dengan lancar.

Setelah aku sadar, dokter masuk ke kamarku dengan senyuman mengambang di wajahnya sambil bertanya tentang jenis kelamin anak yang aku harapkan.

Aku menjawab bahwa aku hanya mendambakan karunia Allah. Tidak penting bagiku jenis kelaminnya. Laki-laki atau perempuan akan aku sambut dengan beribu syukur.

Aku dikagetkan dengan pernyataannya: “Jadi bagaimana pendapatmu kalau kamu memperoleh Hasan, Husen dan Fatimah sekaligus?”

Aku tidak paham apa gerangan yang ia bicarakan. Dengan penuh penasaran aku bertanya apa yang ia maksudkan?

Lalu ia menjawab sambil menenangkanku supaya jangan kaget dan histeris bahwa Allah telah mengaruniaku 3 orang anak sekaligus. 2 orang laki-laki dan 1 orang perempuan.

Seolah-olah Allah berkeinginan memberiku 3 orang anak sekaligus untuk mengejar ketinggalanku dan ketuaan umurku.

Sebenarnya dokter itu tahu kalau aku mengandung anak kembar 3, tapi ia tidak ingin menyampaikan hal itu kepadaku supaya aku tidak merasa cemas menjalani masa-masa kehamilanku.

Lantas aku menangis sambil mengulang-ulang ayat Allah: “Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas”, (QS. Adh Dhuha: 5)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami…” (QS. Ath Thur: 48)

Bacalah ayat ini penuh tadabbur dan penghayatan, terus berdoalah dengan hati penuh yakin bahwa Allah tidak pernah dan tidak akan pernah menelantarkanmu.

Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari kisah di atas.