Mau Jadi Istri Terbaik? Teladani 4 Sikap Khadijah Ini

SALAH satu peran wanita dalam rumah tangga adalah menjadi seorang istri. Seorang wanita dituntut menjadi ibu sekaligus istri yang baik dlam keluarga. Ini tentu saja bukan hal yang mudah.

Namun, sebagai muslimah, ada sosok istri yang bisa dijadikan teladan. Siapakah dia?

Dialah istri Rasulullah SAW, Umirul Mukminin Khadijah ra. Dia merupakan seorang wanita cerdas, patuh, saleh, dan murah hati.

Teladan apa saja yang bisa ditiru dari Khadijah ra? Berikut ini ulasannya:

Memilih suami dengan Bijaksana dan penuh perhatian

Sebelum menikah dengan RasulullahSAW, Khadijah menolak beberapa lmaran karena tujuan menikah bukan hanya untuk mendapat keturunan tetapi Ia ingin memiliki suami yang shaleh. Dan Allah mengirim orang yang bisa memenangkan hatinya yang murni yaitu Nabi Muhammad SAW.

Membuat pilihan yang bijak adalah langkah awal yang penting untuk menjadi istri yang suportif dan penuh kasih, karena kita hanya bisa benar-benar mencintai sepenuh hati seseorang yang kita kagumi dan hormati, bukan orang yang memiliki kekayaan atau orang dari keluarga terpandang.

Tidak lari dari masalah

Ketika Rasulullah SAW mengalami kejadian bertemu dengan Malaikat Jibril dalam wujud yang sebenarnya. Orang pertama yang beliau datangi adalah khadijah untuk menceritakan kejadian tersebut. Ketika itulah sikap Khadijah berperan penting dalam mengatasi ketakutan sang suami.

Seorang istri harus memiliki kualitas tertentu untuk menjadi pilar dukungan pada masa-masa sulit suaminya, rasa empati, optimisme, kehangatan, sifat cinta, seperti seorang ibu. Sikap itulah yang ditunjukkan Khadijah dalam kehidupan rumah tangganya bersama Rasulullah SAW.

Menjadi Penasihat yang Bijaksana

Khadijah tidak berhenti untuk menghibur Rasulullah SAW dalam situasi dan kondisi apapun. Dia memberinya saran terbaik kepada Rasulullah SAW terhadap berbagai masalah yang dihadapi.

Rela Berkorban

Khadijah yang kaya raya bukan hanya menyumbangkan tenaga dan pikiran guna mendukung dakwah sang suami. Dia juga merelakan harta kekayaannya demi mendukung perjuangan Rasulullah SAW.

Penghormatan khadijah terhadap suaminya tidak pernah goyah. Dia tetap menjadi pilar kekuatan bagi Rasulullah sampai kematiannya.

Bagaimanapun sebagai seorang istri kita harus selalu mensupport suami dalam keadaan apapun seperti halnya Khadijah yang tidak pernah meninggalkan Rasulullah meskipun dia harus hidup menderita dan kehilangan sebagian hartanya untuk membantu perjuangan Rasulullah dalam mengembangkan ajaran islam.

Jadi, siapapun muslimah yang ingin menjadi istri terbaik bagi sang suami, ikutilah teladan yang diberikan oleh Khadijah ra, salah satu istri terbaik di dunia.

Sumber: islampos.com

Belajar Romantis Dari Nabi Muhammad dan Khadijah

Nabi Muhammad Saw. merupakan uswatun hasanah bagi seluruh umat manusia. Beliau wafat sejak ratusan tahun yang lalu. Tetapi sampai sekarang umat muslim di seluruh dunia bersalawat kepadanya. Karena dengan bersalawat kepada Rasulullah Saw. diharap bisa mendapat syafaat dari beliau kelak di Hari Pembalasan.

Nabi Muhammad Saw. merupakan utusan Allah yang membawa ajaran Islam sebagai rahmatan lil alamin di muka bumi ini. Selain itu, ia juga merupakan seorang pedagang yang sukses dan jujur. Kepandaian dan kejujurannya itulah yang membuat hati seorang janda kaya raya nan dermawan jatuh cinta kepadanya, yakni Ibunda Khadijah. Sampai-sampai Khadijah r.a. sendiri yang melamar Nabi Muhammad Saw. untuk dijadikan suaminya.

Meskipun usia mereka berdua terpaut 15 tahun–lebih tua Khadijah, tetapi kisah cinta mereka tak kalah romantisnya dengan dongeng-dongeng Cinderella atau Putri Salju. Bahkan kisah cinta mereka berdua merupakan suatu kisah cinta yang paling romantis dan bisa dijadikan panutan bagi orang-orang yang sudah berumah tangga.

Dikisahkan bahwa ketika rombongan Nabi Muhammad Saw. sedang berada di luar kota Mekah dan sedang melakukan perjalanan dagang. Pada waktu itu Khadijah tidak mau menunggu kepulangan Nabi Muhammad Saw. di dalam rumah. Padahal saat itu kota Mekah sedang diguyur hujan selama berhari-hari. Hujan itu menyebabkan kota Mekah dilanda banjir.

Khadijah cemas bukan main, karena sang suami tercinta belum juga datang dari luar kota. Khadijah menunggu suaminya di bawah lebatnya hujan di depan rumahnya. Semua pelayan bingung menyaksikan tingkah nyonya mereka. Bahkan Maisarah pelayan yang sudah seperti saudara kandungnya sendiri tak bisa membujuk nyonyanya untuk masuk dan beristirahat di dalam rumahnya.

Akhirnya, karena tak kuat menahan dingin yang disebabkan guyuran hujan lebat yang tak kunjung reda, Khadijah jatuh pingsan. Suhu badannya meningkat dan menggigil. Menyaksikan nyonya besar pingsan di tengah lebatnya hujan, para pelayan segera membawa masuk nyonya Khadijah ke dalam rumah dan membawanya ke kamar.

Kisah yang so sweet yang lain dapat kita petik hikmahnya dari kisah cinta Nabi Muhammad Saw. dan Khadijah adalah ketika Nabi Muhammad Saw. berusia 35 tahun. Menginjak usia itu, ia lebih suka berdiam diri untuk bertafakur, berzikir, dan berdoa di tempat yang jauh dari keramaian. Gua Hira yang berada di puncak Gunung Hira menjadi pilihannya. Suatu hari Khadijah ingin menemani perjalanan suami tercinta ke Gua Hira. Perjalanan dari kota Mekah menuju ke sana memakan waktu kurang lebih satu jam.

Selama perjalanan menuju gua Hira, tak banyak kata-kata yang keluar dari Nabi Muhammad Saw. maupun Khadijah. Nabi Muhammad kadang berada di samping, depan, atau belakang Khadijah. Sesekali Nabi Muhammad memegang tangan Khadijah. Semakin naik ke puncak, semakin sedikit kata yang keluar dari mulut mereka.

Dalam perjalanan, Khadijah merasakan keagungan Allah yang Mahakuasa atas segala sesuatu di muka bumi ini. Ia memandang kota Mekah yang semakin kecil dari atas bukit. Awan-awan yang menggumpal di langit yang semakin nampak jelas ketika disaksikan dari atas Gunung Hira. Keindahan lain yang bisa disaksikan dari Gunung Hira adalah pemandangan matahari terbenam yang dapat membuat mulut tak bisa berhenti mengagungkan kekuasaan-Nya.

Perjalanan dua kekasih Allah ini mirip dengan kisah Nabi Adam dan Ibu Hawa ketika mengelilingi surga. Mereka tak berbicara, tetapi saling bergandengan tangan sembari menikmati keindahan dan kenikmatan yang Allah anugerahkan kepada mereka di surga.

Nabi Muhammad tak hanya sekali atau dua kali berdiam diri di Gua Hira. Selama Nabi Muhammad Saw. bertahannuts di Gua Hira, Khadijah diam-diam menyusulnya. Ia memang tidak mau mengganggu suaminya yang sedang menenangkan diri sembari bertafakur, berfikir, dan terus berdoa.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Khadijah tak bisa tidur dengan nyenyak ketika Nabi Muhammad Saw. jauh darinya. Ia memilih tinggal di antara lubang gua yang tak jauh dari Muhammad Saw. berdiam diri. Ia lebih nyaman dan lebih tenang tidur dekat dengan suaminya, meskipun harus beralaskan bebatuan yang keras. Daripada ia harus tidur di kasur yang empuk tetapi jauh dari suaminya.

Kisah di atas merupakan sekelumit tentang keromantisan Khadijah dan Muhammad Saw. Tentunya masih banyak kisah-kisah dari mereka berdua yang lebih menarik dan patut dijadikan tauladan bagai kita semua.

Sumber : Santrionline