Siapa Sangka Anak Kecil Bintang “Blue Band” Ini Kini Menjadi Artis Hijrah

Seorang anak kecil berhelm insinyur berwarna kuning, sedang menyusun lego membentuk bangunan. Di depannya disodorkan jajanan pasar. Sampingnya sebuah produk margarin kenamaan “Blue Bird”.

Itu adalah iklan print-out zaman dahulu kala, bukan zaman sekarang. Dan anak kecil itu sudah dewasa dan menjadi artis yang kini hijrah dan rajin ikut kajian keislaman.

Sembari mengenang masa lalu, artis itu mengungkapkan dalam kalimat yang penuh hikmah pada Rabu (21/2/2018):

“Waktu berlalu begitu cepat..
Rasanya baru tahun lalu menjadi anak-anak,
baru bulan lalu menjadi baligh,
baru minggu lalu mendapat kerja pertama kali,
Dan baru kemarin menjadi seorang ayah..
.
Telalu cepat, waktu berjalan terlalu cepat dalam keseharian

Namun..
Terlalu singkat, waktu berjalan terlalu singkat dalam kenyataan.
.
“Tahun depan sudah menjadi hari ini..
Namun aku masih tetap begini..”
.
Yaa Allah..
Dari segitu banyak waktu yang kulewati,
Begitu sedikit ilmu Mu yang kupelajari.
.
Suatu hari nanti.. kita semua akan melihat kembali kepada hari ini..
namun pada saat itu, mungkin jemari ini sudah tidak mampu menulis, mata sudah tidak mampu membaca, bahkan mungkin kita sudah tidak mampu berdiri..
Dan pada saat itu, kita akan mempertanyakan kembali,
kemana waktu ku lalui?
..
Pada saat itu semoga kita tidak lagi termasuk orang-orang yang merugi.”

Artis itu adalah pemain FTV, Mario Irwinsyah. Suami dari presenter olahraga yang kini mengenakan hijab, Ratu Anandita.

Sumber : Bersamadakwah

MasyaAllah !!! Kisah Mengharukan, Pria Miskin Ghana Naik Haji Berkat Drone Jatuh

Kisah ini memang sedang viral-viralnya di Jazirah Arab, apalagi di Turki. Tapi saya baru mendengarnya ketika Guru kami AlHabib Abu Bakar Al-Adni menceritakannya di Jalsah Itsnain Darul Musthafa 2 hari yankg lalu :

Namanya Alhasan Abdullah, seorang kakek miskin berusia 82 Tahun yg tinggal di pelosok desa Ghana, gak punya FB, Wa, Instagram dan belum pernah naik haji.

Meski ekonominya dibawah pas-pasan dan hidup di daerah terpencil yg jauh dari hiruk pikuk dunia, ia sama seperti aku, engkau, dan muslim- muslim lainnya diseluruh penjuru bumi , bercita-cita untuk bisa pergi naik haji, meskipun hanya sekali.

Wallahu Gholibun ‘Ala Amrihi, siapa yg bisa menghentikan kehendak Allah ? Ia sama sekali tak pernah menyangka bahwa pesawat kamera “Drone” yg nyangkut dipinggir rumahnya akan membantunya untuk mewujudkan impian mulianya. Ia juga tak pernah menyangka bahwa kelak akan ada orang yg bersedia memberangkatkannya ke Tanah suci, bkn kerabat atau tetangganya, melainkan seorang yg nan jauh di Turki sana.

Semua bermula ketika rombongan kru stasiun TV Turki (TRT Word) berkunjung ke Ghana untuk meliput kehidupan Masyarakat disana sebelum kunjungan Presiden Erdogan ke Ghana pada Maret 2017.

Kala itu kamera Drone milik salah satu jurnalis jatuh dan ditemukan Oleh salah satu penduduk setempat, kakek Alhasan Abdullah itulah orangnya. Ia melihat benda itu dengan perasaan heran, baru pertama kali ia temukan “pesawat” kecil berkamera semacam itu, maklum ia hidup di pedalaman Afrika yg mungkin masih belum ada internet dan listrik disitu.

Tak lama setelah itu, datanglah sang jurnalis untuk menjemput dronenya, Kakek itu tersenyum dan segera mengembalikannya. Lantas dengan polosnya ia bertanya pada jurnalis itu :

” Bisakah pesawat ini menjadi besar hingga dengannya aku bisa terbang ke Saudi untuk naik haji ?”

Sebuah pertanyaan tulus yg muncul dari hati yg telah lama memendam rindu, dan itu sudah cukup membuat para kru mengharu biru, Rupa-rupanya Setelah itu, ada salah seorang kru yg memposting foto Kakek itu di akun Facebook-nya lengkap dengan ceritanya, dan dengan izin Allah, dalam waktu singkat postingan itu menjadi viral, dibaca dan dishare oleh ribuan rakyat Turki. Kisah itu berhasil menarik simpati berbagai kalangan, banyak dari pengusaha dan pejabat Turki yg menyatakan bersedia untuk memberangkatkan sang kakek ke Tanah Suci.

Sampai akhirnya ia resmi menjadi calon jamaah haji dari Ghana dengan biaya ditanggung oleh salah seorang tokoh Turki, (dari berbagai sumber, ada yg mengatakan ia adalah anggota kepolisian Turki ada juga yg menyatakan bahwa menteri luar negeri Turki-Mevlut Cavusoglu-sendiri yg menanggung semua biaya hajinya.) Ini menunjukkan betapa banyaknya pihak yg berlomba-lomba untuk membantu si kakek mewujudkan impiannya.

Dan Beberapa hari yg lalu, Kakek Alhasan Abdullah dijemput dari Ghana menuju Istanbul untuk kemudian terbang ke Makkah dan madinah untuk melaksanakan Ibadah Haji. Semoga Hajinya mabrur ya Mbah..

***************************
Aku jadi teringat dawuh Al Imam Junaid Bin Muhammad :

” barang siapa yg membuka satu pintu niat tulus maka Allah akan membukakan untuknya 70 pintu Taufiq dan pertolongan-Nya”

kisah Kakek Hasan Abdullah dan kisah-kisah Haji “Ajaib” lainnya seakan mengajak kita untuk selalu berhusnudzon kpd Allah, bahwa kita semua mempunyai peluang untuk berhaji ke Tanah suci, baik saya yg ada di Yaman, yg hanya “beberapa langkah saja dari Saudi”, atau kalian yg berada di Indonesia dan bumi-bumi Allah lainnya. Inti dari semua itu adalah Allah mengizinkan Atau tidak, meridhoi atau tidak.

Sebagai Hamba-hambaNya, Kita hanya bisa berharap, mendekat, terus merayu dan berdoa, agar kelak Sang pemilik Baitullah memilih kita sebagai tamu-tamu-Nya di Tanah suci-Nya.

Rabbii.. Meski masih berlumur kesalahan, kelalaian dan dosa-dosa, tapi hati kami masih memiliki rasa rindu pada Tanah Haramain-Mu, maka demi kerinduan yg kau berikan ini, Ridhoilah kami untuk mengunjungi Tanah suci-Mu suatu saat nanti, untuk menyucikan diri dan untuk berziarah kpd Baginda Nabi. Aaamiin .

Ismael Amin Kholil | Tarim | Yaman | 1 Dzulhijjah | 1438 H

Sumber fb Ismael Amin Kholil

SantriOnline

Belajar Dari Kisah Kejujuran Bapak Ini “Kembalikan Dompet yang Ditemukan di Jalan, Langsung Dapat Apartemen”

Kisah ini datang dari seorang tunawisma di Thailand, Waralop (44). Ia menemukan dompet merk Hermes yang berisi 20.000 baht atau sekitar Rp 8,3 juta beserta kartu kredit dan kartu identitas lain di dalamnya.

Bukannya untuk dipakai membeli makan dan disimpan sendiri, ia langsung pergi ke kantor polisi terdekat dan melaporkan penemuan dompet berwarna cokelat mahal yang terdapat uang dan juga kartu-kartu penting lainnya.

Polisi kemudian menyampaikan kepada pemilik bahwa ada seseorang yang telah menemukan dompetnya.

Pemilik dompet bernama Niity Pongkriangyos (30). Ia merasa sangat senang ketika polisi mengatakan bahwa dompetnya telah ditemukan.

Nitty yang merasa sangat senang mengucapkan banyak terimakasih atas kejujuran Waralop. Nitty kemudian memberikan imbalan berupa pekerjaan di pabriknya di Bangkok kepada sang tuna wisma tersebut.

Tidak sampai di situ, atas kebaikan yang Waralop lakukan, ia mendapat sebuah apartemen dari Nitty.

Mendapat Apartment
Dilansir dari metro.uk, Nitty mengatakan “Saya benar-benar terkejut ketika polisi mengatakan bahwa mereka membawa dompet saya karena saya tidak mengetahui bahwa saya telah kehilangan dompet tersebut.
Reaksi pertama saya adalah ‘wow’, jika saya dalam posisi tidak punya uang sepertinya, saya pasti akan menyimpannya.

Ia telah kehilangan tempat tinggal dan hanya memiliki beberapa koin di sakunya, tetapi dengan jujur ia mengembalikan barang yang bukan miliknya.

Ia menunjukkan bahwa dirinya orang yang baik dan juga jujur, dan saya membutuhkan staf yang sepertinya.”

Sebelumnya, pengusaha muda ini berniat untuk memberikan imbalan sebesar 2000 baht, atau sekitar Rp 800 ribu.

Namun karena ia terketuk akan kebaikan Waralop, ia akhirnya memutuskan menawarkan pekerjaan, dan juga tambahan akomodasi dengan total gaji hingga 11.000 baht (Rp 4,5 juta). Waralop menceritakan kronologinya saat menemukan dompet milik Nitty.

Saat ia tidur di emper stasiun kereta bawah tanah, ia melihat Nitty tidak sengaja menjatuhkan dompetnya. Kemudian ia berjalan mengejar Nitty, namun tidak berhasil.

Kekasih Nitty kemudian memamerkan kebanggaannya pada Waralop dengan mengunggah foto Waralop di media sosial miliknya.

Kepada media ia mengatakan “Waralop adalah contoh yang benar-benar baik dalam bersikap. Bila Anda berbuat baik terhadap orang lain, pasti Anda akan mendapat balasan yang setimpal.”

Waralop mengatakan bahwa ia sangat bersyukur bisa diberi kesempatan bekerja bahkan diberi tempat tinggal yang bersih dan nyaman.

“Saya sangat bahagia atas kebaikan yang Nitty dan Tarika tunjukkan kepada saya.”

Nah Moms, berbuat baik pasti selalu ada balasan baik juga. Semoga kisah ini menjadi inspirasi agar hidup Moms bisa jauh lebih baik lagi.

Sumber : nakita

Salut, Dengan Gaji Pas-pasan, Anggota Brimob Ini Hidupi 64 Anak Yatim Selama 10 Tahun

Meski tak bergaji lebih, Brigpol Rochmat Tri Marwoto (40), anggota Detasemen C Pelopor Satuan Brimob Polda Jawa Timur, Jalan Yos Sudarso No 90, Kota Madiun, tak pernah menyerah berjuang menghidupi 64 anak asuhnya.

Bersama istrinya, Rochmat yang baru saja mendapatkan penghargaan dari Kapolda Jatim Irjen Machfud Arifin bahu-membahu menghidupi dan menyekolahkan mulai anak yatim, anak telantar, hingga anak mantan pecandu narkoba.

“Anak yang pernah makan satu rumah dengan saya ada 64 anak. Ada yang tinggal dua bulan, ada yang tujuh tahun,” kata Rochmat, Rabu (22/11/2017) siang.

Brigpol Rochmat mendapatkan penghargaan dari Kapolda Jatim karena berprestasi dalam hal kepedulian sosial.

Pasalnya, sejak tahun 2007, Rochmat menampung anak-anak telantar, kurang mampu, dan anak yatim di rumahnya.

Keinginan warga Dusun Jati, Desa Klagenserut, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, itu mengasuh anak-anak tak mampu muncul saat dia merasakan betapa sulitnya membayar biaya kuliah.

Sekitar 10 tahun yang lalu, Rochmat mengikuti pendidikan di Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia di Jakarta.

Tingginya biaya kuliah menjadikan ayah dua anak ini harus bekerja sampingan menjadi tukang ojek. Dari kerja sampingan itu, dia mengetahui bagaimana sulitnya mencari biaya untuk pendidikan.

“Saat kuliah di Jakarta, saya bekerja sampingan menjadi tukang ojek dari pukul 15.00 sampai pukul 21.00. Dari hasil ojek, saya mendapatkan tambahan pendapatan Rp7.000 hingga Rp12.000,” kata Rochmat.

Berbekal pengalaman itu, Rochmat bertekad dalam diri. Suami Helmiyah (38) itu berjanji kepada istrinya apabila mendapat rezeki berlebih akan diberikan kepada anak-anak yang kurang mampu.

Tak terasa, 10 tahun, Rochmat dan istrinya sudah menghidupi 64 anak asuh. Saat ini, ia masih menghidupi 15 anak yang tinggal di rumahnya bersama istri dan dua anaknya.

Tak hanya biaya sekolah, anak-anak yang diasuhnya dicukupi kebutuhan hidupnya. Bahkan banyak di antaranya melanjutkan pendidikan hingga bangku perkuliahan.

“Kalau anak-anak mau sekolah sampai perguruan tinggi, ya saya siap tanggung biayanya. Dari mereka, kini ada yang sudah jadi polisi, guru, hingga pegawai bank,” kata Rochmat.

Untuk membiayai kebutuhan anak asuhnya, Rochmat harus memutar otak. Pasalnya, penghasilannya dari pekerjaan tidak mungkin bisa mencukupi kebutuhan semua anak asuhnya.

Untuk itulah, Rochmat bersama istrinya membuka aneka usaha. Usaha yang dibuka yaitu perkebunan, toko kelontong, dan toko buah. Rochmat menceritakan, anak-anak yang diasuhnya dikenal saat dia mengisi kegiatan ekstrakurikuler sekolah di Madiun.

“Saya kenal mereka saat saya mengajar Paskibraka, OSIS, dan juga pramuka di sekolah-sekolah,” kata Rochmat.

Dari mengajar di sekolah, lanjut Rochmat, dia banyak mengenal guru dan murid. Di sekolah itu, dia banyak bertemu dengan anak yang kurang mampu dan anak yatim piatu yang tidak memiliki biaya untuk sekolah.

Rochmat mengaku bangga dan senang lantaran mendapat penghargaan dari Kapolda Jatim.

“Saya senang dan bangga. Ini merupakan penghargaan pertama saya dan ini merupakan tanggung jawab yang berat,” jelas Rochmat.

Atas perjuangannya yang luar biasa, Rochmat mendapat penghargaan dari program televisi “Kick Andy Heroes” dalam bidang sosial pendidikan.

Selain itu, Rochmat juga sering diundang wawancara di televisi. Terakhir, pada 16 November 2017 bertepatan dengan Hari Brimob, Rochmat didaulat hadir pada acara “Hitam Putih” di Trans TV.

Perjuangan keras Rochmat menghidupi 64 anak asuh, tak luput dari bantuan Helmiyah (38), istrinya.

Helmiyah mengaku bangga menjadi istri Rochmat. Pasalnya, suaminya merupakan sosok pria pekerja keras dan memiliki jiwa sosial yang tinggi.

Sosok pekerja keras Rochmat terlihat manakala selepas pulang dinas, suaminya langsung pergi ke kebun untuk merawat tanaman jahe, cengkih, dan durian.

Uang dari penjualan hasil kebun milik Rochmat digunakan untuk membiayai seluruh kebutuhan anak asuhnya.

“Bapak itu pekerja keras. Setelah pulang kantor, Bapak tidak tidur, tetapi langsung ke kebun,” ujar dia.

Dia pun merasa tidak pernah terbebani karena harus mengurusi anak asuh yang ditampung oleh suaminya. Dia mengaku senang rumahnya ada banyak anak-anak.

Untuk menampung anak-anak asuh, tiga kamar tidur khusus dipakai untuk tidur anak-anak perempuan. Sementara anak-anak laki-laki tidur di toko buah.

Helmi mengatakan, saat ini terdapat 15 anak asuh. Satu anak duduk di bangku TK, satu anak di SMP, tujuh anak di SMA, dan enam anak kuliah di STAIM Magetan.

Dalam sebulan, rata-rata ia harus mengeluarkan biaya Rp 8 juta untuk makan dan uang saku anak asuhnya.

Tak pelak, setiap hari dia harus memasak delapan kilogram beras. Belum ditambah dengan lauk-pauk yang harus disediakan setiap hari.

Meski berstatus anak asuh, Helmi memperlakukan anak-anak asuh layaknya anak kandungnya sendiri. Dia tidak pernah pilih kasih dalam memberikan perhatian.

Selama 10 tahun bersama anak asuh, Helmi mengaku lebih banyak sukanya dibandingkan dengan dukanya. Dia lebih senang lantaran banyak anak-anak di rumahnya sehingga bisa saling bercerita dan berbagi.

Sumber: intisari.grid.id

Patut Dicontoh !!! Cerita Pengusaha Mualaf Sedekah Jual Nasi Kuning

Berbuat baik tak pandang suku, agama, dan ras. Bahkan yang tak bergama pun bisa makan di sini.” Kalimat itu keluar dari mulut seorang mualaf Tionghoa yang memberikan dana pribadinya untuk membangun warung makan dengan harga luar biasa murah bagi satu porsi makanan.

Muhammad Jusuf Hamka (60) dimualafkan oleh Buya Hamka pada 1981 silam, berbagi dengan cara lain yang tak hanya memberikan uang atau barang, ia mencetuskan ide menjual makanan murah untuk membantu orang-orang yang kekurangan. Hasil penjualan nantinya akan diputar kembali untuk berbagi.

Warung Nasi Kuning Podjok Halal di Jalan Yos Sudarso Kav 28 Jakarta Utara ia buka tepat di samping kantor ia bekerja di PT Citra Marga Nusa Pala (CMNP) sebagai Penasihat Utama.

photo
spanduk promosi nasi kuning Podjok Halal. dok Fergi Nadira/Republika
Warung seukuran 5 meter dengan beratapkan tenda setiap Senin sampai Jumat menjual nasi, sayur dan lauk pauk seharga Rp 3 RIbu untuk satu porsi berisi nasi kuning, lauk dan sayur. Disediakan pula gelas dan dispenser untuk mengambil air minum sendiri yang disediakan Jusuf.

Warung untuk dhuafa dan masyarakat tidak mampu ini dibuka sejak pukul 11 siang sampai jam satu siang. “Persiapan jam 11, dibuka sampai jam satu. Sebab kan, ini yang layani juga dari karywan PT CMNP, kita kembali kerja lagi. Jadi setiap harinya bergantian juga,” kata salah seorang Karywan PT CMNP sambil melayani pembeli.

Satu persatu berbagai macam orang datang bergantian, mulai dari pekerja pabrik, pemulung, masyarakat yang melewati kantor CMNP, sampai ojek online ingin mencicipi makanan porsi seharga Rp 3 ribu itu. Dari pantauan Republika.co.id, menu hari ini terdiri dari nasi kuning, sayur kacang, telur bulat dan telur ceplok cabe dan ikan tongkol pedas serta sambal.

photo
Menu nasi kuning Podjok Halal usaha Muhammad Jusuf Hamka
Republika.co.id juga mencicipi makanan murah tersebut, dan hasilnya makanan itu terasa lezat dan pas di lidah. Setiap harinya menu bergantian, antara lain, ayam, ikan, daging syur berkuah, tumis dan lain sebagainya.

Begitupun kata Yana (52) yang bekerja sebagai kuli pengangkat alat-alat berat. Ia mengatakan, beruntung bisa makan makanan murah, higienis, dan lezat dengan harga yang benar tak menguras kantong.

“Saya tau dari temen, nih ada makanan murah di samping. Saya langsung ke sini. Alhamdulilah enak. Besok saya ke sini lagi makan siang. menghematkan dan menyehatkan,” kata Yana, Selasa (13/2).

photo
driver ojek online tengah menyantap nasi kuning. Fergi Nadira/Republika
Meskipun begitu, Jusuf tak memaksa jika ada yang benar tidak ada uang untuk makan, siapapun bisa makan di warungnya. “Andai kata orang itu dateng naik mobil, keliatan mampu. gapapa, tetep di tolong. kita kan gatau di kantongnya ada duit apa ngga,” kata Jusuf.

Sikap mulia Jusuf ia persembahkan atas rasa kebersyukurannya dan juga demi tabungan di akhirat nanti. Sebab, anugerah syukur dari Tuhan telah melimpah ruah diberikan Tuhan kepadanya, untuk itu, kata dia, mengapa tak dibagikan bagi orang yang kekurangan.

Berbuat kebaikan, kata dia, juga tidak perlu pilih-pilih orang. Siapapun, jika membutuhkan dan kekurangan harus ditolong. “Warung ini merupakan pola pertama untuk membentuk suatu sistem. Siapa tahu dari pengusaha bisa membantu sesama dengan cara ini,” ujar Jusuf.

Dari perilakunya tersebut, mengundang berbagai orang menyumbangkan uang untuk warung yang didirkannya. Ia takmemaksa, tapi seperti ia bercerita, ada seorang yang memakan membayar sebesar Rp. 50 ribu dan tidak meminta kembalian, kata orang tersebut, “saya juga mau ikut sedekah,” cerita Jusuf.

Selain itu, ada pula pengusaha yang menyumbangkan Rp 5 juta untuk sedekah di warung podjok nasi kuning halal.

Dalam seminggu, Warung Nasi Kuningg Podjok Halal memeroleh makanan dengan memberdayakan warung makan sekitar. Seperti hari ini warung makan asal Padmangan Jakarta Utara ditugaskan untuk memasak.

“Saya ngga mau ada kompetisi, saya juga ngga mau mematikan warung makan setempat, jadi saya berdayakan dengan kerja sama memberikan subsidi ke mereka untuk menyediakan makanan. Tetep harga dari mereka semisal satu porsi 10 ribu. Yang dijual 3 ribu, jadi subsidi yang saya kasih dari dana saya ya 7 ribu,” kata dia.

Gagasan awal mendirikan warung ini, dimulai dari puasa Ramadhan setiap tahunnya. Ia kerap memberikan buka puasa geratis selama satu bulan di kantornya untuk para kaum dhuafa dan kekurangan. Kemudian, ia berpikir, untuk menolong orang yang tak hanya satu kali dala setiap tahunnya, ia berpikir mengapa tak setiap hari saja. Untuk itu, ia mencetuskan pola ini untuk berbagi

“Kalau ditanya cari untung, mana ada untungnya ini. Tapi saya mendapatkan untung buat bekal di akhirat. Uang yang kita simpan bukan uang kita, tapi uang yang kita sedehkahkan itu uang kita,” ujarnya.

Rencana ke depan, pada beberapa bulan lagi, ia akan mencoba membuka di lima titik wilayah Jakarta. Pertama Jakarta Uatara yang telah dimulai sejak (6/2). Selanjutnya Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Pusat dan Jakarta Barat. Ia juga berharap, pemerintah dan pengusaha dapat melihat ini sebagai jalan kebaikan menolong sesama. Sebab, di Jakarta sendiri masih banyak orang yang kekurangan menyoal perut.

Secara agama, dia tak merasa dirinya sebagai ustaz atau yang oaling baik beragama. Namun, menurutnya perlakunya itu dapat menyontohkan orang lain agar bisa bermanfaat bagi sesama manusia apalagi orang-orang yang berkebutuhan dan kekurangan.

Sumber : Republika

Mata Berkaca-Kaca, Mualaf Pierre : Ya Allah Ambil yang Allah Mau dari Saya, Asal Jangan ….

Seorang Mualaf bernama Pierre Reynaldi menceritakan perjalanan hidupnya hingga akhirnya ikrar Syahadat dan memeluk agama Islam.

Piere menegaskan bahwa keputusan dirinya memeluk agama Islam adalah keputusan yang bulat tanpa ada keraguan. Berkat Islam, Piere mengaku terselematkan dari pergaulan bebas dan narkoba.
“Yaa Allah Ambil deh, ambil yang Allah mau dari saya. Keluarga saya, pekerjaan, temen, saya ga masalah, saya ga peduli. Cuman satu jangan KeIslaman saya yang Engkau ambil. Saya ga punya apa-apa kalau ga punya Islam, Islam selamatkan hidup saya, Islam merubah hidup saya 360 derajat. Mungkin kalau ga ada Islam, saya ga tau saya jadi apa. Mungkin bisa mati karena pergaulan bebas, mati karena narkoba. Saya ga mau mati dalam keadaan kafir” papar Piere dengan mata berkaca-kaca.

Berikut ini video lengkapnya wawancara Piere dengan channel youtube Vertizone TV, yang dipublikasikan senin 12 Februari 2018.

Sumber : Islamedia

Masuk Islam, Guru Sekolah Minggu Gereja Ini Punggungnya Dicambuki Sampai Luka-luka oleh Keluarganya

Pria ini bernama Ustadz Muhammad Yusuf Hidayat, ketika masih Kristen bernama Julius Suwars. Sebelum berhijrah kedalam Islam, profesinya sebagai Guru Sekolah Minggu di salah satu gereja terbesar didaerahnya yaitu GKS Mata Waita Bula, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.

Setelah melalui proses perenungan yang panjang, akhirnya Julius mengucapkan kalimat Syahadat untuk menjadi seorang Muslim. Ikrar Syahadat yang diucapkanya bukanlah akhir dari perjalananya, namun sebaliknya adalah awal dari perjuanganya.

Proses masuknya Ustadz Yusuf ini tidaklah mudah, sangat berat ujianya mirip apa yang dialami Sahabat Rosulullah Bilal bin Rabbah.

Dalam mempertahankan hidayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala Julius pernah merasakan punggungnya dicambuki sampai luka-luka dan bernanah oleh keluarganya, tidak dirawat dan dibiarkan bahkan kemudian di masukkan penjara karena berhijrah kedalam islam.

Alhamdulillah beliau sekarang menjadi Guru Membaca Al-Qur’an dan Bahasa Arab, Dan sedang mempraktekkan pelajaran yang didapat dari menempuh pendidikan Islam di Lembaga Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) di Jakarta.

Saat ini aktivitas keseharianya memberikan bimbingan kepada para Muallaf dan juga seluruh Umat Islam yang ingin mempelajari Islam lebih dekat.

Ustadz Yusuf tidak pernah memberikan tarif alias GRATIS, kepada siapa saja yang mau belajar membaca Al-Qur’an atau Bahasa Arab. Berlokasi di Musholla Nurul Huda, Penrose Cluster, Jalan Ratna Mediterania Regency Cikunir, Bekasi.

Sumber : Muallaf Centre Indonesia

Pertanyaan : Masa Tuhan Bisa Mati?, Membuat Pria Katholik Ini Masuk Islam

Anthony Vatswaf Galvin Green lahir dari ibu penganut Katolik Roma yang taat dan ayah seorang agnostik, Anthony dibesarkan sebagai seorang Katolik Roma yang taat. Ayahnya seorang administrator kolonilal kerajaan Inggris. Kini, kerajaan yang terbentang begitu luasnya lebih dari sepertiga permukaan bumi itu telah hancur. Satu-satunya yang tersisa adalah beberapa pulau di Falklands. Begitu banyak hal yang berubah, termasuk Antony, bahkan namanya kini berubah mnejadi Abdur raheem Green.

“Semua itu pelajaran dari Allah. Ia memberitahu kita dalam Alquran untuk berjalan di bumi dan melihat konsekuensinya”, katanya.

Rasa bersalah dari sang ibu yang menikah dengan seorang agnostik, membuat ibu Anthony berambisi menjadikannya menjadi seorang penganut Katolik Roma yang taat. Anthony (10) dan sang adik, Duncan (8) disekolahkan di asrama biara. Setiap hari ia hidup bersama para biarawan di Ampleforth College, di Yorkshire, Inggris Utara.

“Seharusnya ibu juga menikah dengan seorang Katholik, tapi karena ibu menikah dengan ayah yang agnostik, ia merasa menjadi seorang penganut Katolik yang buruk. Maka, ia ingin menjadikanku seorang Katolik yang taat,” ujarnya. Sang ibu menganggap dengan bersekolah di asrama akan membuat Anthony menjadi penganut Katolik yang taat.

Saat Anthony berumur sembilan tahun, sang ibu mengajarinya sebuah doa yang biasa diucapkan oleh umat Katholik. Doa itu dimulai dengan kalimat “Salam maria, ibu Tuhan”. Namun, kalimat itu membuat Anthony sangat tidak nyama. Bahkan dalam usianya yang baru sembilan tahun, kalimat itu seperti pukulan pertama, mendengar ibu berkata salam maria ibu Allah

“Aku kemudian bertanya pada diri sendiri bagaimana Tuhan bisa memiliki ibu?,” katanya. Ia berpikir Tuhan seharusnya tanpa awal dan tanpa akhir. Bagaimana bisa Tuhan memiliki seorang ibu? Anthony kecil kemudian mengambil kesimpulan “jika Maria adalah ibu Tuhan, maka pasti Maria menjadi Tuhan lebih baik daripada Yesus”.

Belum lagi soal pelajaran di sekolahnya yang semakin membuatnya galau. Di sekolah, dalam satu kali setahun selalu ada pengakuan dosa kepada pastor. “Kamu harus mengakui semua dosa, jika tidak maka pengakuan dosa-dosamu tidak akan diampuni,” begitu kata pastur.

Ia mulai berpikir kritis, bagaimana mungkin mengakui dosa kepada seorang pastor. Apalagi menagakui dosa terhadap orang-orang yang notabene tinggal bersama dalam satu asrama. “Dengan kata lain mereka yang bertanggung jawab dari kita?,” begitu pikirnya. Ia mengasumsikan pengakuian ini sebagai adalah konspirasi besar dalam rangka untuk mengontrol orang dengan modus mengakui dosa.

“Mengapa saya harus pergi ke Anda untuk mengakui dosa-dosa saya? Mengapa saya tidak bisa meminta Tuhan untuk mengampuni saya?”, katanya kepada pastor. Pastor itu menjawab bisa saja meminta ampun secara langsung kepada Tuhan, tapi tak ada jaminan Tuhan mendengan pengampunan dosanya.

Ia merasakan keimanannya semakin ‘ada dalam masalah’. Pikirannya mulai liar, ia bahkan memiliki ide “Tuhan menjadi manusia”.

Masyarakat barat selalu berpikir jika ingin bahagia dan menikmati hidup, maka hanya ada satu jalan yaitu memiliki banyak uang. Dengan uang dapat membeli mobil bagus dan TV, pergi ke bioskop dan bisa membeli semua hal yang dibutuhkan untuk hidup. Pada kenyataannya Anthony sama sekali tidak merasakan hal itu.

Pikirannya mulai terbuka. Ia sering bertanya mengapa harus sekolah di asrama, jauh dari siapapun dan dimanapun. Saat berusia sebelas tahun, sang ayah dipindah tugaskan ke Mesir. Ayahnya menjadi General Manager Barclays Bank di Kairo. Hampir selama sepuluh tahun, ia selalu menghabiskan waktu liburan di Mesir. Sekolah di London, dan liburan di Mesir.

Ia mulai jatuh cinta pada Mesir. Saat kembali ke sekolah seusai liburan, ia bertanya untuk apa kembali ke asrama Yorkshire Moor, ia merasa tak menyukai tempat itu. “Saya mulai bertanya pada diri sendiri mengapa saya ada, apa tujuan hidup saya,hidup ini untuk apa? Apa itu cinta?”.

Ia pun mulai mempertanyakan hakikat hidup. ia menjawab sendiri pertanyaannya. “Aku sekolah disini dalam rangka belajar untuk mendapatkan hasil yang terbaik, agar bisa pergi ke universitas yang baik. Setelah itu dapat gelar, dapat pekerjaan yang membuat saya punya banyak uang. Jadi, kalau saya punya anak, bisa mengirim anak ke sekolah yang mahal,” begitu pikirnya. Tapi ia masih menanyakan untuk apa semua itu, ia tak yakin apa yang dipikirkannya adalah alasan untuk hidup yang sebenarnya.

Ia lantas mulai mencari jawaban, memulai pecarian. Pencarian itu barangkali bisa ditemukan melalui agama lain yang mungkin bisa memberikan pemahaman tentang tujuan hidup.

Sepuluh tahun waktu yang di ia habiskan di Mesir. Ada satu masa saat ia berumur 19 tahun berbincang tentang Islam dengan seseorang. Ia memang meragukan Katholik sebagai agamanya. Tapi saat itu siapapun yang mempertanyakan agamanya itu, ia akan tetap membela keimanannya. Ia merasakan ini sebagai sebuah paradoks yang aneh.

“Aku berbincang dnegan orang itu selama 40 menit. Pemuda itu memintaku menjawab beberapa pertanyaan darinya,” katanya.

Si Pemuda menanyakan “apakah kau mempercayai Yesus?”, Anthoni menjawab “ya”. Pemuda itu kemudian bertanya lagi, “apakah kamu percaya Yesus mati disalib”, Anthoni kembali menjawab “ya”.

Sebuah pukulan telak, seperti mendapatkan tinju dari Mike Tyson ketika mendnegar si pemuda mengatakan “jadi kamu percaya Tuhan mati?”.

Seketika Anthony terperangah, menyadari sebuah ironi. Sambil mengakui kebodohan dirinya, ia menjawab, “tentu saja saya tidak percaya Tuhan mati. Manusia tidak bisa membunuh Tuhan,” kata Anthony.

“Saya lalu berpikir itu sebagai suatu hal yang menarik,” ujarnya.

Lupakan Agama, Lebih Baik Cari Uang

Ternyata ada satu masa pula dalam hidupnya ketika Anthony tak ingin berpikir lagi tentang agama. “Saya merokok dan minum kopi, tapi pertemuan dengan pemuda di Mesir menjadi titik balik dalam kehidupan saya,” katanya.

Sebelumnya saya tak pernah bermimpi bahkan memikirkan tentang Islam. Saya mulai berkata pada diri sendiri untuk melupakan soal agama, soal spiritualitas. “saya berpikir mungkin tak ada lagi kebahagiaan selain menjadi kaya,” ujarnya. Anthony kemudian bercita-cita bisa naik kapal pesiar atau pesawat jet pribadi agar bisa bahagia.

Ia berpikir bagaimana menghasilkan uang tapi hanya sedikit usaha. “Siapa yg ingin mengabiskan banyak waktu untuk bekerja?” pikirnya. Ia mengingat orang Inggris yang memiliki banyak uang tapi mereka bekerja terlalu keras, bahkan sampai terjadi revolusi industri. Orang Amerikapun harus berjuang keras untuk menjadi kaya. Orang Jepang pun dikenal sebagai penggila kerja.

“Kemudian saya berfikir tentang orang Arab. Mereka duduk di atas unta dan berteriak ‘Allahu Akbar’, tapi mereka kaya,” ujarnya.

Anthony mengira pasti ada sesautu disana. Ia lantas bertanya-tanya apa yang menjadi agama mereka dan kitab suci mereka.

Membaca Alquran

Alquran! Ya, Anthoni merasakan ketertarikan luar biasa untuk membeli Alquran. Ia mengambil terjemahannya. “Aku tak ingin mencari kebenaran. Aku hanya ingin tahu apa isi kitab suci ini,” katanya.

Anthony adalah pembaca yang cukup cepat. Ia membaca Alquran saat berada di kereta api.

Seketika itu pula ia menyimpulkan dan berkata pada diri sendiri, “Jika saya pernah membaca buku yang berasal dari Tuhan, maka ini dia bukunya.”

Ia menyakini Alquran itu berasal dari Allah. Ketika menyadari itu ia mulai bergerak lebih jauh, tak hanya membaca Alquran saja, tapi untuk mengamalkannya juga. “Sama saja seperti kita melihat apel yang terlihat harum, kita tak akan pernah tahu rasanya kalau tidak mencicipinya,” katanya.

Tertarik dengan pengamalan Alqurlan ia pun mulai mencoba untuk shalat meski saat itu ia belum resmi mengucap syahadat. Tak tahu bagaimana cara shalat, ia mengingat-ingat bagaimana seseorang yang pernah ia temui di Mesir melakukan shalat. “Saya mengingat seorang lelaki shalat dengan cara yang lebih indah dibandingan saya ketika masih menjadi Katholik,” katanya.

Suatu hari Anthony pergi ke toko buku yang kebetulan berada di dalam masjid. Toko itu memiliki koleksi buku tentang Muhammad dan tata cara shalat. Seorang pria menanyakan apakah ia seorang Muslim. Anthony lantas menjawab, “Apakah saya Muslim, apa yang ia maksud dengan itu? Saya bilang “Ya saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusannya.”

“Ah, bila demikian, anda Muslim. Ini waktunya shalat, mari kita shalat,” ajak si lelaki itu.

Anthony kebetulan datang ke toko buku itu saat hari Jumat. Ia yang tak paham gerakan shalat hanya berusaha shalat dengan gerakan yang ia tahu saja. Masih salah disana-sini. “Setelah itu orang-orang mengelilingi saya dan mengajarkan saya cara shalat yang benar.” Ia merasakan seperti berada di awan. “Rasanya Fantastis.”

Namun butuh dua tahun lagi sebelum akhirnya ia resmi bersyahadat dan menjadi Muslim.

Sumber : Islamedia

Setelah Dialog 2 Jam, Alhamdulillah Pria Asal Medan Ini Ikrar Syahadat di Thamrin City Mall Jakarta

Ketua Mualaf Center Indonesia (MCI) Steven Indra Wibowo memposting sebuah foto orang sedang bersalaman di akun instagramnya. Foto tersebut adalah prosesi ikrar Syahadat yang dilakukan seorang pria asal Medan Sumatera Utara.

Pria bernama Donald tersebut mantab untuk memeluk agama Islam dan Ikrar Syahadat setelah sebelumnya melakukan dialog tentang ke Islaman dengan Pembina MCI Ustadz Romadi.

“Alhamdulillah, atas idzin Allah, tadi siang, setelah berdialog sekitar 2 jam bersyahadat seorang pria asal Medan, berumur 38 Tahun, namanya Sabar Donal P” tulis Steven melalui akun IG nye @steven.indra.wibowo, senin (12/2/2018).

Donald mengucapkan kalimat Syahadat di GEMASMART Thamrin City Mall Jakarta pusat dengan dibimbing langsung oleh Ustadz Romadi yang juga koordinator Gemas Gerakan Membersihkan Masjid.

“Beliau mengucapkan 2 kalimat Syahadat di GEMASMART, Thamrin CityMall lt 3A Blok H20-03 bersama salah satu pembina Mualaf Center Indonesia, pakdhe Romadi (cek mualaf.com/pembina) yang juga koordinator Gemas (Gerakan Membersihkan Masjid). Semoga iatiqomah dan menjadi muslim yang kaffah” tulis Steven lebih lanjut.

Sumber : Islamedia

Karena Selalu Membaca Doa Ini, Tukang Becak Bisa Menyekolahkan Semua Anaknya Sampai Sarjana

Ini merupakan kisah nyata Seorang Tukang Becak Mampu Menyekolahkan Semua Anaknya Sampai Sarjana, meski doa yang dia baca salah, tetapi doa tersebut dikabulkan oleh Allah. Kisah ini pernah disampaikan langsung oleh Prof. DR. Mahfud MD pada kultum tarawih yang diisi oleh beliau saat masih menjadi ketua Mahkamah Konstitusi.

Pak Mahfud heran bukan kepalang karena tukang becak yang ia temui tersebut mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga menjadi sarjana. Diatas kertas hal ini sangat tidak mungkin terjadi karena berapa sih penghasilan seorang tukang becak? Namun Allah Maha Besar, Allah Maha Mengabulkan doa dari seorang hamba.

Hal ini membuat seorang Mahfud MD keheranan. “Pak, saya sungguh heran, bagaimana bisa bapak mampu melakukan itu semua, apa yang sudah bapak lakukan untuk anak-anak bapak?” kurang lebih begitulah pertanyaan beliau kepada laki-laki itu.

Dengan menggunakan bahasa jawa halus tukang becak tersebut menjawab pertanyaan Mahfud.

“Saya hanya menjalankan pekerjaan saya sebaik-baiknya pak.” jawab tukang becak.

“Masak cuma itu saja pak?” timpal Mahfud karena masih penasaran, Sambil berharap ada rahasia lain yang disimpan oleh tukang becak tersebut.

Karena terus didesak, Akhirnya tukang becak itu pun membongkar rahasianya.

“Sejak saya belum menikah, masih muda, saya selalu membaca sebuah doa pak” ungkapnya.

“Maaf Pak, Kalau saya boleh tahu, seperti apa doanya?” tanya Mahfud semakin penasaran.

“Anu pak, doanya sih sebenarnya pendek saja. Lha wong saya saja sebenarnya masih awam agama.” kata si tukang becak tersebut sambil malu-malu.

“Panjang dan pendeknya doa itu sebenarnya tidak masalah, Pak. tapi doanya itu seperti apa ya pak?” kata Mahfud semakin tak sabar ingin tahu doa tersebut.

“Begini pak. Setiap kali saya mengayuh becak, di setiap kayuhan, saya selalu membaca La Wala Wala Kuwata, nggih mung kados mekaten pak (iya, hanya itu saja pak)” jawab tukang becak polos.

Mendengar penuturan tukang becak tersebut. Mahfud MD yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren langsung termenung, ia paham bahwa doa yang dimaksud tukang becak tersebut itu adalah bacaan Hauqalah dengan lafadznya ‘La haula wa quwata illa billah’ (Tiada daya upaya kecuali karena Allah )

Hanya karena tukang becak tersebut tak pernah belajar mengaji, maka ia hanya mampu mengingat bacaan itu dan melafadzkan semampunya seperti yang pernah ia dengar.

Tapi bayangkan, Betapa Allah memang Maha Pemurah dan Maha Pemaaf bagi semua hambaNya, kata Mahfud. “Bahkan sebuah dzikir yang keliru pun dikabulkan olehNya.” Tutup Mahfud MD dalam ceramahnya.

Wallahu A’lam

Sumber : Kabarmakkah