4 Tipe Menantu Idaman Mertua

Coba kita sejenak pejamkan mata dan bayangkan. Berapa puluh tahun kemudian kita memiliki anak lelaki dan anak tersebut membawa seorang perempuan kemudian meminta restu kepada kita untuk menikahinya.

Pastilah yang ada dalam benak kita adalah perempuan yang sesuai dengan pilihan kita. Perempuan yang dapat merawat, mendampingi dan “menggantikan” kita setelah anak lekaki tersebut hidup bersama kita sekian lamanya.

Begitu jugalah dengan calon mertua kita saat ini. Tentunya mereka ingin hanya perempuan terbaiklah yang dinikahi oleh anaknya. Kalau kamu merasa sudah memenangkan hati pacarmu, semua belum berhenti sampai disitu saja.

Kamu juga harus berhasil masuk ke dalam kategori tipe menantu idaman yang dapat memenangkan hati sang mertua. Seperti apa tipe menantu idaman mertua masa kini, simak ya brides.

1. Pintar Membawa Diri Dalam Keluarga
Setiap ibu menginginkan anaknya bisa menikah dengan istri yang pintar. Pintar disini bukan hanya pintar secara akademis, namun juga cerdas dalam membawakan diri ke dalam keluarga suami.

Selalu gesit dan siap membantu jika diperlukan tanpa terlihat seperti sedang “cari muka”. Mertua juga ingin bahwa ketika anaknya menikah, mereka tidak menjadi jauh dari keluarganya.

Disinilah peran menantu diperlukan untuk menjaga keharmonisan di kedua belah pihak keluarga.

2. Bisa Memasak
Mereka tentu tidak mau anak yang disayanginya tidak mendapatkan asupan makanan seperti dulu saat tinggal bersama orangtuanya.

Tidak perlu expert seperti chef – chefhandal tetapi setidaknya bisa menyajikan makanan dengan gizi berimbang kepada suaminya.

Dimasakkan oleh ART karena kamu sibuk bekerja? Oke – oke saja, asalkan tetap harus kita sebagai istri yang mengatur menu makanan dan bagaimana pola serta aturan makanan bagi suami kita seperti tidak memakai MSG atau kadar yang tepat untuk garam dan gula nya.

Dengan begitu mertua akan tenang menyerahkan anak kesayangannya kepada kita.

3. Rapih dan Bisa Mengatur Rumah Tangga
Siapa juga yang mau punya menantu berantakan? Beliau akan berpikir bagaimana bisa kamu merawat anaknya jika membuat rumah rapih saja tidak fasih.

Selain itu kamu juga harus bisa mengatur keuangan dalam rumah tangga. Kalau kamu sudah terlihat boros sebelum menikah tentu mertua tidak akan senang melihatnya.

4. Sopan
Sopan dalam bertutur kata dan sopan dalam berpakaian adalah keharusan yang kamu harus tunjukan dihadapan mertua. Jangan sampai kata – kata tidak pantas yang biasa kita ucapkan dengan teman sebaya kita malah terlontar saat bertemu mertua.

Hati – hati juga dalam berpakaian karena tidak semua mertua senang melihat calon menantunya berpakaian terlalu terbuka.

Terbiasa dominan dan galak terhadap pacar? Jangan pernah tunjukkan hal ini ketika bertemu mertua. Mereka tidak akan rela anaknya menikah dengan perempuan yang terlihat seperti menindas anaknya.

Kamu harus menjadi wanita yang lembut dengan suami dan selalu menjadi pendengar yang baik dan bukan pembicara yang dominan.

Nah! Apakah kamu sudah memenuhi kriteria – kriteria menantu idaman mertua brides?

Sumber: islamidia.com

 

Cara Menghadapi Mertua yang Mata Duitan

Tidak semua Mertua bisa mengerti kondisi menantunya. Tidak sedikit mertua yang justru memanfaatkan sosok menantunya. Salah satunya adalah dengan meminta jatah duit setiap bulan atau setidaknya ketika butuh dan itu berlangsung begitu sering.

Ada Mertua yang secara terang-terangan meminta kepada menantunya. Tidak ada lagi rasa canggung dalam menyampaikan permintaan jatah tersebut.

Yang lebih halus lagi, meminta dengan cara menyindir atau membandingkan dengan menantu yang lain. Seperti misalnya menceritakan dengan maksud memancing dengan kata seperti ini.

“Mantuku yang satu itu baik sekali. Sering sekali ngasih duit padahal Aku tidak meminta. Senang rasanya punya mantu seperti itu”.

Itu dikatakan dengan sengaja agar menantu yang tidak memberi uang mendengarnya. Tentu saja dengan tujuan agar mengerti apa yang sebenarnya diinginkan Mertua.

Bukan cuma itu, ada juga mertua yang meminta secara langsung tapi dengan alasan seolah sangat butuh. Sayangnya alasan itu tidak pernah terbukti dan terkesan sering terjadi.

Kalau sudah begini, sebagai menantu Kamu tentu tidak akan tega, apalagi jika sepertinya Mertua benar-benar butuh. Tapi jika keadaan Mertua berlebihan, tentu akan berbeda ceritanya.

Jika Kamu punya mertua yang mata duitan, selama mampu dan sanggup untuk terus memberi bukan masalah. Dan tentunya Kamu tidak akan sampai pada artikel ini.

Akan tetapi jika Kamu merasa keberatan jika harus terus memberikan jatah pada Mertua, sebaiknya gunakan cara alternatif dibawah ini untuk menghadapi Mertua yang mata duitan.

Pertama, dan paling penting Kamu harus berunding dengan Pasangan tentang hal ini. Seberapa mampu untuk tetap memberikan jatah pada Mertua. Mungkin perlu sedikit mengurangi jumlah yang sesuai kebutuhan Mertua.

Jika Pasangan mau mengerti tentu saja akan berusaha mencari solusi bersama. Akan tetapi jika tidak bisa, Kamu bisa melakukan cara yang berikutnya.

Kedua, ajak pasangan untuk memiliki suatu tujuan yang bisa dicapai hanya dengan perjuangan menggunakan uang. Berikan motivasi untuk Pasangan agar Dia tahu bahwa uang begitu berharga untuk tujuan tersebut.

Sehingga mau tidak mau, Dia mau membantu untuk memberikan pengertian pada Mertua tentang jatah yang Dia minta.

Ketiga, berunding bersama-sama agar Mertua tidak begitu bergantung dengan Kamu. Dalam hal ini, melibatkan Mertua, Pasangan, Dan tentu saja Kamu sendiri.

Kamu harus bisa meyakinkan Mertua agar Dia tidak terlalu sering atau terlalu banyak meminta jatah. Jika tidak ada alasan kuat, Kamu bisa menggunakan alasan berikutnya jika sudah memiliki anak.

Jadikan anak sebagai tameng. Pendidikan anak, masa depan anak, kebutuhan anak dsb menjadi alasan bagi Kamu untuk tidak memberi jatah uang pada Mertua yang mata duitan.

Yang terakhir, dengan masih tetap membantu dengan bentuk lain. Jika Mertua butuh, rasa tidak tega juga pasti Kamu rasakan.

Akan tetapi mertua yang mata duitan, dengan alasan apapun berusaha meminta jatah jika merasa Kamu sudah tidak bisa memberikan lagi secara rutin. Alasan yang dipakai biasanya suatu kebutuhan mendesak.

Jika karena hal ini tentu saja Kamu tidak bisa begitu saja lepas tangan. Kamu sebagai Menantu pantas untuk membantunya. Dan jika memang Mertua butuh dengan alasan sesuatu, berikan bantuan dengan barang yang Dia butuhkan.

Jangan memberi langsung dalam bentuk uang. Lebih baik Kamu meluangkan waktu untuk mengurusnya, jadi mertua terima beres.

Sehingga dengan begitu, alasan yang dibuat-buat tidak akan berhasil membuat Kamu mengeluarkan jatah yang tidak seharusnya.

Dan untuk jangka panjang, Mertua sadar bahwa alasan apapun tidak akan membuatnya mendapatkan uang yang diinginkan tapi justru bentuk lain yang belum tentu benar-benar Mertua butuhkan.

Itu saja, artikel ini bukan bermaksud untuk mengajari jadi menantu pelit, tapi juga untuk kebaikan bersama. Kalau mampu dan sanggup bukan masalah jika terus memberi jatah pada Mertua mata duitan.

Tapi jika dengan terus memberi jatah justru mengacaukan anggaran dalam Rumah Tangga bersama Pasangan, hal ini perlu dihentikan. Itu saja, semoga bermanfaat.

Sumber: islamidia.com

 

KISAH NYATA: CALON MERTUA MENOLAK JADIKAN MENANTU KARENA DIANGGAP MANDUL, NAMUN SETELAH MENIKAH MALAH LAHIRKAN 3 BAYI KEMBAR

Sebuah kisah nyata yang dulu sempat viral di media sosial. Seorang perempuan yang mendambakan berkeluarga sampai ditolak oleh calon mertua sebab usianya yang telah  diatas 30 tahun. Namun yang terjadi sungguh diluar kuasa kita, Masya Allah.

Aku sudah lulus dari kuliah dan sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus. Lamaran kepada diriku untuk menikah juga mulai berdatangan, akan tetapi aku tidak mendapatkan seorangpun yang bisa membuatku tertarik.

Kemudian kesibukan kerja dan karir memalingkan aku dari segala hal yang lain. Hingga aku sampai berumur 34 tahun. Ketika itulah aku baru menyadari bagaimana susahnya terlambat menikah.

Pada suatu hari datang seorang pemuda meminangku. Usianya lebih tua dariku 2 tahun. Dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Tapi aku ikhlas menerima dirinya apa adanya.

Kami mulai menghitung rencana pernikahan. Dia meminta kepadaku photo copy KTP untuk pengurusan surat-surat pernikahan. Aku segera menyerahkan itu kepadanya.

Setelah berlalu dua hari ibunya menghubungiku melalui telepon. Beliau memintaku untuk bertemu secepat mungkin.

Aku segera menemuinya. Tiba-tiba ia mengeluarkan photo copyan KTPku. Dia bertanya kepadaku apakah tanggal lahirku yang ada di KTP itu benar?

Aku menjawab, Benar.

Lalu ia berkata, Jadi umurmu sudah mendekati usia 40 tahun?

Aku menjawab, usiaku sekarang tepatnya 34 tahun.

Ibunya berkata lagi, Iya, sama saja. Usiamu sudah lewat 30 tahun. Itu artinya kesempatanmu untuk memiliki anak sudah semakin tipis. Sementara aku ingin sekali menimang cucu!

Dia tidak mau diam sampai ia mengakhiri proses pinangan antara diriku dengan anaknya. Masa-masa sulit itu berlalu sampai 6 bulan.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi melaksanakan ibadah umrah bersama ayahku, supaya aku bisa menyiram kesedihan dan kekecewaanku di Baitullah.

Akupun pergi ke Mekah. Aku duduk menangis, berlutut di depan Kabah. Aku memohon kepada Allah supaya diberi jalan terbaik. Setelah selesai shalat, aku melihat seorang perempuan membaca al Qur’an dengan suara yang sangat merdu.

Aku mendengarnya lagi mengulang-ulang ayat: “Dan karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar”, (QS. An Nisa’: 113)

Air mataku menetes dengan derasnya mendengar lantunan ayat itu. Tiba-tiba perempuan itu merangkulku ke pangkuannya.

Dan ia mulai mengulang-ulang firman Allah: “Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas”, (QS. Adh Dhuha: 5)

Demi Allah, seolah-olah aku baru kali itu mendengar ayat itu seumur hidupku. Pengaruhnya luar biasa, jiwaku menjadi tenang. Setelah seluruh ritual umrah selesai, aku kembali ke Cairo.

Di pesawat aku duduk di sebelah kiri ayahku, sementara disebelah kanan beliau duduk seorang pemuda. Sesampainya pesawat di bandara, akupun turun. Di ruang tunggu aku bertemu suami salah seorang temanku.

Kami bertanya kepadanya, dalam rangka apa ia datang ke bandara?

Dia menjawab bahwa ia lagi menunggu kedatangan temannya yang kembali dengan pesawat yang sama dengan yang aku tumpangi.

Hanya beberapa saat, tiba-tiba temannya itu datang. Ternyata ia adalah pemuda yang duduk di kursi sebelah kanan ayahku tadi. Selanjutnya aku berlalu dengan ayahku.

Baru saja aku sampai di rumah dan ganti pakaian, lagi asyik-asyik istirahat, temanku yang suaminya tadi aku temui di bandara meneleponku.

Langsung saja ia mengatakan bahwa teman suaminya yang tadi satu pesawat denganku sangat tertarik kepada diriku. Dia ingin bertemu denganku di rumah temanku tersebut malam itu juga. Alasannya, kebaikan itu perlu disegerakan.

Jantungku berdenyut sangat kencang akibat kejutan yang tidak pernah aku bayangkan ini. Lalu aku meminta pertimbangan ayahku terhadap tawaran suami temanku itu.

Beliau menyemangatiku untuk mendatanginya. Boleh jadi dengan cara itu Allah memberiku jalan keluar.

Akhirnya, aku pun datang berkunjung ke rumah temanku itu. Hanya beberapa hari setelah itu pemuda tadi sudah datang melamarku secara resmi.

Dan hanya satu bulan setengah setelah pertemuan itu kami betul-betul sudah menjadi pasangan suami-istri. Jantungku betul-betul mendenyutkan harapan kebahagiaan.

Kehidupanku berkeluarga dimulai dengan keoptimisan dan kebahagiaan. Aku mendapatkan seorang suami yang betul-betul sesuai dengan harapanku.

Dia seorang yang sangat baik, penuh cinta, lembut, dermawan, punya akhlak yang subhanallah, ditambah lagi keluarganya yang sangat baik dan terhormat.

Namun sudah beberapa bulan berlalu belum juga ada tanda-tanda kehamilan pada diriku. Perasaanku mulai diliputi kecemasan. Apalagi usiaku waktu itu sudah memasuki 36 tahun.

Aku minta kepada suamiku untuk membawaku memeriksakan diri kepada dokter ahli kandungan. Aku khawatir kalau-kalau aku tidak bisa hamil.

Kami pergi untuk periksa ke seorang dokter yang sudah terkenal dan berpengalaman. Dia minta kepadaku untuk cek darah.

Ketika kami menerima hasil cek darah, ia berkata bahwa tidak ada perlunya aku melanjutkan pemeriksaan berikitnya, karena hasilnya sudah jelas. Langsung saja ia mengucapkan “Selamat, anda hamil!”

Hari-hari kehamilanku pun berlalu dengan selamat, sekalipun aku mengalami kesusahan yang lebih dari orang biasanya. Barangkali karena aku hamil di usia yang sudah agak berumur.

Sepanjang kehamilanku, aku tidak punya keinginan mengetahui jenis kelamin anak yang aku kandung. Karena apapun yang dikaruniakan Allah kepadaku semua adalah nikmat dan karunia-Nya.

Setiap kali aku mengadukan bahwa rasanya kandunganku ini terlalu besar, dokter itu menjawab: Itu karena kamu hamil di usia sudah sampai 36 tahun.

Selanjutnya datanglah hari-hari yang ditunggu, hari saatnya melahirkan. Proses persalinan secara caesar berjalan dengan lancar.

Setelah aku sadar, dokter masuk ke kamarku dengan senyuman mengambang di wajahnya sambil bertanya tentang jenis kelamin anak yang aku harapkan.

Aku menjawab bahwa aku hanya mendambakan karunia Allah. Tidak penting bagiku jenis kelaminnya. Laki-laki atau perempuan akan aku sambut dengan beribu syukur.

Aku dikagetkan dengan pernyataannya: “Jadi bagaimana pendapatmu kalau kamu memperoleh Hasan, Husen dan Fatimah sekaligus?”

Aku tidak paham apa gerangan yang ia bicarakan. Dengan penuh penasaran aku bertanya apa yang ia maksudkan?

Lalu ia menjawab sambil menenangkanku supaya jangan kaget dan histeris bahwa Allah telah mengaruniaku 3 orang anak sekaligus. 2 orang laki-laki dan 1 orang perempuan.

Seolah-olah Allah berkeinginan memberiku 3 orang anak sekaligus untuk mengejar ketinggalanku dan ketuaan umurku.

Sebenarnya dokter itu tahu kalau aku mengandung anak kembar 3, tapi ia tidak ingin menyampaikan hal itu kepadaku supaya aku tidak merasa cemas menjalani masa-masa kehamilanku.

Lantas aku menangis sambil mengulang-ulang ayat Allah: “Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas”, (QS. Adh Dhuha: 5)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami…” (QS. Ath Thur: 48)

Bacalah ayat ini penuh tadabbur dan penghayatan, terus berdoalah dengan hati penuh yakin bahwa Allah tidak pernah dan tidak akan pernah menelantarkanmu.

Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari kisah di atas.