Allahuakbar !!!! 19 Narapidana di Abu Dhabi Jadi Mualaf

Sejumlah 457 narapidana dikirim ke Departemen Institusi Lembaga Pemasyarakatan dan Pidana Al Ain oleh kepolisian Abu Dhabi, di Uni Emirat Arab. Dari sejumlah narapidana itu, 19 di antaranya telah memeluk Islam.

Pada Senin (19/2), pejabat Kepolisian Abu Dhabi mengatakan bahwa narapidana dari lembaga pemasyarakatan sangat diuntungkan dari program rehabilitasi tersebut. Tujuan program itu untuk membantu mereka berintegrasi lebih baik ke dalam masyarakat setelah mereka menjalani hukuman.

Polisi juga menambahkan, bahwa 19 narapidana itu masuk Islam selama menjalani rehabilitasi. Dikatakannya, mereka berasal dari berbagai kebangsaan dan latar belakang.

Letnan Kolonel Ali Al Ketbi, Direktur Departemen, mengatakan bahwa program rehabilitasi dan pelatihan meliputi pertukangan, menjahit, melukis dan kerajinan tangan. Program itu ditujukan untuk mengembangkan keterampilan narapidana dan meningkatkan kepercayaan diri mereka setelah menjalani hukuman.

“Program ini juga memberikan pengalaman praktis untuk membantu narapidana mendapatkan pekerjaan di bursa tenaga kerja, dan juga memungkinkan mereka untuk berintegrasi ke dalam masyarakat,” kata Al Ketbi, dilansir dari Khaleej Times, Selasa (20/2).

Produk dan kerajinan tangan yang dibuat oleh narapidana bahkan telah dipajang dan dijual ke konsumen di berbagai gerai dan berbagai acara. Letnan Kolonel Al Ketbi menunjukkan, bahwa pusat rehabilitasi tersebut menyelenggarakan 61.105 kegiatan untuk narapidana tahun lalu. Kegiatan tersebut termasuk program olahraga, kelas budaya dan agama, serta kelas kesadaran kesehatan.

Sumber : republika

Allahuakbar !! Kiai Said Bimbing Pemuda Amerika Serikat Masuk Islam

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk ke sekian kalinya dipercaya membimbing pemuda menjadi muallaf di lantai tiga Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (12/2). Kali ini pemuda yang masuk Islam berkewarganegaraan Amerika Serikat.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menuntun langsung pria yang diketahui bernama Diddens Raymond Dale kelahiran 27 Desember 1972 ini.

Adapun yang menjadi saksi pada prosesi sakral ini Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghani dan H Eman Suryaman.

Turut menyaksikan Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, H Hanief Saha Ghofur, Ketua LAZISNU Syamsul Huda, dan Ketua PP Fatayat NU Anggia Ermarini.

Sesaat sebelum menuntun membaca dua kalimat syahadat. Kiai Said memberi nasihat kepada pria berambut pirang ini.

Menurut Kiai Said, prinsip Agama Islam sederhana, yaitu percaya kepada Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai Nabi Allah.

“Sangat sederhana. Tuhan hanya satu. Tidak punya ibu dan tidak punya anak,” kata Kiai Said.

Seusai menuntun membaca dua kalimat syahadat, Kiai Said memberi nama Islam dengan menambahkan kata ‘Ahmad’, jadi Ahmad Diddens Raymond Dale. Selain itu, Kiai Said juga memberikan Al-Qur’an

Sumber NU ONLINE

Pengakuan Model Cantik Ini Sungguh Mengejutkan Setelah Memeluk Agama Islam

Seorang model cantik yang aktif dalam dunia modelling internasional, Aliza Kim memberi pengakuan setelah dirinya memeluk agama Islam. Gadis kelahiran Oklahoma tersebut begitu bahagia setelah tahun 2011 menyatakan diri menjadi seorang muallaf.

Dilansir dari Siakap Keli (2/5/2016), Aliza mengaku telah meninggalkan semua masa lalunya demi sepenuhnya taat kepada Allah setelah masuk agama islam.

Aliza begitu ingin menjadi wanita muslimah yang seutuhnya dan tidak ada rasa penyesalan sedikit pun karena telah meninggalkan dunia glamor yang ia membuatnya terkenal.

Model yang merupakan lulusan Universitas Colorado ini pun telah meninggalkan minuman keras yang selalu membuatnya mabuk. Ia menuturkan bahwa kini mabuk sudah tidak berguna dan tidak mampu menyelesaikn masalah.

Keputusannya masuk agama Islam dihormati oleh keluarganya. Mereka mendukung sepenuhnya dan bersikap positif. Kenalnya Aliza terhadap Islam juga karena terinspirasi oleh dua ulama kondang yang begitu mengajarkan kesederhanaan dalam islam yakni Mufti Menk dan Sheikh Omar Suleiman.

Semoga Aliza Kim tetap istiqomah dan diberi kemudahan dalam menerapkan nilai-nilai islam dalam kehidupannya.

Sumber: mediasi

Kisah Mengharukan Mualaf Yahudi: ‘Kenapa Kita Ada Disini? Kemana Kita Semua Akan Pergi?’

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Namaku James D. Frankel. Aku akan menceritakan sedikit pengalaman tentang bagaimana aku masuk Islam. Aku seorang professor dalam bidang perbandingan agama, aku juga mengajar kelas Islam di Universitas Hawaii, Manoa. Dan aku tinggal di Hawaii selama 2 tahun, sekarang memasuki tahun ke-3.

Beberapa teman muslim memintaku apakah aku bisa menceritakan pengalamanku. Jadi insya Allah aku dapat melakukannya hari ini dan jika ini bermanfaat bagi siapapun, semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua.

Berasal Dari Keluarga Yahudi
Seperti yang kuberitahu, aku tiba di Hawaii 2 tahun yang lalu. Sebelumnya, aku hidup di kota New York. Aku dilahirkan dan dibesarkan di kota New York, lahir pada tahun 1969, dan tumbuh di Kota Manhattan, juga di Brooklyn selama beberapa tahun hidupku.

Aku mempunyai keluarga dan hidup yang bahagia. Orangtuaku membesarkanku tidak dengan agama manapun, tapi kurasa dengan beberapa nilai-nilai moral dasar. Sebenarnya dilihat dari garis keturunan, latar belakangku adalah Yahudi, tapi aku dibesarkan dalam didikan sekuler.

Tidak banyak praktek agama, dan satu-satunya hubungan yang kudapat dengan agama adalah dari sisi ayahku, dari nenekku. Ibu dari ayahku yang merupakan Yahudi yang taat. Darinya, aku belajar beberapa hal, kisah-kisah Bible, kisah-kisah nabi.

Untuk waktu yang singkat, orangtuaku sebenarnya memasukkanku ke sekolah Ibrani untuk belajar, tapi aku tidak terlalu nyaman di sana dan dikeluarkan karena terlalu banyak bertanya. Jadi mungkin inilah sifatku dan hal inilah yang membawaku kepada keadaanku saat ini.

Komunis di Usia 13 Tahun
Sebagai seorang professor dan muslim, aku terus bertanya banyak hal. Jadi aku tumbuh tanpa pondasi agama apapun, dan hal ini terus berlanjut dalam hidupku sampai aku mencapai remaja, sampai aku berumur 13 tahun aku mengalami sesuatu.

Nomor satu: Aku membaca “The Communist Manifesto”, karangan Karl Max dan memutuskan bahwa aku seorang komunis pada umur 13 tahun. Kupikir nilai-nilainya bagus dan filosofinya berpotensial untuk memberikan manfaat kepada orang banyak. Pada saat itu juga, kurasa inilah pertama kalinya aku berkenalan dengan Islam sejauh yang kuingat.

Diberi Hadiah Al-Qur’an
Teman baikku pada saat itu berasal dari Pakistan. Aku belajar di sekolah internasional, jadi aku punya banyak teman dari berbagai penjuru dunia. Aku punya seorang teman Pakistan yang memberikanku sebuah Al Qur’an. Dia ingin aku membacanya, dia berkata, “Aku tidak ingin kau masuk neraka.” Dan tentu saja pada waktu itu, pemikiran tentang surga dan neraka tidak terlalu kupikirkan. Dan aku mengambil kitab itu dan menaruhnya di rak bukuku. Dan disitulah kitab itu bertahun-tahun tanpa pernah dibaca.

Selalu Berpikir Kritis
Beberapa tahun kemudian kurasa aku merasakan kekecewaan, ketika tahu bagaimana komunisme dipraktekkan dalam banyak negara di dunia, jadi aku membuang filosofi itu juga.

Dan baru ketika aku masuk kuliah aku menanyakan sebuah pertanyaan yang akan menuntunku secara langsung kepada jalan ini. Kurasa sudah dari kecil aku selalu berpikir kritis. Aku selalu ingin tahu makna kehidupan dan pertanyaan-pertanyaan dasar seperti: kenapa kita ada di sini? Kemana kita akan pergi? Kenapa kita menderita? Semua hal itu selalu hadir dalam pikiranku, bahkan ketika aku masih anak-anak.

Kematian Nenek dan Pertanyaan yang Tak Terjawab
Tapi seiring aku tumbuh dewasa dan ketika aku masuk universitas, aku lebih banyak fokus dalam studiku sampai aku mengalami sesuatu. Ingat dengan nenek yang sebelumnya kusebutkan? Ketika aku kuliah, aku tinggal di Washington D.C. Aku mendapat telpon dari sepupuku yang ingin kuliah di Maryland.

Dan ini merupakan sebuah kunjungan bagi kakek-nenekku, bagi bibiku, dan sepupuku yang lain, dan mereka mengajakku makan malam. Dan aku menghabiskan sebagian besar waktu malam hanya berbicara dengan nenekku.

Aku memberitahu tentang rencanaku untuk mulai belajar di Cina yang kulakukan pada saat itu. Aku memberitahu rencanaku untuk kembali ke New York untuk pindah ke Universitas Columbia. Dan aku melihat dia memberikan sebuah pemberkatan pada semua keputusan yang kubuat dalam permulaan hidupku sebagai seorang dewasa.

Pada akhir malam, aku berjalan bersamanya ke mobilnya, dan di tempat parkir dari restoran itu pergelengan kakinya terpelintir, dan dia jatuh terpeleset. Aku bertanya padanya, “Nenek, apakah kau baik-baik saja?”.

Dia berkata, “Jangan khawatirkan aku, khawatirkan saja dirimu.” Aku berpikir, “Oke..” Kemudian aku terus berjalan bersamanya ke mobil, aku membuka pintunya, dia masuk ke dalam, aku mengecupnya dan mengucapkan selamat malam, dan berkata,

“Tampaknya lain kali aku berjumpa denganmu adalah pada Hari Thanksgiving, ketika aku kembali dari New York.” Dia berkata kepadaku, “Jika Tuhan mengizinkan.” Dan aku tidak berpikir banyak pada waktu itu. Aku menutup pintunya dan mobilnya jalan. Sepupuku mengantarku kembali ke asrama dan aku pergi tidur.

Keesokan subuhnya aku mendapatkan telpon dari sepupuku. Aku bertanya mengapa dia menelponku sepagi itu. Dia berkata bahwa nenek sudah meninggal. Aku berkata, “Yang benar?” Kupikir mungkin dia sedang bercanda. Aku berkata, “Apa yang kau bicarakan?”.

Dan dia menjelaskan bahwa nenek mendapat serangan jantung dalam tidurnya. Dan tentu saja kata-kata terakhirnya masih bergema dalam telingaku. Aku berkata, “Sampai jumpa lagi.” Dan dia berkata, “Jika Tuhan mengizinkan.”

Dan aku berkata, “Apakah kau baik-baik saja dan dia berkata, “Jagalah dirimu sendiri.” Jadi sampai hari ini aku masih merasa bahwa kunjungan itu tak terduga dan tentu saja kepergian tak terduga baginya. Dan sampai hari ini aku hanya bisa menerka-nerka apa makna pertemuan dengan nenekku hari itu. Yang seperti kukatakan merupakan satu-satunya hubunganku dengan agama.

Aku kembali ke New York untuk pemakamannya, dan itu adalah pemakaman berdasarkan cara Yahudi tradisional dan rabbi (pendeta Yahudi) yang memberikan eulogi (pujian pada orang yang meninggal) membicarakan tentang nenekku. “Sarah adalah harta karun yang langka”, katanya. “Dia seperti permata dan sekarang Tuhan telah membawa permata ini kembali pada-Nya.” Aku berkata, “Oke, memang itu yang dikatakan seorang rabbi (pendeta Yahudi)”.

Ketika rabbi (pendeta Yahudi) itu datang ke rumah kakekku untuk menghormatinya, aku ingin bertanya beberapa pertanyaan pada rabbi itu. Aku ingin bertanya tentang beberapa praktek yang dilakukan dalam rumah Yahudi pada saat seseorang meninggal, dan dia berkata, “Jangan khawatir tentang hal-hal itu, itu hanya tradisi.”

Aku berkata, “Oke, bagaimana dengan ini? Dalam ceramahmu kau berkata bahwa nenekku… Aku tidak tahu seberapa baik kau mengenal dirinya, tapi kau berkata bahwa dia diambil oleh Tuhan. Jadi dimana dia sekarang? Dan untuk kasus ini, kemana aku akan pergi? Kemana kau akan pergi? Kemana kita semua akan pergi? Kenapa kita ada di sini?”

Dan semua pertanyaan yang ada dalam hati seorang manusia. Dan rabbi itu, aku sangat mengingatnya, dia melihat jam tangannya dan berkata, “Aku harus pergi.” Dan kurasa dia tidak sadar betapa hal itu membuatku marah, dan kurasa dia juga tidak sadar bahwa sejak saat itu dia membuatku menapaki sebuah jalur yang akan menuntunku hingga keadaanku saat ini, karena aku menjadi sangat tertarik dengan pertanyaan itu. Saat itu, aku ingin mencari jawaban pertanyaan itu untuk menghormati memori nenekku.

Mempelajari Berbagai Agama
Aku mencoba mencari komunitas Yahudi yang dapat menjawab pertanyaanku itu. Komunitas yang kutemukan.., pada saat itu aku berumur 18 atau 19 tahun… Komunitas yang kutemukan tidak membuatku puas. Dan aku menanyakan pertanyaan yang sudah berulang kali kutanyakan sejak kecil : “Apakah Tuhan hanya untuk bangsa Yahudi?” Hanya ada 20 juta orang Yahudi di dunia, sedangkan ada milyaran orang lain. Tuhan juga menciptakan mereka, benar kan?

Jadi aku mulai belajar sendiri, aku mulai mempelajari Bible. Dan saat itu musim panas ketika aku berada di Inggris, aku ada di sana untuk magang. Ada beberapa Kristen Evangelis yang menghampiriku untuk berbincang-bincang, dan tentu saja mereka juga ingin agar aku menerima iman mereka.

Aku berpikir, “Oke, kenapa tidak mencoba Kekristenan?” Aku belum pernah benar-benar memikirkannya. Dan ketika membaca Bible, aku mendapatkan rasa cinta yang kuat dan rasa hormat kepada Yesus. Tapi mereka menginginkanku untuk melompat lebih jauh.

Mereka ingin aku menerima Yesus sebagai Tuhanku dan penyelamatku , tapi hal itu tidak bisa kulakukan. Yesus bagiku adalah seperti seorang abang. Yesus bagiku lebih seperti seorang guru. Yesus bagiku adalah seorang Yahudi. Dan aku tidak dapat menerima yang mereka katakan tentang Yesus. Tapi seperti yang kukatakan, aku mendapatkan hubungan yang kuat tentang Yesus. Kupikir, “Oke.., aku tak akan mendapatkan jawaban apapun untuk pertanyaanku.”

Seorang diri, aku juga belajar filosofi ketimuran, Budha. Aku membaca Upasnishads dan aku membaca filosofi barat, khususnya Yunani dan Romawi, filosofi Stoic, tapi tak ada yang benar-benar menjawab pertanyaan mendalam yang kupunya.

Dan pada suatu hari, aku kembali ke New York tepat sebelum perkuliahan semester baru dimulai. Aku berada di Times Square, dan ini pada awal tahun 1990, jadi Times Square sangat berbeda dengan masa sekarang. Saat itu masih agak berantakan.

Di sana ada pecandu narkoba, wanita malam, dan berbagai macam pengkhotbah agama. Dan aku ingat sedang berbicara kepada seseorang aku selalu senang membicarakan agama dengan orang-orang seringkali sebagai seorang skeptis. Dan ada seseorang yang merupakan Yahudi pencinta Yesus. Dia memberitahuku apa yang dia imani, dan aku sudah mendengar hal itu sebelumnya.

Pada dasarnya dia menganut agama Kristen. Dan dia memintaku untuk berdoa bersamanya, tapi aku berkata, “Maaf, aku tidak mengimani apa yang kau imani.” Dia berkata, “Tapi kau beriman pada Tuhan.” Aku berkata, “Kupikir begitu.” Dia berkata, “Kalau begitu, berdoalah bersamaku. Berdoa saja kepada Tuhan.” Dia menempatkan tangannya di bahuku, memejamkan matanya dan mulai bicara kepada Bapa.

Ketika matanya terpejam, aku mulai melihat ke sekeliling, dan di pojok aku melihat seseorang dengan jenggot hitam yang panjang, mengenakan jubah putih (jellabiya), sorban putih. Mereka adalah orang Afrika atau orang Afrika Amerika. Tapi tampaknya mereka baru saja membolak-balik halaman Bible. Mereka terlihat seperti Noah, Abraham, atau seperti itu. Aku berpikir, “Hm… aku seharusnya tidak menilai buku dari sampulnya, dan mengapa tidak bicara dengan mereka?”

Setelah orang Yahudi Kristen itu selesai berdoa, aku menghampiri mereka dan bertanya, siapakah mereka dan apa yang mereka khotbahkan. Mereka memberitahuku bahwa aku mungkin tak akan tertarik mendengarnya. Aku berkata, “Kenapa tidak?” Mereka berkata, “Karena kau adalah iblisnya.” Aku berkata, “Benarkah? Aku iblisnya?” Mereka berkata, “Semua orang kulit putih adalah iblis.”

Dan aku berkata, “Jika aku iblisnya, biarkan aku bertanya satu pertanyaan saja. Jika aku adalah iblis, kenapa aku begitu haus untuk mengenal Tuhan?” Mereka menjelaskan padaku, “Bahkan iblis pun beriman pada Tuhan.” Aku bertanya pada mereka, “Darimana kalian mendapatkan pengetahuan ini?” (Aku sebenarnya tahu, aku pernah membaca sebuah essay di kampus tentang ‘Malcom X and The Nation of Islam’).

Jadi aku paham bahwa mereka mungkin adalah bagian dari grup Black Nationaalist Movement itu. Tapi aku tetap bertanya apa sumber mereka tentang ini yang menyebutkan tentang sifat setanku.

Mereka memberikanku beberapa ayat dari Bible, kurasa dari Injil Daniel. Aku berkata, “Tidak, tidak… Jika aku mau Bible, aku dapat mendapatkannya dari orang Yahudi Kristen itu atau orang Kristen lainnya. Bagaimana dengan kitabmu? Bukankah kalian membaca Al Qur’an?” Mereka berkata, “Ya.” Dan mereka memberiku beberapa ayat untuk dibaca dari surat Al Kahfi.

Membaca Al-Qur’an untuk Pertama Kalinya
Aku membawa pulang kertas berisi catatan tentang ayat itu dan aku langsung menuju ke rak dimana ada Al Qur’an yang diberikan padaku 6 tahun yang lalu oleh temanku, Mansur.

Aku mulai membacanya, aku mencari ayat yang diberitahukan oleh mereka, membacanya, dan tentu saja tidak ada ayat yang mengatakan bahwa aku atau orang kulit putih lainnya adalah iblis. Tapi karena aku sudah terlanjur membacanya, maka aku membalik ke halaman awal, dan aku mulai membacanya. Dan aku membaca, membaca, dan membaca hingga akhirnya aku tertidur dengan kitab itu di tanganku.

Pada hari berikutnya, aku membaca, membaca, dan membaca ketika ada waktu luang. Dan kapanpun aku punya waktu luang, di antara jadwal kelas, ketika pergi ke sekolah memakai kereta bawah tanah New York, aku terus menerus membaca Qur’an.

Qur’an membuat hatiku bergetar dimana kitab lainnya tidak pernah, dan tentu saja Bible tidak bisa membuatku seperti itu. Bahasa Qur’an yang langsung, dan fakta bahwa Tuhan Penguasa Semesta, Sang Pencipta seperti yang dijelaskan oleh kitab itu sendiri.

Dia langsung berbicara denganmu dengan sangat intim dan langsung pada beberapa ayat. Hal itu membuat hatiku bergetar dimana aku tak pernah merasakannya sebelumnya. Dan aku tak dapat memberitahumu dimana atau kapan tepatnya ada waktu ketika aku membacanya terkadang air mataku mengalir membasahi pipiku.

Terkadang ketika aku membacanya, bulu-bulu di tanganku berdiri dan juga di tengkukku. Aku tidak bisa menjelaskan di ayat mana, tapi pada suatu titik aku menyadari bahwa aku sedang membaca firman Tuhan.

Aku Sudah Menjadi Seorang Muslim?
Di sekitar tahun baru pada waktu itu, kurasa Januari tahun 1990, aku bertemu dengan teman-teman semasa SMA. Kami pergi minum kopi dan membicarakan tentang kehidupan masing-masing.

Mereka bertanya kepadaku, “Apa yang kau percayai akhir-akhir ini?” Mereka tahu ketika aku masih komunis, aku mengalami berbagai fase sebagai anak muda, dan mereka tahu bahwa aku adalah orang yang tidak terlalu percaya pada apapun. Jadi mereka bertanya padaku dan aku berkata, “Aku percaya pada Tuhan.”

Mereka berkata, “Benarkah? Tuhan apa?”

Aku berkata, “Hanya ada satu Tuhan”

Dan mereka berkata, “Darimana kau tahu tentang ini?” A

ku berkata, “Aku membacanya dari Qur’an.”

Mereka berkata, “Jadi kau telah membaca Qur’an? Jadi kau benar-benar percaya bahwa ini adalah pesan Tuhan dan Muhammad adalah Rasul Tuhan?”

Aku berkata, “Ya, kurasa begitu.”

Temanku berkata, “Oke, biar kuluruskan hal ini. Kau percaya bahwa hanya ada satu Tuhan dan Muhammad adalah utusan-Nya?”

Aku berkata, “Ya, aku percaya.”

Dia berkata, “Kau seorang muslim.”

Aku tertawa. Aku berkata, “Aku seorang muslim? Kaulah yang Muslim, karena kau dari Pakistan. Aku hanya seseorang yang percaya adanya Tuhan. Itu saja! Kaulah yang Muslim!”.

“Jika kau percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Tuhan Yang Esa, dan Muhammad adalah utusan-Nya, maka kau seorang Muslim.”

Dan aku terkejut mendengarnya. Untuk beberapa hari berikutnya, aku harus berpikir apa artinya itu.

Sendirian Belajar Cara Beribadah Dari Buku
Kemudian aku menghubungi temanku, Mansur, yang memberiku Quran ketika aku berumur 13 tahun. Aku dengar dia bekerja di Universitas Pennsylvania dan berkerja di Muslim Studies Association di sana.

Jadi aku memintanya apakah dia bisa mengirimkan beberapa buku kepadaku. Buku-buku yang memberikan pengenalan tentang Islam dan juga bagaimana kehidupan dan syarat-syarat seorang Muslim.

Dan dia mengirimkanku satu buku yang berjudul “Islam in Focus”. Aku tidak ingat siapa nama pengarangnya sekarang, tapi buku ini menyediakan pengenalan yang baik, tidak hanya pada dasar-dasar iman, tapi juga tentang kelima rukun Islam. Aku belajar caranya sholat, aku belajar mengucapkan syahadat, aku belajar caranya berwudhu.

Semua hal ini dari buku itu. Dan aku mulai sholat, kurasa kau dapat mengatakan aku seorang Muslim yang tetutup karena aku hidup di rumah orangtuaku saat itu dan aku selalu menutup pintunya ketika sholat. Dan bahkan pertama kalinya aku puasa di Bulan Ramadhan, aku melakukannya benar-benar sendirian.

Aku tidak punya komunitas, aku hanya mengira-ngira kapan matahari terbut dan kapan matahari tenggelam, dan makan pada waktu yang diperbolehkan. Jadi pada 6-8 bulan pertama kehidupanku sebagai Muslim, aku benar-benar sendirian dan sumber petunjukku adalah Al Qur’an, dan buku-buku para ulama. Dan itulah kisahku memeluk Islam.

Reaksi Keluarga Saat Mengetahui Keislamanku
Pada suatu titik, aku harus memberitahu keluargaku. Jadi aku harus keluar dari kesendirian ini. Pada suatu malam ketika makan bersama, aku duduk dengan keluargaku dan aku berkata kepada mereka, “Kalian tahu bahwa aku sering membaca Qur’an.”

Mereka berkata, “Ya, kami tahu, kau membawanya kemanapun.” Aku berkata, “Aku benar-benar mengimaninya. Disamping beriman, ada beberapa praktek yang harus dilakukan sebagai bagian dari keimanan itu, yang kuputuskan untuk kuikuti. Jadi kurasa itu menjadikanku seorang Muslim.” Reaksi ibuku sangat kuat.

Dia menangis. Dan kurasa mungkin dia bertanya kepada dirinya sendiri, dia melihat ke ayahku dan berpikir, “Apakah kami melakukan hal yang salah? Bagaimana ini bisa terjadi?” Kurasa reaksi ayahku lebih tenang, dia mungkin berpikir, “Anakku seorang komunis ketika dia berumur 13 tahun, dia menjadi skinhead(sub-budaya Inggris) ketika berumur 16 tahun, dia melewati begitu banyak fase, mungkin ini hanyalah fase lainnya. “ Dan kurasa ayah dan ibuku merencanakan sesuatu.

Mungkin mereka pikir, ini sebuah fase, tapi ini bukan fase yang asal berlalu begitu saja, kupikir begitu. Dan ibuku tampaknya menyadari bahwa aku serius dan tentu reaksinya adalah merasa takut dan menyesal. Dan kurasa ini dapat dimengerti, ketika seseorang punya pandangan terdistorsi yang didasari informasi yang salah atau terbatas. Jadi mereka adalah tantangan yang terberat dalam tahun pertama itu, yaitu mencoba berkomunikasi dengan orang tuaku. Aku harus mengatakan, Alhamdulillah, mereka sangat pengertian dan penyabar dan kami telah saling memahami lebih baik.

Saat itu, mungkin ibuku khawatir kalau-kalau aku akan berubah menjadi seperti monster. Tapi aku berusaha meyakinkannya bahwa sejak masuk Islam, aku menjadi pelajar yang lebih baik. Kurasa aku menjadi anak yang lebih baik. Kalian tahu, aku bukan anak yang buruk sebelum masuk Islam, mungkin bagi sebagian orang.

Belajar dalam jalan ini penting bagi mereka agar dapat memperbaiki diri sendiri. Dalam kasusku, aku berterima kasih pada orangtuaku karena telah memberiku nilai-nilai yang dapat kukenali ketika masuk Islam. Dan sebelumnya aku bukan orang yang buruk dan Insya Allah, Islam telah membuatku menjadi orang yang lebih baik. Jadi jalur setiap orang berbeda-beda, bagaimana cara mereka sampai kesana.

Setiap orang punya cara yang berbeda dalam memahami jalan ini. Bagiku hal ini banyak kaitannya dengan belajar dan mendapatkan ilmu. Kurasa itulah yang menjadi dasar kehidupan. Tujuan dasar Islam adalah untuk mendapatkan pengetahuan. Pengetahuan tentang diri sendiri. Pengetahuan tentang dunia dan jagat raya, dan pengetahuan tentang hubungan kita dengan Allah. Jadi ini mendorongku ke dalam karirku. Aku tidak tahu apakah aku akan menjadi professor sekarang, jika tidak menjadi Muslim. Aku tidak mengatakan bahwa semua orang harus menjadi professor, tapi bagiku ini adalah perjalanan yang panjang dari belajar dan sekarang mengajar.

Hikmah 20 Tahun Dalam Islam
Seiring berjalannya waktu, aku juga menghormati agama lain juga, yang kupikir takkan kudapat jika aku tidak menempuh jalan Islam ini. Kupikir sesuatu yang harus dimasukkan hati oleh Muslim yang baru adalah: ketika seseorang menjadi Muslim, orang itu tidak menjadi orang yang berbeda. Rasulullah SAW bersabda bahwa orang-orang membawa sesuatu yang mereka miliki sebelumnya ke dalam Islam.

Jadi bahkan di antara sahabat-sahabatnya, ada beberapa orang yang punya bakat khusus atau tantangan, dan hal-hal inilah yang harus mereka terus jalani setelah menapaki jalan ini. Jadi begitu juga, kurasa hal ini benar bagiku, ada banyak tantangan dan hidup terus memberikan tantangan. Ini hanya membutuhkan kesabaran.

Bagiku ini adalah perjalanan yang sudah hampir 20 tahun. Hanya Allah yang tahu bagaimana dan kapan akan berakhir. Jadi nasihatku kepada Muslim yang baru atau bahkan kepada orang-orang yang sudah menjadi Muslim sejak waktu yang lama adalah tetap bersabar, dan lihatlah apa yang Allah sediakan yang akan mengejutkan kalian. Bukan dengan rasa takut, namun dengan cinta dan harapan.

Jika ada non-Muslim yang mendengarku hari ini, kurasa kau berhutang pada dirimu sendiri untuk mengetahui sebanyak yang kau bisa tentang dunia di sekelilingmu. Islam dipastikan ada di dunia, ini tak terhindarkan, di berita, dan di lingkungan sekitar kita. Dan jika kau tidak mengenal Muslim manapun, mungkin kau akan mengenalnya pada suatu waktu.

Sumber: syahida

Masuk Islam, Alasan Politisi Jerman Ini Bikin Tercengang

Berlin – Politisi dari Partai Alternative for Germany (AfD) mengejutkan rekan-rekannya dengan keputusannya masuk Islam. Arthur Wagner juga menjadi berita utama di seluruh dunia setelah diketahui ia menjadi muallaf.

Wagner mengatakan alasannya masuk Islam karena tidak senang dengan keputusan gereja untuk menerima pernikahan gay. Pria berusia 48 tahun itu telah mengubah namanya menjadi Ahmad.

“Salah satu alasannya adalah bagaimana gereja telah berubah, yang saya tidak mengerti lagi,” kata Wagner dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Bild. Ia sebelumnya adalah seorang Kristen yang taat dan anggota gereja Protestan setempat.

“Ini sikap mereka terhadap AfD, terhadap pernikahan gay,” katanya. Dia juga mengatakan bahwa dia tidak senang karena pendeta Protestan telah mengikuti parade gay di Berlin. “Dengan anak-anak di sana! Itu tidak benar,” tegasnya.

Sebagai informasi, partai yang diikutinya menjadi partai nasionalis pertama yang memenangkan kursi di parlemen Jerman pada tahun lalu. AfD dikenal menyuarakan kampanye anti-Muslim yang terbuka. Salah satu slogan yang diusungnya adalah “Islam tidak memiliki tempat di Jerman.”

Wagner mengatakan dirinya ingin tetap berada di dalam partai tersebut dan membangun jembatan antara Muslim Jerman dengan masyarakat arus utama.

Ini bukan pertama kalinya seorang politisi anti-Islam beralih ke agama yang dia lawan setelah mengetahui kemuliaan Islam.

Pada tahun 2012, Arnoud van Doorn dari Partai Kebebasan Belanda (PVV) yang dikenal anti-Islam, mengumumkan keislamannya. Putra tertuanya, Iskander Amien De Vries juga masuk Islam.

“Saya melihat ayah saya menjadi lebih damai setelah masuk Islam. Saat itulah saya menyadari ada sesuatu yang baik dalam agama ini dan itu membuat saya mengubah persepsi saya tentang umat Islam. Saya mulai belajar Al-Quran,” kata De Vries mengungkapkan alasannya.

Sumber: Telegraph, Ilmfeed
Redaktur: Ibas Fuadi

Sumber : kiblat

Mata Berkaca-Kaca, Mualaf Pierre : Ya Allah Ambil yang Allah Mau dari Saya, Asal Jangan ….

Seorang Mualaf bernama Pierre Reynaldi menceritakan perjalanan hidupnya hingga akhirnya ikrar Syahadat dan memeluk agama Islam.

Piere menegaskan bahwa keputusan dirinya memeluk agama Islam adalah keputusan yang bulat tanpa ada keraguan. Berkat Islam, Piere mengaku terselematkan dari pergaulan bebas dan narkoba.
“Yaa Allah Ambil deh, ambil yang Allah mau dari saya. Keluarga saya, pekerjaan, temen, saya ga masalah, saya ga peduli. Cuman satu jangan KeIslaman saya yang Engkau ambil. Saya ga punya apa-apa kalau ga punya Islam, Islam selamatkan hidup saya, Islam merubah hidup saya 360 derajat. Mungkin kalau ga ada Islam, saya ga tau saya jadi apa. Mungkin bisa mati karena pergaulan bebas, mati karena narkoba. Saya ga mau mati dalam keadaan kafir” papar Piere dengan mata berkaca-kaca.

Berikut ini video lengkapnya wawancara Piere dengan channel youtube Vertizone TV, yang dipublikasikan senin 12 Februari 2018.

Sumber : Islamedia

Masuk Islam, Guru Sekolah Minggu Gereja Ini Punggungnya Dicambuki Sampai Luka-luka oleh Keluarganya

Pria ini bernama Ustadz Muhammad Yusuf Hidayat, ketika masih Kristen bernama Julius Suwars. Sebelum berhijrah kedalam Islam, profesinya sebagai Guru Sekolah Minggu di salah satu gereja terbesar didaerahnya yaitu GKS Mata Waita Bula, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.

Setelah melalui proses perenungan yang panjang, akhirnya Julius mengucapkan kalimat Syahadat untuk menjadi seorang Muslim. Ikrar Syahadat yang diucapkanya bukanlah akhir dari perjalananya, namun sebaliknya adalah awal dari perjuanganya.

Proses masuknya Ustadz Yusuf ini tidaklah mudah, sangat berat ujianya mirip apa yang dialami Sahabat Rosulullah Bilal bin Rabbah.

Dalam mempertahankan hidayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala Julius pernah merasakan punggungnya dicambuki sampai luka-luka dan bernanah oleh keluarganya, tidak dirawat dan dibiarkan bahkan kemudian di masukkan penjara karena berhijrah kedalam islam.

Alhamdulillah beliau sekarang menjadi Guru Membaca Al-Qur’an dan Bahasa Arab, Dan sedang mempraktekkan pelajaran yang didapat dari menempuh pendidikan Islam di Lembaga Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) di Jakarta.

Saat ini aktivitas keseharianya memberikan bimbingan kepada para Muallaf dan juga seluruh Umat Islam yang ingin mempelajari Islam lebih dekat.

Ustadz Yusuf tidak pernah memberikan tarif alias GRATIS, kepada siapa saja yang mau belajar membaca Al-Qur’an atau Bahasa Arab. Berlokasi di Musholla Nurul Huda, Penrose Cluster, Jalan Ratna Mediterania Regency Cikunir, Bekasi.

Sumber : Muallaf Centre Indonesia

Pertanyaan : Masa Tuhan Bisa Mati?, Membuat Pria Katholik Ini Masuk Islam

Anthony Vatswaf Galvin Green lahir dari ibu penganut Katolik Roma yang taat dan ayah seorang agnostik, Anthony dibesarkan sebagai seorang Katolik Roma yang taat. Ayahnya seorang administrator kolonilal kerajaan Inggris. Kini, kerajaan yang terbentang begitu luasnya lebih dari sepertiga permukaan bumi itu telah hancur. Satu-satunya yang tersisa adalah beberapa pulau di Falklands. Begitu banyak hal yang berubah, termasuk Antony, bahkan namanya kini berubah mnejadi Abdur raheem Green.

“Semua itu pelajaran dari Allah. Ia memberitahu kita dalam Alquran untuk berjalan di bumi dan melihat konsekuensinya”, katanya.

Rasa bersalah dari sang ibu yang menikah dengan seorang agnostik, membuat ibu Anthony berambisi menjadikannya menjadi seorang penganut Katolik Roma yang taat. Anthony (10) dan sang adik, Duncan (8) disekolahkan di asrama biara. Setiap hari ia hidup bersama para biarawan di Ampleforth College, di Yorkshire, Inggris Utara.

“Seharusnya ibu juga menikah dengan seorang Katholik, tapi karena ibu menikah dengan ayah yang agnostik, ia merasa menjadi seorang penganut Katolik yang buruk. Maka, ia ingin menjadikanku seorang Katolik yang taat,” ujarnya. Sang ibu menganggap dengan bersekolah di asrama akan membuat Anthony menjadi penganut Katolik yang taat.

Saat Anthony berumur sembilan tahun, sang ibu mengajarinya sebuah doa yang biasa diucapkan oleh umat Katholik. Doa itu dimulai dengan kalimat “Salam maria, ibu Tuhan”. Namun, kalimat itu membuat Anthony sangat tidak nyama. Bahkan dalam usianya yang baru sembilan tahun, kalimat itu seperti pukulan pertama, mendengar ibu berkata salam maria ibu Allah

“Aku kemudian bertanya pada diri sendiri bagaimana Tuhan bisa memiliki ibu?,” katanya. Ia berpikir Tuhan seharusnya tanpa awal dan tanpa akhir. Bagaimana bisa Tuhan memiliki seorang ibu? Anthony kecil kemudian mengambil kesimpulan “jika Maria adalah ibu Tuhan, maka pasti Maria menjadi Tuhan lebih baik daripada Yesus”.

Belum lagi soal pelajaran di sekolahnya yang semakin membuatnya galau. Di sekolah, dalam satu kali setahun selalu ada pengakuan dosa kepada pastor. “Kamu harus mengakui semua dosa, jika tidak maka pengakuan dosa-dosamu tidak akan diampuni,” begitu kata pastur.

Ia mulai berpikir kritis, bagaimana mungkin mengakui dosa kepada seorang pastor. Apalagi menagakui dosa terhadap orang-orang yang notabene tinggal bersama dalam satu asrama. “Dengan kata lain mereka yang bertanggung jawab dari kita?,” begitu pikirnya. Ia mengasumsikan pengakuian ini sebagai adalah konspirasi besar dalam rangka untuk mengontrol orang dengan modus mengakui dosa.

“Mengapa saya harus pergi ke Anda untuk mengakui dosa-dosa saya? Mengapa saya tidak bisa meminta Tuhan untuk mengampuni saya?”, katanya kepada pastor. Pastor itu menjawab bisa saja meminta ampun secara langsung kepada Tuhan, tapi tak ada jaminan Tuhan mendengan pengampunan dosanya.

Ia merasakan keimanannya semakin ‘ada dalam masalah’. Pikirannya mulai liar, ia bahkan memiliki ide “Tuhan menjadi manusia”.

Masyarakat barat selalu berpikir jika ingin bahagia dan menikmati hidup, maka hanya ada satu jalan yaitu memiliki banyak uang. Dengan uang dapat membeli mobil bagus dan TV, pergi ke bioskop dan bisa membeli semua hal yang dibutuhkan untuk hidup. Pada kenyataannya Anthony sama sekali tidak merasakan hal itu.

Pikirannya mulai terbuka. Ia sering bertanya mengapa harus sekolah di asrama, jauh dari siapapun dan dimanapun. Saat berusia sebelas tahun, sang ayah dipindah tugaskan ke Mesir. Ayahnya menjadi General Manager Barclays Bank di Kairo. Hampir selama sepuluh tahun, ia selalu menghabiskan waktu liburan di Mesir. Sekolah di London, dan liburan di Mesir.

Ia mulai jatuh cinta pada Mesir. Saat kembali ke sekolah seusai liburan, ia bertanya untuk apa kembali ke asrama Yorkshire Moor, ia merasa tak menyukai tempat itu. “Saya mulai bertanya pada diri sendiri mengapa saya ada, apa tujuan hidup saya,hidup ini untuk apa? Apa itu cinta?”.

Ia pun mulai mempertanyakan hakikat hidup. ia menjawab sendiri pertanyaannya. “Aku sekolah disini dalam rangka belajar untuk mendapatkan hasil yang terbaik, agar bisa pergi ke universitas yang baik. Setelah itu dapat gelar, dapat pekerjaan yang membuat saya punya banyak uang. Jadi, kalau saya punya anak, bisa mengirim anak ke sekolah yang mahal,” begitu pikirnya. Tapi ia masih menanyakan untuk apa semua itu, ia tak yakin apa yang dipikirkannya adalah alasan untuk hidup yang sebenarnya.

Ia lantas mulai mencari jawaban, memulai pecarian. Pencarian itu barangkali bisa ditemukan melalui agama lain yang mungkin bisa memberikan pemahaman tentang tujuan hidup.

Sepuluh tahun waktu yang di ia habiskan di Mesir. Ada satu masa saat ia berumur 19 tahun berbincang tentang Islam dengan seseorang. Ia memang meragukan Katholik sebagai agamanya. Tapi saat itu siapapun yang mempertanyakan agamanya itu, ia akan tetap membela keimanannya. Ia merasakan ini sebagai sebuah paradoks yang aneh.

“Aku berbincang dnegan orang itu selama 40 menit. Pemuda itu memintaku menjawab beberapa pertanyaan darinya,” katanya.

Si Pemuda menanyakan “apakah kau mempercayai Yesus?”, Anthoni menjawab “ya”. Pemuda itu kemudian bertanya lagi, “apakah kamu percaya Yesus mati disalib”, Anthoni kembali menjawab “ya”.

Sebuah pukulan telak, seperti mendapatkan tinju dari Mike Tyson ketika mendnegar si pemuda mengatakan “jadi kamu percaya Tuhan mati?”.

Seketika Anthony terperangah, menyadari sebuah ironi. Sambil mengakui kebodohan dirinya, ia menjawab, “tentu saja saya tidak percaya Tuhan mati. Manusia tidak bisa membunuh Tuhan,” kata Anthony.

“Saya lalu berpikir itu sebagai suatu hal yang menarik,” ujarnya.

Lupakan Agama, Lebih Baik Cari Uang

Ternyata ada satu masa pula dalam hidupnya ketika Anthony tak ingin berpikir lagi tentang agama. “Saya merokok dan minum kopi, tapi pertemuan dengan pemuda di Mesir menjadi titik balik dalam kehidupan saya,” katanya.

Sebelumnya saya tak pernah bermimpi bahkan memikirkan tentang Islam. Saya mulai berkata pada diri sendiri untuk melupakan soal agama, soal spiritualitas. “saya berpikir mungkin tak ada lagi kebahagiaan selain menjadi kaya,” ujarnya. Anthony kemudian bercita-cita bisa naik kapal pesiar atau pesawat jet pribadi agar bisa bahagia.

Ia berpikir bagaimana menghasilkan uang tapi hanya sedikit usaha. “Siapa yg ingin mengabiskan banyak waktu untuk bekerja?” pikirnya. Ia mengingat orang Inggris yang memiliki banyak uang tapi mereka bekerja terlalu keras, bahkan sampai terjadi revolusi industri. Orang Amerikapun harus berjuang keras untuk menjadi kaya. Orang Jepang pun dikenal sebagai penggila kerja.

“Kemudian saya berfikir tentang orang Arab. Mereka duduk di atas unta dan berteriak ‘Allahu Akbar’, tapi mereka kaya,” ujarnya.

Anthony mengira pasti ada sesautu disana. Ia lantas bertanya-tanya apa yang menjadi agama mereka dan kitab suci mereka.

Membaca Alquran

Alquran! Ya, Anthoni merasakan ketertarikan luar biasa untuk membeli Alquran. Ia mengambil terjemahannya. “Aku tak ingin mencari kebenaran. Aku hanya ingin tahu apa isi kitab suci ini,” katanya.

Anthony adalah pembaca yang cukup cepat. Ia membaca Alquran saat berada di kereta api.

Seketika itu pula ia menyimpulkan dan berkata pada diri sendiri, “Jika saya pernah membaca buku yang berasal dari Tuhan, maka ini dia bukunya.”

Ia menyakini Alquran itu berasal dari Allah. Ketika menyadari itu ia mulai bergerak lebih jauh, tak hanya membaca Alquran saja, tapi untuk mengamalkannya juga. “Sama saja seperti kita melihat apel yang terlihat harum, kita tak akan pernah tahu rasanya kalau tidak mencicipinya,” katanya.

Tertarik dengan pengamalan Alqurlan ia pun mulai mencoba untuk shalat meski saat itu ia belum resmi mengucap syahadat. Tak tahu bagaimana cara shalat, ia mengingat-ingat bagaimana seseorang yang pernah ia temui di Mesir melakukan shalat. “Saya mengingat seorang lelaki shalat dengan cara yang lebih indah dibandingan saya ketika masih menjadi Katholik,” katanya.

Suatu hari Anthony pergi ke toko buku yang kebetulan berada di dalam masjid. Toko itu memiliki koleksi buku tentang Muhammad dan tata cara shalat. Seorang pria menanyakan apakah ia seorang Muslim. Anthony lantas menjawab, “Apakah saya Muslim, apa yang ia maksud dengan itu? Saya bilang “Ya saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusannya.”

“Ah, bila demikian, anda Muslim. Ini waktunya shalat, mari kita shalat,” ajak si lelaki itu.

Anthony kebetulan datang ke toko buku itu saat hari Jumat. Ia yang tak paham gerakan shalat hanya berusaha shalat dengan gerakan yang ia tahu saja. Masih salah disana-sini. “Setelah itu orang-orang mengelilingi saya dan mengajarkan saya cara shalat yang benar.” Ia merasakan seperti berada di awan. “Rasanya Fantastis.”

Namun butuh dua tahun lagi sebelum akhirnya ia resmi bersyahadat dan menjadi Muslim.

Sumber : Islamedia

Setelah Dialog 2 Jam, Alhamdulillah Pria Asal Medan Ini Ikrar Syahadat di Thamrin City Mall Jakarta

Ketua Mualaf Center Indonesia (MCI) Steven Indra Wibowo memposting sebuah foto orang sedang bersalaman di akun instagramnya. Foto tersebut adalah prosesi ikrar Syahadat yang dilakukan seorang pria asal Medan Sumatera Utara.

Pria bernama Donald tersebut mantab untuk memeluk agama Islam dan Ikrar Syahadat setelah sebelumnya melakukan dialog tentang ke Islaman dengan Pembina MCI Ustadz Romadi.

“Alhamdulillah, atas idzin Allah, tadi siang, setelah berdialog sekitar 2 jam bersyahadat seorang pria asal Medan, berumur 38 Tahun, namanya Sabar Donal P” tulis Steven melalui akun IG nye @steven.indra.wibowo, senin (12/2/2018).

Donald mengucapkan kalimat Syahadat di GEMASMART Thamrin City Mall Jakarta pusat dengan dibimbing langsung oleh Ustadz Romadi yang juga koordinator Gemas Gerakan Membersihkan Masjid.

“Beliau mengucapkan 2 kalimat Syahadat di GEMASMART, Thamrin CityMall lt 3A Blok H20-03 bersama salah satu pembina Mualaf Center Indonesia, pakdhe Romadi (cek mualaf.com/pembina) yang juga koordinator Gemas (Gerakan Membersihkan Masjid). Semoga iatiqomah dan menjadi muslim yang kaffah” tulis Steven lebih lanjut.

Sumber : Islamedia

Kapten dan 37 Prajurit Korea Memutuskan Masuk Islam, Alasannya Mengejutkan

Kapten San Jin-Gu adalah salah satu komandan Brigade-11 SF, pasukan perdamaian PBB dari Korea Selatan yang ditugaskan di Irak. Ini kejadian lama memang.

Kapten San dan pasukannya bertugas di wilayah Irbil, Irak Utara. Saat bertugas di wilayah tersebut, ia sering mengamati orang-orang muslim sholat berjamaah di masjid, kebetulan markas pasukannya berada dekat masjid.

Ia sangat tertegun dengan gerakan-gerakan sholat. Karena dihinggapi rasa penasaran, ia mencoba menirukan seluruh gerakan sholat dan dipraktikkan di kamarnya sendirian. Pada saat mempraktekan itulah ia merasakan ada ketenangan, dan perasaan damai dalam hatinya.

Itulah sebabnya, gerakan-gerakan sholat tersebut kemudian ia jadikan program meditasi di pasukan yang ia pimpin (di samping Yoga).

Dan ternyata sebagian besar prajurit setelah mempraktikkan gerakan-gerakan sholat tersebut merasakan hal yang sama, mereka juga merasa lebih tenang dan damai.

Sejak itu Kapten San berinisiatif mempelajari Islam untuk mengenalnya lebih dalam lagi, dan akhirnya ia memutuskan untuk memeluk Islam.

Ketika niatnya ingin memeluk Islam disampaikan kepada prajurit-prajuritnya, ia berkata: “Aku telah menemukan cahaya kehidupan yang sesungguhnya, aku ingin berada dalam cahaya itu, dan cahaya itu adalah Islam”.

Tanpa ia duga, secara spontan 37 prajurit yang ia pimpin mengangkat tangan mereka, sebagai tanda ikut bersama komandannya – untuk juga memeluk Islam.

Sumber: portalislami.net